LAST LETTER (cerpen)

in #steempress7 years ago

<br/

LAST LETTER


 

“Pernahkah kau merasa yang nyata itu maya, dan yang maya itu nyata?”
Seperti biasa hari-hari yang indah di hidup Maya adalah langit senja. Jernihnya air kali dan hijaunya kebun teh. Iya, itulah keindahan yang separuh hidupnya dia lihat dan rasakan. Tidak ada yang istimewa memang, namun Maya selalu berusaha terlihat ceria, apalagi di depan seorang wanita tua yang selalu berada di dekatnya.unrise yang hebat. Sore yang indah kembali lagi, gemerisik air kali di sepanjang pinggiran kebun teh, membuat sore semakin indah, nyaman dan sejuk. Di atas batu besar pinggir kali, Maya menatap hamparan hijau pucuk teh, di bawah langit jingga yang merona. Sesekali angin sepoi memainkan ujung kerudungnya.

Tidak banyak kegiatan yang Maya lakukan layaknya seorang gadis yang sebaya dengan dia, Shoping, jalan-jalan, nonton dan lainnya. Karena selain tidak banyak juga teman yang dia miliki, tidak ada biaya untuk melakukan semua itu, bahkan untuk sekedar memikirkannya saja itu sudah sangat terlalu bagi dia. Tetapi bagi Maya ini lebih baik, dia punya alasan yang tepat untuk tidak mencari dan mengakrabkan diri dengan teman-temannya, karena dia tidak ingin mengundang kecemburuan di hatinya sendiri, dan tidak ingin terus menerus meratapi nasib jika melihat gadis-gadis lain yang seumuran dengannya. Bahkan mungkin juga banyak orang yang tidak suka berteman dengannya.

Namun bukan berarti semua itu menjadikan Maya kesepian, meskipun terkadang dia memang merasa benar-benar sendirian. Dia masih merasa beruntung, karena masih ada dunia lain selain dunianya sekarang. Dunia yang lebih mengerti dan memahami keadaan dirinya, dunia yang benar-benar membuatnya merasa hidup. Dunia fatamorgana, dunia yang seakan diciptakan untuk orang-orang sepertinya.

Dunia maya, ya! dunia yang lebih disukai Maya daripada dunia nyatanya sekarang. Di dunia mayalah dia merasa benar-benar hidup, tawa, canda, semangat bahkan cinta dia dapatkan dari dunia itu.

Diambilnya ponsel model lama dari saku bajunya, dilihat sudah ada beberapa pemberitahuan di akun miliknya. Banyak yang menanyakan dan bahkan ingin pada pergi ke tempat yang ada dalam foto yang beberapa saat tadi sempat dia ambil dan diunggahnya dalam akun miliknya itu. Tentu sungai yang tenang dan bersih, dengan pinggiran kebun teh yang hijau, membuat siapa saja yang melihat akan merasa nyaman dan tertarik, ditambah langit senja yang merekah menambah suatu keindahan yang sederhana namun luar biasa.

Candaan mulai mengalir dari komentar-komentar teman-temannya di bawah foto-foto itu. Maya tersenyum, menikmati seperti biasa pujian-puijian yang tertuju padanya, pada salah satu foto yang ada foto dirinya. Sebentar senyum di bibirnya tertahan.

Apakah aku berdosa telah menipu dengan sengaja teman-temanku sendiri.” Maya bergumam dalam hati kecilnya, rasa bersalah mulai meracuni pikirannya.

“Tidak! Aku tidak pernah membohongi orang-orang baik seperti mereka, hanya saja aku memang tidak pernah terus terang menanyakan pada mereka apakah mau berteman dengan gadis sepertiku?” Lagi dan lagi kepalanya penuh dengan keraguan.

 

 

 


 

Assalamua’alaikum. Wr. Wb.

Apa kabar Bang?

Apa kabar keluarga di rumah?Apa kabar mamak dan yang lainnya?

Apa kabar pohon duren itu? Semakin besar kah?

Bagaimana langit sore di sana? Di sini dia sedang sedih, sedikit gerimis.

Oh, ya Bang, ternyata kampus dan kebun teh bagi ade lebih nyaman kebun teh, meskipun di sana banyak teman. Tidak mudah ternyata bergaul dengan mereka, apalagi orang seperti Ade. Mereka pintar-pintar, karena kebanyakan dari mereka mengikuti les privat di luar jam kampus, penampilan mereka sangat modis, barang-barang yang mereka punya mencantumkan merek-merek terkena,. Sungguh Ade semakin tidak ada apa-apanya disbanding mereka.

