The Diary Game Better Life, Sabtu, 4 September 2021: Hadiah Buku dari Notaris
Akhir pekan ini saya masih disibuki dengan seabrek kegiatan. Seorang teman lama yang sudah sekian tahun tak berjumpa, menghadiahkan saya sebuah buku “Aceh dalam Lara dan Kebangkitan”
Pagi-pagi betul saya sudah menghubungi @abuarkan menanyakan di mana jumpa. CEO situs berita Aceh Kini itu mengabari sudah on the way ke Arul, warung kopi langganannya. Saya pun menuju ke sana.
Kopi pagi ini terasa lebih nikmat dengan pembicaraan beragam tema, mulai dari survey yang saya lakukan, tentang sejarah rencong dan kisah-kisah di baliknya, hingga persoalan rezeki dalam kisah Iman Syafii dan Imam Malik. Pembicaraan semakin mengalir ke mana-mana, setelah rekan kami lainnya Davi Abda, Suparta dan Muhammad Yusuf ikut bergabung.

Ngopi bareng @abuarkan [foto: dok pribadi]
Entah berapa judul sudah pembicaraan kami, hingga kemudian sekitar pukul 10.00 WIB lewat, telepon selular Muhammad Yusuf berdering. Pria asal Nisam harung balik ke Lueng Bata, ada persoalan kampung yang harus ditangani, maklum baru seminggu lalu ia diangkat menjadi salah satu tetua di kampungnya.
Saya juga beranjak dari warung kopi itu menuju Cot Iri. Ada keperluan ke kantor notaris Siti Rahmah. Perempuan asal Aceh Tamiang ini sudah lama saya kenal. Di awal-awal musibah tsunami ia sering ke kantor media tempat saya bekerja, kemudian ia terlibat dalam berbagai program kerja Bank Dunia di Aceh.

Bersama notaris Siti Rahman [foto: dok pribadi]
Yang saya tidak tahu adalah Siti telah mengambil profesi sebagai notaris. Maka, perjumpaan di kantor notaris itu bagai mengulang cerita lama. Saya sempat menanyakan kepadanya tentang draf buku yang dulu pernah diserahkan kepada saya satu eks. Ia pun menunjuk ke rak di samping kami duduk, buku itu ternyata sudah dicetak pada tahun 2005 oleh Dinas Informasi dan Komukinasi Provinsi Aceh.
Siti Rahma mengambil satu eks buku di rak itu dan menyerahkannya kepada saya. “Aceh dalam Lara dan Kebangkita” begitu judul buku yang berkisah tentang musibah maha dahsyat di Aceh pada 26 Desember 2004 silam, yakni gempa dan tsunami.

Buku hadiah dari Siti Rahmah [foto: dok pribadi]
Dari kantor notaris Siti Rahmah saya pulang ke rumah, jaraknya tak jauh, karena masih dalam satu kampung. Tapi saya tak lama di rumah, usai shalat zuhur dan makan siang, saya harus ke Lambhuk, ada janji dengan rekan saya Davi Abda yang tadi pagi ngopi bareng dengan sata dan @abuarkan di Arul.
Menjelang asar saya balik lagi ke rumah, dua putri saya sudah minta untuk jalan-jalan sore. Melihat saya pulang keduanya langsung mandi dan berpakain rapi. Usai shalat saya pun membawa mereka jalan-jalan, tapi tak jelas mau pergi ke mana. Dua-duanya tak tahu mau ke mana, yang penting jalan-jalan menikmati suasana sore.

Bincang ringan di kantornya Davi Abda [foto: dok pribadi]
Saya pun hanya membawa mereka jalan-jalan keliling kota Banda Aceh saja, setiap tempat yang saya tunjuk untuk singgah mereka tolak. Keduanya seperti sepakat untuk menghindar masuk ke café dan warung pilihan saya.
Si kecil akhirnya bersuara, ia kasih ide, membeli makanan dan minuman lalu pergi ke Taman Kencana di kawasan Simpang Mesra, Jeulingke. Saya mengiyakan saja. Sampai di sana ternyata sudah ramai orang. Anak-anak saling berebutan main pelosotan dan ayunan, para orang tua duduk bersila di rerumputan menikmati makanan dan cemilan yang mereka bawa.

Kedua putri saya sedang mewarnai [foto: dok pribadi]
Sementara kedua putri saya segera berlari ke tempat mewarnai lukisan. Si kakak tanya berapa harga untuk mewarnai sebuah lukisan, perempuan yang memajang lukisan-lukisan polos itu menyebut harganya. Kedua putri saya kembali menghampiri meminta uang. Mereka sudah tak peduli lagi pada makanan. Dengan antusias kedua putri saya mewarnai gambar tersebut.
Mendung terlihat bergelayut di langit Kota Banda Aceh, senja juga sudah mulai tenggelam di ufuk barat, kami memilih untuk segera pulang. Dan menjelang magrib baru sampai di rumah. Kebahagiaan itu ternyata benar-benar sederhana.
Postingan ini telah dihargai oleh akun kurasi @steemcurator08 dengan dukungan dari Proyek Kurasi Komunitas Steem.
Selalu ikuti @steemitblog untuk mendapatkan info terbaru.
@ernaerningsih.
Terimakasih atas dukungan @steemcurator08 dan @ernaerningsih beserta tim @steemseacurator semoga kita bisa terus berbagi informasi dan pengatahuan di sini