Permintaan Terakhir

in #fiction8 years ago

Permintaan Terakhir

Cerpen @ulfamaria

cerpen-permintaan terakhir.jpg
Siluet matahari yang memasuki celah gorden sebuah kamar membuat tidur seorang gadis menjadi terusik. Perlahan dibuka matanya sejenak dan kembali tertutup. Beberapa detik kemudian mata itu kembali terbuka dengan terbelalak melihat apa yang ada dihadapannya manatapnya dengan cengiran di wajahnya.
“Aira, apa yang kamu lakukan?” tanyanya saat Aira sudah menyingkir dari hadapannya dan duduk disisi tempat tidurnya.
“morning Azila” katanya tersenyum.

Gadis itu menyapu wajah kagetnya melihat kelakuan sahabatnya ini yang sudah menjadi kebiasaan di pagi hari jika menginap di rumahnya. Setelah menghembus napas kesal melalui mulutnya, dia beranjak dari tempat tidurnya. Melihat itu Aira bertanya Azila ingin kemana dan dijawab dengan menunjuk kamar mandi.

Setelah siap mandi dan memakai pakaiannya, Azila memperhatikan wajahnya yang sudah didandan.
“mau kemana sih?” kembali Aira bertanya.
“tentu saja mau menghadiri pemakaman Aira” jawabnya mengoleskan lipstik dibibirnya.
“oh” kata Aira singkat.

Waktu seakan berhenti, begitu halnya dengan kegiatan Azila saat menyadari sesuatu.
“pe-pemakaman Aira?” gumamnya pada dirinya sendiri dihadapan cermin.

Perlahan Azila berbalik kearah Aira yang lagi sibuk dengan kukunya di meja belajarnya. Merasa diperhatikan Aira menoleh kearah Azila yang lagi menatapnya dengan wajah tegang.
“ke-” belum sempat pertanyaan Aira selesai sebuah teriakan mengagetkannya.
“hantuuuuuuu” teriak Azila membuat Aira terjungkir kebelakang dan Azila sendiri ambruk kelantai.

Azila membuka matanya saat mendengar suara bundanya berbicara yang dirasa dengan abahnya.
“Azila, kamu udah sadar?” membantu Azila duduk bersandar.
“Aira?” katanya melihat Aira di depannya dengan senyum bersalah.
“sayang, kamu yang sabar ya, abah dan bunda udah menghadiri pemakaman Aira tadi, bunda tau kamu pasti sedih dengan kepergian Aira yang tiba-tiba” memeluk Azila.
‘tentu saja tiba-tiba, namanya aja kematian, kan gak ada yang tau kapan akan datang, coba kelahiran doktor udah bisa memprediksikannya, minggu depan ibu akan melahirkan, tapi bukan itu masalahnya sekarang’
“ya bun, aku baik-baik aja kok” tersenyum menenangkan.
“kalau begitu bunda sama abah keluar dulu ya” kata bundanya mencium puncak kepala Azila yang diikuti sama abahnya.
‘ya bun”

Setelah pintu kamarnya kembali di tutup sama abahnya, Azila langsung menyemprot Aira dengan pertanyaan.
“kenapa kamu bisa di sini?”
“trus mau dimana lagi?”
“kenapa gak ke naraka aja, kamu kan udah meninggal?”
“akh, ne kawan macam apaan sih, doain kawannya masuk neraka” kesal.
“kan biar cepat prosesnya”
“ok, aku mau nanya kenapa kamu gak menghadiri pemakamanku?”
“ne setan ya, yang bikin aku gak bisa hadir juga siapa? Pagi-pagi bikin orang tidur lagi?”
“mana aku tau sampai kek gitu, kan semalam udah dengar kabar aku kecelakaan dan meninggal”

Aira berhenti bicara dan menatap Azila tajam yang membuat Azila merinding sendiri.
“ke-kenapa?”
“separah itukah merasa kehilanganku, sampai gak ingat kalau aku sudah meninggal?”
“yeah, ne hantu ya, kalau aku gak ingat gak mungkin aku siap-siap kepemakamanmu kan” mulai kesal.
“tunggu, kalau kamu udah mati trus napain masih gentayangan di kamarku?”
“itu masalahnya” menghela napas lelah.

Keesokan harinya. Azila menemui salah satu seniornya di kampus yang kebetulan baru datang dengan kawannya.
“kakak kenal Aira?”
“Aira yang meninggal kemaren?”
“ya, kenalkan?”
“hm, kenal, kenapa?”
“itu masalahnya kak, sampai saat ini, itu hantu masih bergentayangan di sekitarku, cuma karena belum mengunggungkapkan cintanya sama kak Nafan, gila kan kak?”
“aish, ne kawan ya” gumam Aira kesal yang berada disamping Azila.
“gentayangan?” Nafan merasa Azila aneh sedangkan kawannya udah mulai menahan untuk tersenyum.
“ya kak, Aira ingin mengatakannya pada kakak, agar dia bisa pergi dengan tenang, Aira cepat katakan” perintah Azila pada Aira.

Setelah Aira mengatakan apa yang ingin dikatakan dengan Azila menjadi perantaraannya, Nafan menatap Azila dengan tatapan ‘apa dia gila’.
“kamu gak lagi sakit kan?”

Mendengar itu secara otomatis wajah Azila berubah masam. Suatu cahaya keluar dan sebuah tongkat dari tangannya. Dengan gerakan memutar tongkat tersebut Azila berkata.
“dengan kekuatan bulan, aku akan menghukummu-”
“ada yang lucu?” tanya Azila menghancurkan hayalan Aira yang duduk menompang dagunya dengan wajah memperlihatkan senyuman.

Menyadari Azila bertanya padanya, dia hanya memperlihatkan cengiran tidak bersalahnya.
“kamu beneran bisa melihat hantu, hm maksudnya Aira?” penasaran.
“aku belum berminat mengungkapkan cinta untuk kakak” alih-alih menjawab pertanyaannya Nafan.
“katakan padanya aku berterima kasih, aku juga menyukainya”
“dia mendengar sendiri”

Azila berjalan menuju ruang kuliahannya dengan Aira di sampingnya yang melingkarkan tangannya di lengannya Azila.
“makasih” kata Aira yang diikuti menghilangnya Aira dari sampingnya.

Azila menghentikan langkahnya dan melihat kesampingnya, tidak ada siapapun. Dengan tersenyum dia kembali melanjutkan langkahnya.
‘aku tidak pernah tau, kalau ada permintaan terakhir setelah kematian. Tapi tadi dia membuat permintaan terakhir setelah kematian, alias gentayangan. Walaupun permintaannya terdengar aneh. Bicara kematian, dia seperti surprise terbesar dalam kehidupan kita, walaupun kita semua tau kematian itu pasti akan datang, tetap saja itu mengejutkan’.

The End

Sort:  

keren ceritanya

Resteemed by @resteembot! Good Luck!
The resteem was payed by @greetbot
Curious?
The @resteembot's introduction post
Get more from @resteembot with the #resteembotsentme initiative
Check out the great posts I already resteemed.