Tapi tahu kah Bang? Sampai saat ini Ade masih mampu bertahan, bahkan Ade masih bisa mengejar nilai mereka, meskipun Ade tidak mampu menyetarakan penampilan mereka. Semua karena abang dan emak. Ya! selama ini yang menjadi semangat untuk terus bertahan adalah emak. Dari umur sepuluh tahun dia membesarkan ade sendirian, membiayai dan merawat anak yang hanya menjadi beban seumur hidupnya. Anak yang bahkan sudah lelah menjalani hidupnya, dan tidak pernah berpikir untuk membalas semua jerih payah seorang ibu yang telah mengorbankan kehidupannya sendiri.

Tapi Bang, kehadiran abang ternyata membuat ade membuka mata, kehadiran abang telah membuat ade ingin tetap hidup dan membalas semua pengorbanan emak. Ingat dulu kita saat pertama kenalan kan Bang? Abang bilang ade pasti cantik, baik dan pintar, itulah alasan abang ingin mengenal ade lebih jauh, bukan hanya karena melihat setiap status ade yang sok pintar. melihat perkataan abang seperti itu, ade langsung percaya bahwa memang tidak akan pernah ada orang yang tulus, semua orang sama hanya tertarik pada wanita yang cantik, baik dan pintar. Dan Ade pun menjadi malas melayani abang.

Tetapi abang tidak pernah lelah, terus menerus berpura-pura sok akrab, jika status sedih abang senantiasa selalu ada untuk menghibur, dan jika status bahagia abang pun seperti ikut bahagia. Sampai akhirnya ade merasakan ketulusan abang, tentu saja karena selama ini ade tidak pernah menunjukan jati diri atau sebuah foto yang bisa abang lihat, tetapi abang seakan-akan tidak peduli dengan semua itu. Dan kita pun menjadi semakin dekat, saling berbagi cerita, saling mengingatkan sampai akhirnya rasa suka itu membutakan perasaan kita, namun perlahan kebutaan itu mulai sembuh dengan setiap ketulusan dan kepercayaan, meskipun hanya dalam sebuah untaian kata-kata.

Terima kasih Bang, terima kasih karena semua itu membuat ade mampu bertahan dan ingin bertahan, terima kasih telah hadir dan menjadikan hidup ade yang gelap menjadi terang. Terima kasih untuk pertama kalinya ade punya impian yang ingin diwujudkan. Selamat ulang tahun semoga apa yang abang cita-citakan terwujud, semoga Rahmat Allah senantiasa menaungi hari-hari abang.

Salam sayang selalu.

 

Perlahan airmata membasahi kedua pipi Maya. Empat tahun sudah dia membaca ulang pesan-pesan yang dia kirim, empat tahun sudah setiap minggu dia mengirimi pesan yang sama, menceritakan setiap kejadian di lima hari sebelumnya, setelah tidak ada juga balasan dari beberapa surat yang dia kirim langsung ke alamat rumahnya. Maya tidak pernah menyerah karena baginya orang yang dikirimi surat itu yang membuat dia bangkit. Masih ada harapan di hati Maya, melihat setiap pesan darinya belum dia baca, Maya masih selalu berusaha menghibur diri sendiri, bahwa orang yang dia kirimi surat sedang sibuk.

“Jangan terlalu percaya pada ketulusan orang di dunia maya itu.” Entah yang keberapa kali Maknya selalu mengingatkan Maya, setelah melihat dia menangis menatapi layar komputer di depannya, komputer bekas yang Pak haji berikan pada Maya beberapa waktu lalu saat dia mau masuk kuliah, bagi Maknya hanya Pak hajilah yang dengan tulus membantu dan membuat mereka terus kuat menjalani kehidupan yang begitu menyesakkan. Karena kebaikan Pak haji juga Maya bisa meneruskan kuliah, bagi Maknya itu adalah keajaiban yang luar biasa, tidak ada orang yang peduli prestasi anaknya karena kecacatan fisiknya.

Ya! Maya seorang gadis berparas cantik yang pintar, baik dan berprestasi, namun dia cacat, dia tidak memiliki tangan kiri, itulah kenapa dia selalu menyerah dengan hidupnya. Sampai akhirnya kehadiran seorang Bumi di dunia maya telah mengubah segalanya, perlahan Maya mulai bangkit, mulai mempunyai mimpi.

