Menata kembali rumah kami pasca bencana ekologis

Hagoe's Village: Jan, 14th 2026
Hari ini adalah hari ketiga istriku diopname di Rumah Sakit MMC Cunda-Lhokseumawe karena mengalami sakit dan membutuhkan perawatan intensif.
Sedangkan tempat kediaman kami itu berada cukup jauh, sekitar 30 kilometer dari lokasi rumah sakit tersebut atau sekitar hampir satu jam perjalanan.
Kondisi demikian menjadi sebuah kondisi dilematis bagi kami, karena harus ada yang menemani istriku opname di rumah sakit, dan disisi lain si kecil Alvira harus tetap sekolah dan mengaji.
Akhirnya kami pun berbagi tugas, dimana istriku yang sedang diopname di rumah sakit akan ditemani oleh anak sulung kami, dan aku akan mengawal aktivitas si kecil Alvira di rumah kami.
Si kecil berangkat ke sekolahPagi-pagi aku sudah bangun untuk menunaikan sholat subuh, dan kemudian menelpon istriku yang sedang berada di Rumah Sakit MMC Cunda-Lhokseumawe untuk mengetahui kondisi dan perkembangannya.
Alhamdulillah kondisi istriku sudah jauh membaik, hanya saja dia harus menuntaskan proses pengobatannya, dan mungkin baru dibolehkan pulang oleh dokter pada hari Jum'at besok.
Aku membangunkan si kecil Alvira dan kemudian mempersiapkan perlengkapan serta keperluan si kecil agar bisa segera aku antarkan ke sekolahnya.
Pas di depan pintu gerbang sekolahnya, kami membelikan si kecil sarapannya, karena aku belum sempat menyiapkan sarapan untuknya di rumah.
Kemudian aku segera kembali ke rumah untuk melanjutkan kegiatanku di hari ini.
Kopi espresso untuk sarapanKetika tiba di rumah, aku segera ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Aku merebus telur ayam, menggoreng tahu dan membuatkan kopi espresso panas tanpa gula buat sarapanku.
Sarapan ku memang tidak ribet dan sederhana saja. Yang penting kebutuhan giziku terpenuhi dan aku tetap bisa melaksanakan aktivitas dengan optimal setiap hari.
Beberapa hari yang lalu memang aku sempat sakit karena kelelahan membereskan rumah kami, rumah ibuku dan rumah mertuaku yang sama-sama terdampak oleh bencana ekologis yang terjadi pada bulan November tahun lalu.
Sudah hampir dua bulan bencana tersebut terjadi, kami masih disibukkan dengan kegiatan membereskan "dampak" dari bencana tersebut, yang seakan terasa tidak ada habisnya.
Kondisi di daerah lain yang terdampak parah, bahkan lebih memprihatinkan. Karena endapan lumpur tebal masih menutupi dan menggenangi kampung serta rumah-rumah warga.
Banyak diantara mereka masih berada di tempat pengungsian dan tenda-tenda yang mereka buat sendiri ataupun yang dibuatkan oleh relawan kemanusiaan maupun pihak pemerintah.
Kondisi cuaca di musim penghujan membuat mereka cukup kewalahan tidur di bawah tenda-tenda, dimana banyak juga diantaranya adalah orang lanjut usia atau memiliki anak balita.
Aku bersyukur kondisi kami masih lebih baik dibandingkan saudara-saudara kita yang masih berada di tempat pengungsian, meskipun kami juga cukup kewalahan dan mengalami sakit juga.
Dan karena masih dalan proses recovery setelah mengalami sakit beberapa hari yang lalu, aku harus berhati-hati untuk memilih menu makanan agar aku tidak kembali sakit.
Aku mulai mencoba untuk kembali minum kopi espresso yang aku buatkan sendiri dengan menggunakan alat sederhana (French press), dan berharap itu tidak akan membuat lambungku kumat.
Sejauh ini memang masih aman. Dan aku masih minum kopi sehari sekali saja di waktu sarapan pagi sambil melihat perkembangan.
Menu MBG si kecilAku sarapan pagi dengan menu yang kubuatkan sendiri di rumah, dan kemudian mulai menyiapkan postinganku untuk hari ini.
Dan sekitar pukul 11 siang aku menjemput si kecil Alvira di sekolahnya karena jam pulang sekolah sudah tiba.
Si kecil Alvira membawa pulang menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) dari sekolahnya, karena dia tidak memakan menu tersebut di sekolahnya.
Aku sedikit "terganggu" melihat pemandangan ini dan mungkin juga banyak orang lainnya, dimana pada prakteknya menu makanan yang disediakan ini terkadang jauh dari kata bergizi sebagaimana nama program dan tujuannya.
Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) ini adalah salahsatu janji kampanye presiden Prabowo, dan tentu ada niat baik disana untuk memberi makan bagi anak-anak Indonesia.
Meskipun ini masih "debatable" terkait visibilitas pelaksanaannya, karena program ini memerlukan dana yang cukup besar serta tingkat kesulitan yang cukup signifikan pada tahap pelaksanaannya.
Program Makanan Bergizi Gratis ini menggunakan APBN, dan untuk tahun 2026 saja mencapai Rp 335 triliun rupiah, yang menggunakan hampir 30% dari total anggaran pendidikan nasional yang 20% dari keseluruhan APBN.
Jumlah anggaran ini cukup besar sehingga bila tidak tepat sasaran atau terjadi banyak kebocoran pada tahap pelaksanaannya, hal ini sangat merugikan rakyat Indonesia.
