Laporan Akurat dan Berbahaya Meet-Up Steemit Happines 2 Di Lampuuk Tadi Malam
Padahal hari ini disuruh sama panitia forum Aceh Menulis (FAMe) Pidie untuk mengisi kelas, dan mengajarkan steemit pada pemula. Tapi kuliah di Banda Aceh sudah hampir sebulan tidak disapa. Makanya saya tolak tugas yang sangat mulia itu demi kuliah, maka berangkatlah saya di subuh yang berbahagia di hari sabtu.
Penampakan Kambing Virtual -beli pake uang cripto
Tapi sungguh tidak berbudaya kalau tak memulai pagi dengan ngopi, maka saya ke Chek Yuke dulu untuk itu. Sudah ada beberapa kawan steemians disana, tapi namanya disebut nanti saja. Setelah duduk selama satu jam @silvira mengingatkan kalau kuliah jam 10.00 jadi kehidupan Aceh yang berperadaban tinggi saat sebagian warganya di warung kopi terganggu dan saya menuju ke kampus tercinta.Di kampus saya berjumpa dosen dan tesisnya dicoret-coret lagi.
Setelah selesai beramah tamah dengan dosen, Saya ke Polem Kupi. Disana sudah ada para steemian senior @levycore, @rismanrachman, @awinyaksteemit @polem13 dan lain-lain yang gak disebut jangan marah. Kami berencana menggelar acara pasca meet-up, yaitu memanggang kambing guling virtual di pinggir pantai lampuuk. Malam itu hampir puluhan orang berkumpul. Kita bisa meraih tempat ini melewati jalan sengketa di samping lapangan golf Aceh.
Saya kesini karena saya belum pernah seumur hidup saya memakan kambing panggang, kambing goreng aja jarang mas! begitulah hidup saya yang miris, tragis, humoris (bukan pilihan kata yang cocok menggambarkan situasi kalimat ini), menyedihkan, terabaikan dan terpisah dari kerumunan. Eh?
Sesekali ada makan nasi briyani di masjid Kupiah Meukeutop Setui, yang ada irisan kambing goreng. Itu pun cuma beberapa tahun sekali mas. Makanya saya kekeuh sebahis eh sehabis kuliah langsung ke lokasi. Sudah ada @fahrijoely yang sedang mengiris-iris kepala kambing dan @orcheva sedang mencoba menyalakan api di panggangan kambing.
Setiba disana rupanya almunium foil tak cukup, saya dan @hayatullahpasee kembali ke kampong Nusa untuk membelinya. Yang mengharukan adalah ceritanya di jalan tentang saat dia berniat untuk menikah. Katanya dia tidak bisa membayangkan dari mana datang rezeki yang melimpah saat dia berniat istiqamah ingin menikah. Dia berniat menabung saat itu hanya untuk mengumpulkan mahar, tapi ternyata Allah kasih lebih, tak hanya mahar dia juga bisa membeli motor. Yahama Vixion yang sangat disayanginya sampai kami membeli alumunium foil ini pakai motor saya karena dia takut motornya saya duduki. Haha. Perasaan saya teraduk-aduk mendengar ceritanya karena motor Vixion yang saya beli dengan ayah digondol maling dan saya juga jadi tergoda untuk mengumpulkan mahar.
Sepulangnya kami langit sudah gelap dan sunset tidak sempat kami foto. Padahal niat kesini tadi ingin melihat sunset, ya sudah lah, nanti comot foto lain saja. Atau saya ambil foto @kreatif saja karena dia fotonya mantap-mantap kali semalam. Tidak lupa pula disana ada @kmubaraq, @akbarrafs, @amekbarkli, @suhiel, dan kalau ingat siapa lagi nanti saya tulis lagi.
Melayani sepenuh hati adalah visi misi kami
Tokoh ispiratif kita malam ini adalah @msyauqinabawi, entah tidak ada teman lain, saya dengan dia duduk bersama beberapa jam dan membicarakan tentang masa depan wisata Pidie. Sedikit memuji-muji @zianmustaqin yang sudah sedikit banyak berbuat untuk Pidie, dari sektor wisata. Zian telah menemukan tempat-tempat baru sebagai destinasi wisata di kampung kami tercinta, dia membawa boat karet mapala Unigha untuk rafting para wisatawan yang dia promosikan untuk datang ke kabupaten dan juga mempromosi Pidie lewat fotografi dan tulisan di media massa.
Kami berniat membuat wisata dan anak muda Pidie lebih maju dan terbuka untuk dunia luar beberapa tahun yang akan datang, kami berusaha dengan apa yang kami bisa, untuk literasi dan Pidie menjadi salah satu destinasi wisata alam terbaik di Aceh. Pilih kami di Pilkada 2020! #eh?