Saat pertama Maya tidak pernah menyangka seorang Bumi akan dekat dengan dirinya, selama ini Maya tidak pernah mengatakan bagaimana dirinya pada teman-teman di dunia maya itu, Maya mencoba menutupinya berharap dia mempunyai kenangan yang indah dengan banyak teman walau hanya sebatas dunia maya. Tapi Bumi telah masuk dalam kehidupannya, dia terus mendekati Maya sampai akhirnya membuat Maya jatuh.

Perasaannya mulai berubah seiring kesempatan yang Bumi berikan, rasa suka berganti cinta hingga berharap menjadi nyata. Ketulusan yang Maknya yakini hanya pak haji yang benar-benar tulus kini terasa oleh Maya, ternyata masih ada orang seperti Bumi yang mau menerimanya dengan tulus apa adanya. Membuat semangatnya semakin besar, setiap kali Bumi mengatakan kalau fisik dan semua duniawi hanya pelengkap saja, bukan hal yang utama, cukup hati yang baik saja bagi Bumi sudah cukup. Tentu saja semua kalimat itu membuat Maya jatuh pada jurang kebahagiaan.

“Mak kaya tahu aja dunia maya itu seperti apa.” Setiap kali juga Maya menjawab dan berusaha menguatkan hati untuk tidak mempercayai omongan Maknya yang tidak tahu bagaimana ketulusan Bumi padanya, mungkin mak pikir Bumi tidak tahu keadaan dirinya yang sebenarnya.

Justru karena Mak tidak pernah tahu, ketulusan di dunia nyata saja terkadang palsu. Kamu bukan lagi anak sekolahan, kamu sekarang sudah dewasa, belajarlah menerima hidupmu, takdirmu, bersyukur dan ikhlaskan insya Allah kamu akan berbahagia, meskipun orang-orang mencibirmu.” Maknya kembali menegaskan berulang kali dan mengakhiri perbincangan setiap malam dengan menyuruh Maya tidur.

 

Assalamu’alaikum. Apa kabar Bang?

Lihat lah Bang, seperti biasa Mak selalu mengomeli ade, mengatakan kalau abang tidak mungkin tulus mencintai ade. Itu tidak benar kan Bang?

Ade akan selalu menanti sampai abang membaca semua pesan ini, ade percaya pada abang. Abang bukan seperti orang yang Mak pikirkan.

Salam, yang selalu menunggumu.

 

Angin perlahan memainkan ujung kerudung Maya, langit senja dengan warna jingganya masih menemani Maya membaca setiap pesan-pesan itu. Masih terngiang di telinga Maya saat dia dan orang tua Bumi berbicara di telepon. Hari itu bagi dirinya adalah hari terindah, meskipun Maknya masih tidak mempercayai. Saat itu ujian akhir SMA akan segera datang, Bumi memperkenalkan Maya pada orang tuanya, mungkin itu penyebab dirinya mendapatkan nilai kelulusan yang tinggi, ya semangat yang luar biasa itu yang membuat dirinya bisa membuat emak tersenyum bangga, sampai akhirnya Universitas besar menerima gadis cacat yang miskin seperti dirinya.
 

Maya telah sampai membaca pada pesan terakhir yang dia kirimkan pada Bumi, pesan yang sudah beratus-ratus itu, pesan yang setiap kali dia lihatnya berharap Bumi membacanya, selama empat tahun ini tidak ada aktivitas atau foto dan status baru yang memperlihatkan Bumi membuka aplikasi itu, sehingga Maya masih mempunyai harapan pada Bumi.

Air matanya semakin berderai, sakit di dadanya semakin menyesak membaca pesan terakhir dirinya. Pesan yang dia kirim sebulan yang lalu, rasa sakitnya kali ini terasa sama seperti waktu dia menulis pesan itu. Saat itu dunia yang perlahan kembali tidak berwarna karena hilangnya Bumi yang tiba-tiba menjadi gelap seketika, dunia benar-benar terasa berhenti. Maknya telah pergi untuk selama-lamanya, tidak seperti pesan-pesan yang dia kirim pada Bumi yang sampai sekarang menyisakan harapan bahwa Bumi akan kembali lagi. Tidak! Maknya tidak akan pernah kembali lagi.

Tiba-tiba jantungnya berdetak kencang, tangan kanan satu-satunya yang memegang ponsel gemetar hebat, sekujur tubuhnya mulai berkeringat, kalau saja dia tidak cepat turun dari batu besar itu, bisa saja dia terjatuh karena kaget. Pesan-pesan itu telah dibaca Bumi, tepatnya sedang dibaca Bumi. Mata Maya terus menatap tajam setiap pesan yang satu-persatu telah dibuka, harapannya telah berhasil, penantiannya ternyata tidak sia-sia, dia semakin percaya pada sebuah ketulusan yang memang ada untuk dirinya. Terlihat Bumi sedang mengetikan sesuatu, dan jawaban yang tidak pernah diduganya, jawaban dari ratus-ratus pesan dan beberapa surat itu hanya dengan. “Wasalamualaikum, Alhamdulillah baik.”

