Tsunami Aceh yang Tak Terlupakan | Beginilah Kisah Saya Bersama Keluarga Saat Tsunami Melanda Kota Banda Aceh
Hai teman Steemian selamat sore
Tanggal 25 Desember 2024 di rumah sedang diadakan kenduri syukuran bahwa Umi dan Abah saya akan berangkat ke Mekah untuk melaksanakan Ibadah Haji. Saat itu sangat ramai saudara-saudari, handai taulan, kerabat, tetangga kami yang dari Gampong Merduati, Kampung Baru, Gp. Blang Oi, Gp. Lampaseh, Gp. Keudah yang datang ke rumah di Gp. Ateuk Pahlawan, dusun Melatika, Simpang Surabaya, Kecamatan Baiturrahman
Saya pun bertugas sedang cat rumah, saya ingat saat itu ada tamu yang datamg sampai berucap ke saya, rajin kali Davi mengecat dinding rumah seperti mau lebaran saja, begitulah ucapan kak Ida, yang beliau pun hilang saat Tsunami terjadi. Ramai juga tamu yang datang memberikan senyum kepada saya yang terus asik mengambil kuas yang dicelup kedalam kaleng cat dan terus saja mengolesi dinding sehingga nampak warna banginan menjadi terang kembali
Tanggal 26 Desrmber 2024, Awalnya saya bersama keluarga baru saja terbangun dari tidur ketika itu waktu masih subuh, kami melaksanakan aktivitas rutin di rumah sampai menjelang sekitar antara pukul 08.00 wib s/d pukul 10:00 wib terjadilah goncangan gempa yang sangat kencang sampai semua benda atau perabot di tempat tinggi yang berada di dalam rumah terjatuh. Gempa yang menurut data yang kita dengar memiliki keluatan mencapai 9,3 SR, saat itu saya sendiri tidak mampu berdiri karena goyangannya cukup kuat, saya sampai tiarap ke lantai bersama keluarga. Terdengar pagar rumah kami runtuh, sebelum roboh pagar nya berayun-ayun sekitar 2 menit, bangunan tempat tinggal di Simpang Surabaya juga terguncang namun syukurnya tidak roboh
Sejenak kami kaget menghadapi situasi yang tidak pernah terjadi ini, segera saya mengingat Abah yang masih berada di gampong Merduati. Kebetulan sepupu saya yang baru saja datang dari Malaysia sedang tinggal di rumah Sp Surabaya. Dia pun memgajak saya, yuk kita ke Merduati mau melihat Mama nya disana dan semua keluarga kami, apakah mereka dalam kondisi baik-baik saja? Kami bergonceng berdua naik satu sepeda motor saja berkeliling kota, ternyata banyak bamgunan yang runtuh dan ramai orang-orang bekerja mengeluarkan orang lain yang tertimpa reruntuhan beton bangunan
45 menit kemudian mulai banyak orang berlarian dari arah kota Banda Aceh menuju ke arah simpang lima yang berpas-pasan dan berlawanan arah dengan motor kami. Ada orang berteriak lari air laut naik, cepat lari, dalam keadaan bingung saya pun sempat balek arah kembali pulang ke rumah Simpang Surabaya, ternyata ketika melihat air di bawah jembatan Kuta Alam sudah mulai arus nya kencang dan melimpah ke daratan. Semakin saya tancap gas motor agar cepat sampai di rumah melakukan evakuasi Umi dan adik-adik, kami segera naik kembali ke sepeda motor menuju dataran tinggi yaitu ke kecamatan Blang Bintang kabupaten Aceh Besar
Kini semuanya sudah normal kembali namun banyak saudara saya yang hilang tanpa kami ketahui dimana mereka berada. Sekarang telah ada kuburan masal di beberapa tempat sebagai tempat berziarah dan mengingatkan kami setiap tahun pada kejadian Tsunami di Aceh
Demikianlah tulisan saya untuk hari ini
Salam spesial buat semua teman Steemian ku |
---|
Tentang Saya 👉@waterjoe |
---|
Thank you very much
Al fatihah untuk saudara bapak dan semua yang menjadi korban. 🙏
Terimakasih banyak