Foto yang Bercerita Pada Hari Sembilan Ramadhan
Apakabar semuanya
Foto-foto ini bagian dari kegiatan rutin tahunan di kampung kami. Kenduri berbuka puasa bersama di bulan suci Ramadhan. Kondisi dan persiapannya nyaris sama dengan kenduri Maulid Nabi SAW.
![]() | ![]() |
|---|

Jauh sebelum kenduri digelar, panitia mengadakan rapat di meunasah. Keputusannya, kenduri di gelar pada malam sepuluh puasa. Masing-masing keluarga atau kepala keluarga dipungut dana secara patungan sebesar Rp100 ribu. Malam harinya, selepas shalat Taraweh, warga bergotong royong menyembelih dua ekor lembu.
Hingga tengah malam, acara pembersihan daging dan lainnya kelar. Semuanya ada sebelas tumpukan besar. Dibungkus dalam plastik dan disimpan dalam peti es. Esok paginya baru dibuka, sekalian dimasak oleh panitia yang bertugas mengurus kuah beulangong.
Untuk satu kloter masing-masing ada 35 timba. Panitia lebih dulu mengambil daging dan tulang. Sebagian memantau untuk melihat volumenya. Kadang kali ada yang banyak, kurang dan lainnya. Bila ada yang kurang akan segera ditambah. Baru kemudian, giliran kuah diisi.
Baru kemudian, sebagian panitia lagi memasukkan ke dalam wadah milik warga.
![]() | ![]() |
|---|

Siang harinya, selepas Zuhur antara pukul 13.30-14.30 Wib, warga datang membawa kupon berwarna putih. Di serahkan kepada panitia. Masing-masing warga membawa wadah untuk menampung kuah beulangong. Hampir setengah jam kemudian, baru saya bisa mengambil kuah.
Saya sendiri datang di ujung waktu. Pukul 14.30 Wib. Rencananya biar tak lama berdiri di antrean. Nyatanya, saat saya tiba, masih banyak juga warga yang masih menunggu giliran.
Saya baru mendapat giliran usai menunggu tiga puluh menit lebih. Jika tidak salah ada sekitaran 345 KK yang mendapat jatah kuah beulangong. Kaya papa, fakir miskin, yatim piatu mendapat hak yang sama. Masing-masing satu timba.
![]() | ![]() |
|---|
![]() | ![]() | ![]() |
|---|

Kuahnya cukup enak. Soal ada yang banyak daging atau banyak buah nangkanya itu hal biasa. Panitia sudah bekerja maksimal dan membagi kuah seadil-adilnya. Jika ada yang kurang puas, itu lumrah. Namanya juga kerja gotong royong. Yang ladom duek na ladom dong. Terjemahan bebasnya; ada yang ongkang kaki, ada juga yang berdiri saja.
![]() | ![]() | ![]() |
|---|
Namun yang pasti meski ada yang daging sedikit atau lebih, kuahnya juga bikin menggugah selera. Ciri khas kuah beulangong sangat terasa. Memang jika sudah makan sekali, akan diminta lagi. Yang pasti tidak akan membuat kita sulit membedakan mana lampu hijau dengan lampu merah saat tiba di traffic light.
Jika pun ada anasir alam yang sudah menjadi rahasia umum, tapi isinya pasti sedikit. Terlihat dari dagingnya yang cukup empuk dan lembut.













