Kisah Pasukan Teungku Imum Lueng Bata Menyerang Benteng Belanda di Pasar Aceh
”Maka dari pada mulanya perang di Negeri Aceh, Imum Luengbata itu boleh dibilang orang yang teramat melawan kompeni dan berani betul. Hampir saban malam musuh itu mendekati benteng menembaki orang-orang yang di dalam.”
Begitulah pengakuan perwira Belanda, Kapten Infantri WJ Philips dalam bukunya Penjoeratan Pekerdjaan Perang di Negeri Atjeh, yang diterbitkan di Semarang pada tahun 1889 oleh penerbit GCT Van Dorp & Co. Ia menceritakan bagaimana Teungku Imum Leungbata bersama pasukannya hampir setiap malam menyerang tentara-terntara Belanda di benteng Pekan Aceh (Pasar Aceh) dan benteng Kutaraja.
WJ Philips mengisahkan, serangan oleh penembak-penembak Aceh dari luar kedua benteng Belanda itu membuat repot pasukan Belanda, mereka tidak tahu dari mana posisi penyerang, apa lagi dinding benteng yang tidak terlalu tinggi, membuat pejuang Aceh bisa menembak dari jarak jauh ke dalam benteng dan melukai tentara-tentara Belanda.

Para perwira angkatan laut Belanda di Aceh tahun 1874 [foto: collectie tropenmuseum]
Bukan hanya malam, serangan ke benteng Belanda di Pasar Aceh juga sering dilakukan siang hari, tentara Belanda yang keluar benteng untuk patroli ke sisi kiri dan kanan sering jadi mangsa peluru pejuang Aceh. Pasukan Belanda kesulitan membalas tembakan itu karena penembak-penembak Aceh berlindung di parit-parit dan pematang.
Untuk mencegah datang lagi para penembak-penembak Aceh ke sana, pada April 1874 Belanda mengerahkan dan menambah pasukannya ke sana. Mula-mula dikirim satu compagnie pasukan Eropa dan satu compagnie pasukan Ambon pimpinan Kapten CA Van Randwijk ke benteng Pasar Aceh, mereka berharap dengan tambahan pasukan itu pejuang-pejuang Aceh tidak lagi berani menyerang, tapi ternyata serangan pejuang Aceh masih saja terjadi.
Kapten CA Van Randwijk kemudian memerintahkan pasukannya untuk mengangkat semua barang dalam benteng, menggali parit sekitar benteng dan membuat perindungan dengan susunan karung-karung berisi tanah di sekitar benteng. WJ Philips menulis:
”Kapten Van Radwijk menyuruh angkat segala barang ke sangkutan dan semak-semak di luar benteng dibersihkan, serta menggali tanah dan membuat timbunan, sehingga musuh bisa dilihat kalau pada siang hari dia mencoba mendekati benteng Pasar Aceh.”
Tapi ternyata upaya Belanda itu juga tidak berhasil, serangan demi serangan tetap saja dilakukan pejuang Aceh melalui sisi lain benteng tersebut. Tembakan-tembakan pejuang Aceh dari balik semak-semak membuat kekacauan dan kepanikan pasukan Belanda. Kapten Van Radwijk kemudian memerintahkan tembakan meriam ke arah pejuang Aceh tapi juga gagal.
”Meskipun itu musuh ditembaki dengan meriam, tidak bisa dia diusir dari sana. Dari sebab itu Kolonel Pel yang waktu itu menjadi kepala perang di Negeri Aceh menegaskan akan mengusir musuh dari tempat itu dan mendudukinya.”

Jenderal Johanes Pel tewas dalam perang Aceh di benteng Alue Naga dikuburkan di Kerkhoff Peucut, Banda Aceh [foto: the dutch colonial war in Aceh]
Pada 17 Agustus 1874, Kolonel Pel memerintahkan Kapten Van Radwijk dan pasukannya untuk menempati kawaan yang sering digunakan pejuang Aceh saat menembaki benteng Belanda itu. Waktu itu pejuang Aceh tidak lagi di situ.
Mendapat kabar bahwa tidak ada pejuang Aceh di situ, Kolonel Pel kembali mengirim pasukan ke sana bersama satu kapten dan 15 minuer dan kuli-kuli pekerja paksa asal Jawa untuk membuat kubu pertahaan di sana. Tapi tiba-tiba beduk terdengar dari arah kampung, ratusan pejuang Aceh menyerang tempat itu, serdadu-serdadu Belanda dan pekerja paksa tewas, sebagian melarikan diri kembali ke benteng Pasar Aceh.
Semakin lama semakin banyak pasukan Aceh yang menyerang. Kolonel Pel kemudian mengirim lagi satu compagnie pasukan Ambon dari Batalyon tiga untuk membantu. Mereka kembali meninggikan pertahanan benteng dengan susunan karung berisi tanah, siang hari perang baru reda.
”Pukul satu siang compagnie Kapten Van Randwijk diganti dengan bagian lain, yang kira-kira 150 serdadu banyaknya. Musuh itu sudah mundur, hanya menembak dari jauh saja. Pukul lima sore satu bagian 50 serdadu banyaknya dengan dua officier disuruh menempati benteng baru itu.”