Tak menunggu pagi demi durian
Suatu hari temanku datang kerumah dengan mengedor pintu di pagi yang buta, aku tidak mendengar gendor pintu karena aku sangat lelap tidur dan kepala aku tertutup dengan bantal, lalu ibu membangunkan aku dan bilang ada yang cari. Siapa yang cari pagi buta ini, mata agak berat membukanya, melihat jam masih menunjukan pukul 4 pagi. Aku berjalan pelan-pelan keluar untuk memastikan siapa yang memanggil. Woi bangun teriak seseorang dari dekat jendela, ayok kita pergi karena sebentar lagi subuh dan kita tidak mendapatkan lagi karena sudah dipungut oleh orang.
sumber
Kamudia aku buka mata ternyata suara tadi suara si ali anak tetangga kampung, setiap hari minggu dia datang kerumah untuk mencari buah mangga yang jatuh di kebunnya. Nanti habis subuh saja kita pergi dan tidak mungkin ada yang pungut, ucapku dengan nada agak sedikit malas karena masih bawaan ngantuk.
Ini bukan soal mangga saja tetapi ada durian juga, kalau telat kita datang pasti duriannya tidak ada lagi, kamu tahu sendiri kebun ku banyak sekali yang lewat karena dekat dengan kebun orang. Ucap si ali dengan gaya maksa, kalau kamu tidak mau pergi ya sudah dan besok tidak aku ajak lagi.
Si ali menunjukan sikap ngambeknya karena kalau dia sudah ngambek bisa seminggu tidak bicara, bawaan sejak lahir sikap anak manja satu itu dan tidak pernah ada ubahnya. Lalu aku pergi ke kamar mandi nyuci muka dan ganti baju langsung pergi dengan sepeda.
Di dalam perjalan ke kebun ali nanya ada bawa karung dengan wajah yang polos, nanti kalau ada durian tidak sibuk cari karung, dikebun biasanya tidak ada disimpan karung. Aku jawab tidak perlu karung paling satu dapat durian, hampir satu jam kami pergi belum juga kelihatan kebunnya.
Suara ngaji sudah mulai terdengar, bahwa tidak lama lagi subuh, suasana sudah mulai terang dan kamipun sampai dikebun, menyimpan sepeda langsung ke bawah pohon durian, ternyata sangkaan si ali betul bahwa durian banyak jatuh.
Enak sekali duriannya.