Sensasi Tes Wawancara untuk Jadi Penyiar TVRI Aceh
Gedung tua yang diresmikan sebagai stasuin televisi sejak tahun 1993 itu, sudah mulai nampak dari kejauah. Degupan jantungku semakin cepat tak berirama. Tiba-tiba saja aku mulas dan ingin rasanya memutar arah untuk balik pulang ke rumah.
Sayangnya aku duduk manis dibonceng sahabat yang begitu setia menemani dan mendukungku 100% untuk mengikuti tes ini. Jadi aku segera mengurungkan niat untuk berbalik arah, karena bagiku sekali melangkah harus terus maju tanpa boleh mundur walaupun seperempat langkah.
Motor matic keluaran tahun 2012 yang mengantarkanku ke gedung TVRI Aceh, mulai memasuki gerbang melaju hingga ke parkiran. Aku melihat banyak orang yang memegang map berdiri di halaman stasiun yang usianya hampir sama denganku itu. Pastilah mereka calon penyiar yang juga ikut tes.

Foto @arielogis
Aku menelan ludah, “ternyata banyak juga yang ikut ya? Apa aku bisa lulus dengan pesaing sebanyak ini?” Batinku berdiskusi dengan anggota tubuh lainnya dikomandoi oleh otak.
Lelaki yang menjadi ojek pribadiku itu seolah membaca kegelisahanku. “Adun yakin Adoe pasti bisa.” Kalimat itu disampaikannya dengan penuh semangat bak motivator yang sedang seminar di atas podium besar.
Aku pun membalasnya dengan senyuman. “Kalau dia saja yakin kepada diriku, masak sih aku nggak yakin dengan diriku sendiri? Toh, cuma mengantarkan map yang berisi kertas-kertas penting ini sebagai syarat.” Percakapan batin itu pun kembali memenuhi tubuhku.
Jebakan bad man
Aku melangkah maju masuk ke gedung yang diresmikan oleh Bapak Mentri Penerangan H. Harmoko seperempat abad yang lalu. Di sana sudah ada beberapa calon penyiar yang menunggu giliran masuk ke ruangan berkaca sebagai tempat untuk mengatarkan berkas.
Ruangan itulah yang pernah aku duduki bersama teman-teman I Love Songket Aceh yang dijadikan ruang tunggu, saat diundang menjadi bintang tamu di acara Seuramoe Putroe.
Aku mengira hanya sebatas mengantarkan berkas saja, lalu pulang menunggu jadwal wawancara, tapi eh ternyata ruangan itu digunakan sebagai tempat interogasi para peserta.
“Waduh, aku nggak ada persiapan apa-apa ne kalau di tes nyiar, bagaimana ini? Apa yang aku sampaikan nanti ya?” Percakapan batin mulai terjadi kembali. Otakku langsung berespon ke anggota tubuh lain memberi signal kegelisahan yang ditandai dengan keluarnya keringat dingin.
Aku menenangkan diri bercakap-cakap dengan peserta lain. Mereka menggunakan jilbab besar dan duduk dengan sangat anggun. Tingginya pun juga sepadan dengan persyaratan yang diminta.
Aku memulai percakapan dengan memperkenalkan diri, alamat, jurusan kuliah, dan hal-hal lainnya hingga topik pembicaraanku kehabisan stok. Mungkin karena kami baru kenal jadi masih agak segan untuk berbicara banyak hal, apalagi dari raut wajahnya dapat kutangkap mereka juga sedang dilanda stres menghadapi wawancara.
Aku pun tidak melanjutkan pembicaraan dan lebih fokus membenamkan diri ke buku bacaan yang kubawa. Tiba-tiba datang seorang ibu paruh baya menghampiri kami.
Dia mengingatkan kami bahwa tes ini murni mencari para penyiar, jadi pakaian yang digunakan nanti juga harus disesuaikan dengan selera produser.
“Ada baiknya kalian pikirkan lagi sebelum ikut tes, karena kalau lulus jadi penyiar nanti kalian harus mau menggunakan jilbab pendek. Tidak mungkinkan jilbabnya sperti ini? Kita stasiun TV milik negara bukan daerah, jadi pakaiannya harus disesuaikan dengan program yang dibawakan. Kalian harus menggunakan jas nanti, harus bisa berdandan, dan menggunakan bulu mata.” Perempuan itu terus berbicara seperti rel kereta api.
Kami hanya mendengarkanya, sambil sesekali saling tatap antarsesama peserta. Batinku mulai mengajak berdiskusi “Kalau menggunakan jas atau blezer, ok lah, sebab aku pencinta blezer. Tapi kalau disuruh pakai bulu mata, ini yang gawat. Sepertinya aku harus tutorial dulu sama Syahrini untuk memasang bulu mata.”
Igo Ceurape
Akhirnya giliranku pun tiba. Aku dipersilakan masuk ke ruangan berkaca yang sudah ditunggui oleh pewawancara.
Begitu pintu kubuka, terlihat sosok seseorang yang sedang melakukan wawancara dengan peserta lain. Dia tersenyum manis kepadaku. Otakku langsung mencari data untuk mengenalkan siapa dia.
Sepersekian detik aku langsung tersenyum kepadanya, bukan karena ingin membalas senyumannya. Tapi karena otakku memberikan data yang berkaitan dengan Igo Ceurape.

