Tempat Bekerja Teramat Istimewa

in #steempress6 years ago (edited)

Tempat Bekerja Teramat Istimewa


Baru saja tutup pintu udah terdengar ada yang teriak dari luar. Memanggil-manggil. Tidak sabar sepertinya.

“Punten, Bapak ada? Ini saya mau menitipkan anak biar ikut belajar mengaji di Bapak.”

Tetangga terhalang beberapa rumah tergopoh-gopoh sambil memegang tangan anak kecil. Kharis, anak seusia anak saya yang kata teman-temannya termasuk anak bandel, berdiri berpakaian koko lengkap serasi dengan pecinya. Saya mempersilahkan. Alhamdulillah. Kami masih dipercaya mereka untuk bekerja. Nambah pekerjaan suami pastinya.


Selama 7 tahun menikah dan tinggal di rumah peninggalan mertua, sudah bukan sekali dua kali ada tetangga datang, mengantarkan sekaligus menitipkan anaknya mengaji di rumah. Alhamdulillah. Saya tentu saja mempersilahkan dengan tangan terbuka.

Meskipun tidak semua orang tua anak didik datang ke rumah, sebagaimana etika serta sopan santun adat tradisi ketimuran kita. Ada juga orang tua yang hanya “say helo” saat ketemu di jalan, tapi ujungnya nitipin anak untuk dididik mengaji di rumah kami. Benar-benar cul leos gitu saja...

Sejak sebelum menikah, suami memang sudah mengajar mengaji khsususnya dengan anak-anak tetangga di sekitar rumah. Awalnya katanya satu dua orang anak. Lama-lama bertambah, jadi belasan. Pas setelah menikah eh saya lihat sendiri anak santrinya bertambah sampai puluhan. Ya meski datang dan pergi silih berganti sih. Secara kalau sudah lulus SD, banyak anak yang melanjutkan sekolah ke luar kampung. Dan banyak juga setelah selesai SD, anak santri melanjutkan mengaji ke pesantren yang lebih besar. Tidak lagi mengaji dari sore sampai isya, tetapi sekaligus mondok di pondok mengaji alias pesantren yang lebih besar.

Suka duka jadi guru mengaji itu ternyata tidak sedikit. Mengajar berbagai karakter anak itu tidak mudah. Bayangkan saja bagaimana suasana di sekolah. Menurut saya malah sekolah masih lebih mending, aturannya jelas, bayaran nya juga jelas. Orang tua pada mendukung terhadap anak kalau di sekolah. Coba kalau di pengajian?

Mau dikasih ketegasan ga enak secara pengajian itu bukan lembaga formal. Mau memaksimalkan kegiatan belajar mengajar juga terkendala dana, sarana dan prasarana, secara maaf bukan mau ngomongin masalah ikhlas atau tidak, tapi ini fakta, mengaji itu kan gratis. Tidak dipungut biaya. Orangtua hanya menitipkan anak saja. Hanya menitipkan. Sudah.


Beda dengan perlakuan orang tua terhadap anak di sekolah, disediakan uang masuknya, seragamnya, alat tulisnya, bekalnya, dan sebagainya. Coba kalau ke pengajian? Di kampung saya ini masih ada yang bilang nuhun saja, itu sudah luar biasa banget bagi kami.

Padahal guru mengaji juga punya tanggung jawab yang sama. Lebih besar malah. Membawa kepada amalan anak baik buruknya, benar salahnya dan itu akan dimintai pertanggungjawaban hingga di akherat kelak. Sekolah sendiri hanya sebatas pendidikan formal di dunia. Tapi orang tua santri kayanya cuek saja. Gak sadar apa mendidik anaknya itu susah banget? Mbok ya kasih dukungan kek ke anaknya. Bukan dukungan biaya, bukan, tapi semangat dan dukungan. Anak gak sekolah sehari udah blingsatan. Lah anak gak ngaji seminggu eh adem ayem saja. Pas anak ga bisa mengaji Al Quran atau tidak bisa hafalan surat pendek yang disalahkan kami, guru ngajinya... Hadeuh...!

Tapi mungkin karena itu Tuhan memberikan jalannya kepada kami, kepada saya dan suami. Buktinya banyak kok di kampung kami ini yang lulusan sarjana pendidikan Islam, atau lulusan pondok pesantren, tapi mereka (sepertinya) tidak berniat untuk mendidik anak mengaji. Wong anaknya saja disuruh ngaji kepada kami. Dan entah kenapa, Tuhan justru memberikan hati yang terbuka untuk sama-sama belajar mengaji dan memperdalam fikih itu kepada kami, kepada suami tepatnya. Saya mah hanya team hore saja. Hehehe...


Alhamdulillah. Sekali lagi kami hanya bersyukur atas kepercayaan ini. Kami anggap semua ini adalah pekerjaan. Meskipun tidak digaji dan tidak dibayar, tetapi paling tidak rumah kami setiap hari ramai oleh lantunan ayat suci. Keberkahan dan manfaat semoga itu jadi ridho Nya.

Anak kami paling tidak punya teman belajar yang kami sendiri bisa langsung memantau nya. Mengajar ngaji kepada anak-anak di sekitar kampung ini kami anggap sebagai pekerjaan, kesempatan langka yang tidak semua orang akan sanggup melaksanakannya. Pekerjaan dan tempat bekerja kami yang bukan di kantor atau di rumah ini teramat istimewa, bukan?


Posted from my blog with SteemPress : http://tehokti.com/tempat-bekerja-teramat-istimewa.html