Di sebuah ...

in WhereINlast year

Di sebuah desa kecil di pesisir pantai Sumatera, hiduplah seorang anak bernama Malin Kundang bersama ibunya. Mereka hidup miskin, tetapi sang ibu selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya. Setiap hari, ibunya bekerja keras untuk menghidupi Malin, berharap suatu hari anaknya bisa menjadi orang yang sukses dan mengangkat derajat keluarga mereka.

Malin Kundang tumbuh menjadi anak yang cerdas dan rajin. Namun, kehidupan di desa yang penuh kesulitan membuatnya merasa tak puas. Malin sering kali memandang ke laut lepas, berharap suatu hari bisa pergi jauh dari desa dan meraih kehidupan yang lebih baik. “Ibu, suatu hari aku akan pergi merantau dan kembali sebagai orang kaya,” katanya kepada ibunya.

Suatu ketika, kesempatan itu datang. Sebuah kapal besar berlabuh di pantai desa mereka, dan Malin merasa inilah saatnya. Ia meminta izin kepada ibunya untuk pergi merantau. Dengan berat hati, sang ibu mengizinkan, tetapi ia berpesan, “Malin, jangan lupakan ibumu. Tetaplah rendah hati dan ingat asal usulmu.”

Malin pergi berlayar, meninggalkan desanya dan ibunya. Di perjalanan, ia bekerja keras, dan nasib baik berpihak padanya. Ia akhirnya menjadi seorang pedagang sukses, memiliki harta melimpah, dan menikahi seorang perempuan cantik dari keluarga kaya. Namun, dalam kebahagiaannya, Malin mulai melupakan janji-janji kepada ibunya.

Beberapa tahun berlalu, Malin tidak pernah pulang atau memberi kabar kepada ibunya. Sang ibu tetap setia menunggu anaknya di tepi pantai, berharap suatu hari Malin akan kembali. Hingga suatu hari, terdengar kabar bahwa seorang pedagang kaya berlabuh di desa mereka dengan kapal besar. Sang ibu yakin itu adalah Malin dan bergegas ke pantai untuk menyambutnya.

Ketika kapal besar itu tiba, memang benar, Malin Kundang ada di atasnya. Namun, ketika sang ibu mendekat dan memanggil namanya, Malin justru menolak mengakuinya. Malin merasa malu dengan penampilan ibunya yang lusuh di depan istrinya dan anak buahnya. “Aku tidak mengenal wanita tua ini,” katanya dengan dingin.

Sang ibu sangat terpukul dengan perlakuan Malin. Ia tak menyangka anak yang dibesarkannya dengan penuh kasih sayang kini tidak mau mengakuinya. Dengan hati yang hancur, ia berdoa kepada Tuhan. “Ya Tuhan, jika benar dia anakku, maka hukumlah dia karena kedurhakaannya.”

Tak lama setelah doa itu dipanjatkan, langit tiba-tiba menjadi gelap. Petir menyambar keras, angin kencang bertiup, dan ombak besar menghantam kapal Malin. Dalam sekejap, tubuh Malin membatu, menjadi patung yang tergeletak di tepi pantai sebagai pengingat akan dosa durhaka kepada orang tua.

Patung Malin Kundang masih ada di tepi pantai hingga kini. Cerita ini menjadi pelajaran bagi kita semua tentang pentingnya menghormati dan menyayangi orang tua. Tidak peduli seberapa tinggi kita terbang, jangan pernah melupakan asal kita dan orang yang telah berjuang untuk kita.

WhereIn Android