Syauqi mengatakan banyak sekali potensi wisata di Pidie, Tangse misalnya, punya air terjun, pemandian air panas, kopi yang enak, durian yang lezat serta pemandangan yang indah. Kecamatan Mila juga. Kecamatan yang terdiri dari 4 kemukiman, Metareum, Ilot, Lalal dan Andeue ini merupakan penghasil rambutan paling enak se-kabupaten, maunya dikembangkan lebih maju dan menjadi wisata agreeculture seperti ide @supriadidaysin.
Setelah kehabisan materi pembicaraan kami kembali ke pusara masing-masing, eh? Lalu saya kembali ke tas saya mengambil hammock dan mau tidur. Tapi ternyata ada @hayatullahpasee lagi dan kami mulai bercerita tentang bagaimana bahagianya anak-anak dimasa kami yang kaya dengan permainan alami, makanan lezat yang di masak oleh ibu-ibu kami dan nenek-nenek kami juga alam yang kami sakiti saat di alam masih banyak binatang sebelum rusak seperti sekarang.
Nyan peu piasan?
Tanya bang Amri
Haya bilang dia mencari getah muku, getah yang paling kuat dalam dunia perpohonan, untuk menjerat burung pipit kepala putih ataupun kepala hitam. Juga ada trik-trik tipuan dan jerat untuk menangkap burung yang berukuran besar –mungkin akan ditulis sendiri sama beliau nanti-.
Betapa bahagianya masa kecil kami saat bisa menangkap ikan di sungai, rawa-rawa dan di sawah, juga di rumah-rumah warga dulu juga di gali sedikit kolam untuk didalamnya dipelihara ikan, baik untuk pemilik rumah, juga untuk dibagikan secara sah atau lepas ke seluruh kampung kalau banjir tiba.
Juga yang sangat menyesakkan kami berbicara tentang konflik di akhir acara, Haya mengatakan Aceh adalah daerah pelanggaran kemanusiaan terbesar yang dilakukan negara tapi tidak diusut tuntas. Saat konflik ada pasukan serdadu membunuh, menyuruh anak membunuh bapaknya, menyuruh anak memperkosa ibunya dan bahkan ada serdadu yang memotong kemaluan orang yang diduga separatis dan dimasukkan ke mulut korban.
Masa kami kecil sampai sekarang kami merasa ada di masa yang kami menjadi saksi sejarah. Dari masa yang indah di masa kecil saat alam bersahabat, lalu menjadi saksi sejarah konflik Aceh, lalu menjadi saksi tsunami, saksi damai Aceh dan masih saksi di pernikahan kawan. #plak!!
Dari Musalla yang banyak nyamuknya di Joel’s Bungalow Lampuuk, Riazul Iqbal Melaporkan!
Ini foto ayah sama mama waktu tua nak







👏👏👏👏👏
Tepok tangan aja laaah
Abang dimana. Sudah kami tinggu padahal..huhu
Sebuah reportase yang menarik, dalam suasana santai masih sempat berbagi cerita dulu. Mantap. Sip.
Terimakasih abang
Wah..
Hari yg sangat berbahagia bisa makan kambing virtual. Laporannya sangat akurat haha👍👍
Twerwiema kasih bang.. ikut lah lagi di panggang2 selanjutnya
Guling terus kambingnya, biar menjerit dilidah!
siap pak Ketua KSI chapter Barsela,
Hahahaha... Romantis kali ya ceritanya... :D
kayaknya sudah saatnya yang punya cerita melanjutkan dengan versi aslinya...haha
Kakak udah serius kali bacanya, mau komen yang serius. Terus baca caption foto paling bawah, halah, gadoh mandum peu yang meujak tuleh. Hahaha
Boleh komen serius dan bercanda kak.. this is free country
Jadi itu maksudnya apa coba?? Bingung saya bang hahaha
Adinda ini susah li ngertinya.
Jahahahajajja
Grogi dia nulisnya makanya typo, wkwkw
ya, mungkin ibal... ibal kok gak nampak? padahal kami hampir habis bahan bicara semalam
Semalam membantu WH patroli, makanya tak tampak. Nulis aja udah grogi dan typo apalagi ketemu, wkwkkw
adinda ini susah li ngertinya... haha
Hahahha oh adinda, and tak mengerti hukom
Droen hambo aju saboh teuk tulesan, masalah ikap lee unoew
Abg @riodejaksiuroe ni kocak x.
terimakasih dek Sri...
Mantap Ruh bang.. Hawa troh undangan acara lagei nyoe, lagei meu preh Boh ara hanyot hehe
droen ka lee undangan maulid... jadi ka leubeh geut
Kan hawa sit pajoh kambing virtual haha
Jadi pas kecil sempat nyari ikan di rawa-rawa gt.. Emang tinggal dimana??
Gampong Mee Tanoh, Kemukiman Pineung, Kecamatan Peukan Baro, Kabupaten Pidie Adinda..
Masih ada tapakannya, sebab di google earth dan map ngak ketemu..