Jangan Pernah Menebar Kebencian Kepada Sesama


Kegembiraan itu membuat jiwa menjadi bersemangat, hati menjadi berbunga, menyeimbangkan anggota-anggota tubuh, memberikan kekuatan dan nilai kepada kehidupan, juga memberi manfaat bagi usia seseorang. Jangan sampai kita salah mengartikan kegembiraan sebagai sesuatu hal yang berkaitan dengan kesenangan duniawi yang berlebihan. orang yang bijak pasti tahu bagaimana kegembiraan yang sebenarnya, tertawalah tapi bukan untuk menertawakan kejelekan / penderitaan orang lain, tetapi tertawalah bersama orang-orang yang anda anggap tidak baik itu yang mungkin bisa mengajak dia pada kebaikan atau bersama orang-orang yang menderita itu yang mungkin bisa membantu meringankan penderitaan mereka.
Bergembiralah pula, tetapi bukan bergembira untuk kegagalan seseorang, tetapi bergembiralah dengan orang yang gagal untuk memberi mereka motivasi agar terus bersemangat. ciptakan kegembiraan yang dapat mengubah keindahan kecil menjadi sebuah keindahan yang maha besar yang dapat dirasakan oleh semua orang. Marilah memulai untuk menciptakan kegembiraan yang bermanfaat bagi diri kita sendiri dan orang lain disekitar kita.
Orang yang berjiwa besar selalu punya cara sendiri untuk menata hatinya, meski berlawanan dengan apa yang ia terima dalam hidupnya. Saat ia tengah di uji, air mata boleh menetes, fisik mungkin juga lelah dan pikiran terasa penat, tapi hatinya terilhami untuk meyakini bahwa apa yang diberikan Allah padanya pasti yang Terbaik baginya. Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Begitulah seharusnya yang perlu kita sikapi dalam menghadapai berbagai persoalan yang melanda kita, lebih - lebih dalam menghadapi perkembangan steemit dalam beberapa hari terakhir ini
image source via [google](https://www.maxmanroe.com/bisnis-menebar-kebencian-di-internet.html)Menebar kebencian di dunia maya nyaris sama artinya dengan membunuh secara berdarah dingin di dunia nyata. Korbannya tidak bisa diidentifikasi apakah dalam bentuk harta, korban jiwa, atau akal sehat; juga tidak bisa dipastikan apakah korbannya banyak atau sedikit. Namun yang jelas—secara langsung atau tidak—korban pasti jatuh
Sang waktu tak pernah berhenti; dia menerjang apapun sambil berlari. Hanya di hadapan satu orang dia akan berjalan dengan sopan; yakni di hadapan orang-orang yang sabar. Sang waktu tak pernah berhenti; dia menerjang apapun sambil berlari. Hanya di hadapan satu orang dia akan berjalan dengan sopan sambil memohon permisi sekaligus minta maaf; yakni di hadapan orang-orang yang sabar, pekerja keras dan ta’at kepada Tuhan
Dicengkram usia di atas 50, manusia memang sering merasa aneh sendiri; seperti sering membayangkan kematian. Penyebabnya macam-macam: gerak tubuh yang tidak lagi gesit, rambut-jenggot-misai yang tak lagi semua hitam, kesukaan pada lawan jenis yang bukan lagi karena resam tubuh dan langgam wajah dan kegandrungan pada makanan yang bukan lagi karena warna serta aroma
Alam adalah benda mati yang merupakan bagian dari sebuah rangkaian system yang tak pernah mati, dan dia bekerja dengan lucu dan unik sekali; begitu ada manusia yang sudah menelan kesempatan hidup nyaris melebihi setengah abad, alam mulai sering membisikkan kabar kepulangan, melalui asam urat, darah tinggi, kolesterol, lambung yang resistan terhadap kopi, keinginan berkasih-sayang yang datang dan pulang tanpa siklus, melalui gigi yang tanggal satu-satu
Melalui semua itu alam membisikkan kabar kepulangan, agar ketika kereta datang menjemput, sang calon penumpang tidak terperanjat dan salah tingkah
Dan sejarah itu seperti kisah cinta. Dua hati kasmaran. Masing-masing menghafal kalimat indah selangkah sebelum bersua. Ada rembulan di lidah, ada matahari di hati, sepoi bayu pagi di mata, semua terbungkus puis

***
Lalu datanglah takdir. Cinta berakhir. Sekarang yang satu mencatat dengan muram di atas tulisan cakar ayam. Yang satu lagi malah melupakan diary, melangkah sesuka-suka menikmati hari-hari seraya acap berseru dalam hati, "Merdeka!" Hidup adalah sejarah. Sejarah itu seperti kisah Pilpres Indonesia. Yang satu ingin membuat sejarah baru; yang satu lagi ingin meneruskan langgam rezim Orde Baru. Dua-duanya "baru". Ya, tak apa-apa. Ini Indonesia. Negeri bersama. Tergantung suka-suka warganya. Terserah kita
Salah satu contoh yang terlihat sa'at ini adalah, tak kurang banyaknya orang yang menandai sejarah hidupnya dengan peristiwa-peristiwa kolosal tertentu. Misalnya, “Apakah kamu masih ingat kapan pertama sekali kita berkenalan?” “Kita berkenalan saat keseminggu setelah diterapkannya Darurat Militer.
Di Aceh banyak sekali peristiwa yang dijadikan penanda sejarah bagi perjalanan hidup pribadi warga. Terkadang mereka lebih memilih bersandar pada peristiwa itu dibandingkan menyebut tanggal, bulan dan tahun persisnya. Misalnya, “Kapan anak keduamu lahir?” “Anak keduaku lahir pada saat Tsunami.” Atau, “Kapan kamu berangkat merantau?” “Aku berangkat merantau pada hari Teungku Bantaqiah ditembak.”
Begitulah sejarah dihafal, dihafal seirama menghafal momen-momen penting dalam kehidupan pribadi. Jadi, tak ada alasan untuk lupa


***
***
Posted from my blog with SteemPress : http://arispranata.epizy.com/2018/09/04/jangan-pernah-menebar-kebencian-kepada-sesama/
Congratulations! This post has been upvoted from the communal account, @minnowsupport, by aris from the Minnow Support Project. It's a witness project run by aggroed, ausbitbank, teamsteem, someguy123, neoxian, followbtcnews, and netuoso. The goal is to help Steemit grow by supporting Minnows. Please find us at the Peace, Abundance, and Liberty Network (PALnet) Discord Channel. It's a completely public and open space to all members of the Steemit community who voluntarily choose to be there.
If you would like to delegate to the Minnow Support Project you can do so by clicking on the following links: 50SP, 100SP, 250SP, 500SP, 1000SP, 5000SP.
Be sure to leave at least 50SP undelegated on your account.