Realitasnya masih banyak kekurangan dan berbagai masalah dalam pelaksanaan di lapangan, dimana kalau kita lihat kualitas makanan yang disediakan oleh pihak SPPG sebagai pelaksana itu masih jauh dari kata "Bergizi" itu sendiri.
Belum lagi masih ada kejadian keracunan makanan yang dialami oleh anak-anak sekolah setelah menyantap menu MBG tersebut, yang memerlukan perhatian khusus dari pemerintah.
Niat baik saja tidak cukup. Itu harus visible untuk dilaksanakan di lapangan, dan sesuai dengan kemampuan fiskal negara. Dan tentu harus ada kajian komprehensif dan menggunakan skala prioritas sehingga tidak terkesan hanya program populis saja.
Bantuan banjirSiang ini ada kedatangan pihak Muspida ke desa kami yang membawa bantuan banjir, karena desa kami merupakan salahsatu desa yang ikut terdampak bencana ekologis beberapa waktu yang lalu.
Paket bantuan ini kemudian dibagi-bagikan kepada warga desa kami, yang hanya terdiri dari sehelai selimut, dua kaleng kecil sarden, beras 5 kilogram, sebungkus roti dan kecap serta saos masing-masing satu botol kecil.
Bantuan banjir sejumlah ini cocoknya adalah bantuan darurat saat banjir terjadi, dan hanya cukup dimakan satu hari (kecuali beras, kecap dan saos), tetapi ini sudah hampir dua bulan. Entahlah....! 🤷
Melakukan autentikasi aplikasi CoretaxSiang ini kami makan siang di rumah ibuku, karena tidak ada yang memasak di rumah. Dan setelah makan siang serta melaksanakan sholat Zuhur, aku hanya istirahat saja di rumah sambil memfasilitasi kepala desa dan staf kantor camat dalan penginputan data jumlah ternak mati akibat banjir beberapa waktu yang lalu, melalui WhatsApp, meskipun saat ini aku sedang cuti.
Kemudian aku mencoba melakukan autentikasi akun Coretax sebagai warga negara yang taat aturan.
Coretax adalah sistem administrasi perpajakan digital terbaru dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Indonesia, yang dibuat untuk memodernisasi dan menyederhanakan seluruh proses kewajiban perpajakan wajib pajak, mulai dari pendaftaran, pelaporan SPT, pembayaran, hingga pemeriksaan.
Sistem ini dibuat untuk meningkatkan kepatuhan para wajib pajak, dan tentu akan meningkatkan pendapatan negara melalui sektor pajak, yang nantinya akan digunakan sebagai sumber pendanaan pembangunan.
Sebagai warga negara yang baik kita harus taat aturan dan membayar pajak, meskipun kita juga sering bertanya apakah pajak yang kita bayar selama ini benar-benar digunakan untuk pembangunan atau malah banyak terjadi kebocoran dan menjadi ladang korupsi?
Yang pasti tingkat kesenjangan antara elit dengan rakyat kebanyakan masih cukup tinggi, saat ini. Belum lagi masih banyak kita temui prilaku Flexing oleh keluarga pejabat di media sosial.
Sementara masih banyak rakyat berada dibawah garis kemiskinan serta angka pengangguran yang cukup tinggi, khususnya Gen Z.
Di rumah adikSetelah selesai sholat ashar di rumah, aku dan si kecil Alvira berencana untuk keluar rumah serta jalan-jalan sore. Dan akhirnya kami singgah di rumah adikku di Keudee Matangkuli.
Saat kami tiba di rumah adikku ternyata dia sedang membereskan halaman belakang rumahnya yang sempat agak terlantar karena berbagai macam alasan.
Aku mengobrol dengan adikku yang sedang membereskan tanaman bunga di halaman belakang rumahnya. Dan dia menawarkan beberapa jenis tanaman bunga untukku.
Jadi gaes, meskipun aku seorang laki-laki tetapi aku punya hobi berkebun dan menanam aneka tanaman termasuk bunga di halaman rumah kami.
Aku mendesain dan membuat taman sendiri di rumah, dan juga beberapa kolam ikan. Sayangnya akibat banjir parah, taman di halaman depan rumah serta kolam ikan koi kami tersebut rusak parah akibat banjir.
Kedepannya, aku akan mencoba menata ulang taman dan rumah kami secara keseluruhan agar bisa fungsional dan tetap estetik. Meskipun aku harus melakukan beberapa perubahan dan penyesuaian dengan kondisi yang ada untuk meminimalisir kerugian akibat banjir yang masih berpotensi terjadi di wilayah kami.
Rencananya aku hanya akan mempertahankan satu dari tiga kolam ikan yang kami miliki, dan akan merubah fungsi dua kolam ikan lainnya serta menerapkan konsep baru tentang halaman depan rumah kami.
Pemilihan jenis tanaman yang akan ku tanam di halaman serta penataannya harus dilakukan penyesuaian dengan kondisi terkini. Mudah-mudahan rencana ini bisa berjalan kedepannya ditengah kesibukan ku sebagai dokter hewan yang bekerja di Pemerintah Kabupaten Aceh Utara sekaligus sebagai seorang suami dan ayah yang harus bertanggungjawab terhadap keluargaku.
Menjelang waktu sholat magrib kami pun pulang ke rumah, karena aku harus melaksanakan sholat magrib dan mengantarkan si kecil Alvira ke tempatnya mengaji.
Sebelum tidur tentu aku melakukan "sleep call" dengan istriku yang sedang berada di rumah sakit untuk memastikan kondisinya semakin progresif agar bisa kembali ke rumah dalam waktu dekat.
Sekian postinganku kali ini. Stay Healthy and Fun, Ciao...!
@ alee75
Click Here 