Untuk beberapa saat Maya tercengang, dengan terus menanti ada kalimat lain setelahnya, namun sampai 15 menit dia menunggu tidak ada juga kalimat itu. Perlahan Maya membuka beranda aplikasi itu, melihat profil akun Bumi. Dan untuk kedua kalinya dunia ini tiba-tiba menjadi gelap, seperti petir menyambar tepat di telinganya, sebuah foto dan kartu undangan diunggah di akun Bumi. Foto seorang lelaki yang selama ini telah ditunggunya, bergandeng dengan seorang perempuan cantik, dan kartu undangan dengan nama mempelai yang sudah tidak asing lagi baginya. Maya kembali membuka pesan-pesannya yang baru dibalas, mengusap airmata yang mengucur di pipinya, menggigit bibirnya sendiri mencoba menahan rasa sakit di hati.

“Assalamu’alaikum Bang. Semoga kabar abang baik-baik saja. Terimakasih telah membaca pesan-pesan ade. Sebenarnya hari ini ade ingin mengabarkan kabar bahagia, ade telah lulus kuliah, minggu kemarin sudah wisuda, insyaAllah secepatnya ade bisa mendapatkan kerja di sekolah yang dulu sering ade ceritakan pada abang, sekolah tempat anak-anak seperti ade. Dulu ade akan menyerahkan keberhasilan ini pada emak dan abang, karena kalian ade bisa. Dulu ade selalu membayangkan hari seperti ni akan terjadi, saat ade bisa memperlihatkan toga yang menghiasi kepala ade, dulu ade bisa membayangkan emak akan terkencing-kencing bahagia.

Tapi semua itu hanya bayangan ade, emak kini tidak ada, sebelum ade mampu membalas semua jerih payahnya, sebelum ade mampu membelikan baju baru untuknya dari hasil kerja ade, emak sudah pergi. Tapi Alhamdulillah abang hari ini saat ade akan mengabarkan kabar bahagia ini, abang ada, dan kebetulan ini hari ulang tahun abang.

Empat tahun ini ade benar-benar menunggu hari di mana abang membalas pesan ade. Selama ini ade mencoba mengerti alasan abang tetap diam, terkadang ada harapan yang tersisa dan kadang pula ade tidak berharap apa-apa, hanya sekedar mencurahkan segala kerinduan. Maafkan ade yang selama ini masih punya harapan, dan menganggap abang adalah orang yang paling berharga setelah Mak di dunia ini.

Ade baru sadar hari ini, setelah melihat undangan itu. Tapia ade tidak menyesal dengan semuanya. Terimakasih untuk enam tahun ini, bagi ade dunia ini menjadi berwarna setelah mengenal abang. Abang dan emak telah memberi kekuatan hingga akhirnya ade bisa lulus kuliah.

Meskipun kita tidak pernah bertemu nyata, tetapi bagi ade abang adalah hal yang paling nyata di dunia ini. Kelulusan ini ade persembahkan sebagai kado kecil untuk pernikahan abang. Semoga abang selalu bahagia. Terimakasih telah ada dalam perjalanan hidup ade.

Salam untuk ibu dan bapak di rumah.

Wassalamualaikum.

Maya menutup ponselnya, memasukan dalam saku rok. Berjalan perlahan menyusuri pinggiran kebun teh, hatinya berusaha kuat mengikhlaskan segalanya, ini surat terakhir yang dia kirim untuk Bumi, ini takdir hidupnya yang harus dia terima. Airmatanya terus berderai, suara Maknya terngiang-ngiang di telinga, Maknya yang biasa memanggil-manggil nama dia, di tengah-tengah kebun teh, menyuruh cepat pulang. Maknya yang menghidupi dirinya selama ini dari pucuk-pucuk daun teh itu, ya! maknya bekerja keras setiap hari sebagai pemetik daun teh.

 

-Ruang Ahlam-

 

 

 

 


Posted from my blog with SteemPress : https://nnaachlam.com/last-letter-cerpen/

Sort:  

Resteemed your article. This article was resteemed because you are part of the New Steemians project. You can learn more about it here: https://steemit.com/introduceyourself/@gaman/new-steemians-project-launch