Belajar Menulis Fiksi Dari Para Tokoh Dunia

in #indonesia8 years ago (edited)

ilustrasi-hl--07-soeharto--gery-01.jpg

BANYAK TANYA berkelindan dalam kepala adalah alamat baik. Paling baik untuk sesiapa saja yang suka menulis. Kalimat ini pernah kudengar dari seorang penulis tak seberapa beken, tapi tulisannya cukup mencerahkan ketika kubaca, beberapa tahun lalu. Katanya, sewaras-warasnya cara menjawab segala tanya yang mengapung di kepala adalah dengan menuliskannya.

Apa pasal? Sebab yang namanya pertanyaan timbul di kepala sendiri, sudah barang tentu yang menjawabnya adalah dirimu sendiri. Jika kau jawab dengan cara bercakap-cakap, itu alamat timbulnya prasangka orang. Kau dilihat berbicara sendiri, maka mana ada prasangka lain yang terpikirkan oleh orang kecuali anggapan gila.

images (1).jpeg

Maka untuk menjauhkan kau dari sangkaan buruk tak perlu, ya menulis sajalah. Begitu kira-kira penjelasannya saat itu. Aku mengangguk-angguk kepala saja, tanda setuju. Tapi persoalannya, bagaimana caranya biar kepala dipenuhi banyak cara? Tanyaku pada si penulis tak terkenal itu.

Menurutnya itu soalan gampang. Salah satu cara paling memungkinkan adalah dengan sering-sering mencampuri urusan orang, seolah-olah urusan itu persoalanmu sendiri. Tapi urusan orang yang bagaimana paling cocok untuk kau campuri? Jangan tanggung-tanggung kalau sudah sampai di sini. Pilihlah urusan-urusan kepunyaan orang-orang besar. Terangnya dengan cara bertanya sekaligus memberi jawabannya.

Semisal, apa merk celana dalam paling disukai seorang Suharto? Berapa kalikah seorang Pol Pot pernah mencret semasa hidupnya? Atau bagaimana suara dan bau kentut seorang George Bush? Jika benar seorang George W Bush kidal, apakah ia cebok dengan tangan kanannya? Atau apakah Snouck Hurgronje pernah dipotong kulit ujung penisnya?

christiaan_snouck_hurgronje.jpg

Dengan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tak pernah terpikirkan oleh para tokoh itu sendiri. Kau tinggal berandai-andai dan tentu saja hasilnya bisa kemukakan dalam tulisan. Dari situ kau eksplor lagi beragam urusan-urusan orang lain. Tapi seperti kukata di atas tadi, baiknya yang kau campuri itu adalah urusan-urusan remeh temeh. Jangan yang berat-berat. Selain bisa bikin pusing kepala, salah-salah mikir kau benaran jadi gila nantinya.

Namun hal yang mesti diingat, bahan-bahan tulisan berdasarkan pikiran tak jelas juntrungan itu baiknya kau siapkan untuk menulis fiksi saja. Sebab dengan fiksi, kau bebas mau melemparkan sempak Suharto kemana. Kau bebas pula sekira mau menuduh, pernah sekali waktu George Bush kentut tapi yang keluar adalah induk semangnya. Dan itu pun terjadi ketika ia tengah menantang perang dengan Saddam Husein.

Mendengar kiat-kiat menulis yang diterangkan guru menulis dadakan itu semangatku bertambah. Setidaknya untuk waktu itu. Ditambah pula dengan penjelasan lanjutannya yang mengatakan, dalam menulis, apalagi fiksi, pergunakanlah pikiran seliar mungkin. Jangan beri batasan-batasan tak perlu bagi liarnya pikiran. Jika memungkinkan, kenapa tidak, kau mengamsalkan kepala yang kau punya tak ubahnya hutan rimba. Tempat segala yang liar-liar beranak pinak. Dan menulislah dengan riang gembira.

Kenapa harus menulis dengan riang gembira? Kenapa mesti memisalkan kepala semisal hutan rimba? Kenapa harus mencampuri urusan remeh temeh orang-orang besar? Kenapa ini? Itu? Nganu? Aduh. Pikiran kau langsung jalan rupanya. Jangan terlalu menggebu-gebu. Santai saja.


Image Source: 1, 2, 3

Sort:  

Ini panduan menulis fiksi paling bergaya fiktif yang pernah kubaca. Krak!...