Foto @arielogis
Dia lah presenter yang berkeinginan untuk membuat program khusus dengan nama Igo Ceurape. Keinginannya itu disampaikannya melalui tulisan di akun steemitnya yang berjudul Saya, Tuan Rumah “Igoe Ceurape”.
Dia juga yang meramaikan kolom komentar di tulisanku tentang Harapan untuk Leuser. Dia berhasil membuat tulisaku seperti pasar malam karena menghadirkan tokoh Ijah, Ummi Ijah, dan Nenek Uyut. Bagaimana aku tidak tersenyum saat mengingat hal itu, bahkan aku tertawa cengengesan sendiri menimbulkan penasaran teman di sampingku.
Urat-uratku yang dari tadi tegang, seketika melunak kembali. Hormon stresku pun raib digantikan dengan dopamin yang berseliweran di otakku. Informasi lucu yang diberikan otakku tentang persenter yang kusebut Igo Ceurape itu, berhasil mengusir ketegangan dalam jiwaku.
Aku pun maju menju pewawancara pertama. Dia memeriksa mapku lalu meyuruhku berdiri di dinding untuk mengukur tinggi badan. Mataku bertatapan dengan Igo Ceurape, dia kembali tersenyum kepadaku karena dia tahu tinggiku kurang 2 cm dari persyaratan yang ditetapkan.
“Hmmm, dinding yang di pasang garis hitam itu 155cm, karena kamu tidak mencapai garis itu mungkin tinggimu sekitar 153 cm. Tapi, jangan khawatir karena jika kamu mempunyai kemampuan lebih di bidang lain, ini cukup membantu untuk meluluskan kamu.” Kata si pewawancara pertama.
Setelah itu aku berpindah ke pewawancara kedua yaitu dengan Igo Ceurape. Dia menyuruhku membaca berita yang sudah disediakan. Aku membaca berita itu dengan penuh percaya diri, sambil sesekali berpikir pertanyaan semacam apa berikutnya yang dilemparkan kepadaku.
Seusai membaca berita, dia bertanya kapan nikah? What..,? pertanyaan macam apa ini? Aku terkaget, tapi cukup dalam hati.
Terus dia langsung ceramah “nanti waktu nikah jangan buku lah maharnya. Masak buku sih? Bagaimana bisa itu digunakan untuk investasi, kalau emas bisa disimpan dan sewaktu-waktu bisa dijual kalau kepepet. Abang sengaja nggak komen di tulisan Yel. Emang orang mana sih calonnya?”
“Orang Aceh Selatan juga Bang, sama kayak Yel.” Aku menjawabnya sambil tersenyum karena pertanyaannya jauh dari apa yang aku takutkan sejak tadi.
“Tapi, ini serius loe abang katakan, ingat tu gunakan emas untuk maharnya nanti. Bla.., bla., bla.., bla...” Dia terus memprovokasiku untuk tidak menggunakan buku sebagai mahar di acara pernikahanku. Itu pasti karena dia telah membaca tulisanku tentang Bagian II Menggambar Sungai Kehidupan.
Wawancara ini terkesan begitu santai, bahkan ketakutan yang kupikirkan sejak tadi jatuh berguguran seperti daun yang mengering. Igo Ceurapee benar-benar telah mencabik-cabik ketakutanku dengan gayanya yang humoris dan sangunis itu.
Sambil keluar dari ruangan berkaca itu aku terus tertawa hingga ke parkiran, menimbulkan tanya bagi orang yang melihatku termasuk Adun yang dari tadi setia menungguku. Dia sudah bersiap mendengar cerita kejadian apa yang berlangsung beberapa menit di dalam sehingga aku terlihat sebahagia ini.
Memang benar bersahabat dengan ketakutan itu menyenangkan, apalagi dengan Igo Ceurapee yang merupakan teman satu komunitas menulis denganku. Di perjalan pulang aku teringat sebuah penelitian yang mengatakan bahwa;
Pembuktian modern mengatakan 80% ketakutan itu hanya ada pada pikiran (mindset) dan tidak akan pernah terjadi. Tak perlu menghabiskan energi untuk memikirkan ketakutan itu. Kita harus mengubah paradigma berpikir tentang ketakutan karena penelitian sudah membuktikan bahwa 80% ketakutan tidak benar.
Hanya mereka yang takut dan mengelola ketakutannya dengan baik yang mampu menemukan keindahan hidup. Doakan aku semoga lulus menjadi penyiar TVRI Aceh.




Sukses trs di karir dan menulisnya yah @yellsaints24
Iya, makasih doanya. Terima kasih juga sudah berkunjung.
Siapa sih igoe ceurape itu hahha
Ayahnya Ijah yang hidup lagi, hahaha 😄
Semangat Adoe @yellsaints24 kembangkan potensimu dg pekerjaan yang disukai, ciptakan kenyamanan diri utk memperoleh kecintaan terhdp pekerjaannya. Semoga Lulus Jadi Penyiar TVRI Aceh, sekarang terus cari dan baca informasi tentang Penyiar TV semoga TVRI Aceh makin berjaya dg diluluskan Adoe. Hehehe
Amin, makasih ya sahabatku 😁
Iya, semangat saling berbagi kasih sabahatku juga... hahahaha
Hahahaha...pengalaman unik yang mengesankan Yel..harusnya judulnya "Kurang Dua Centi" atau "Bertemu Host Igo Ceurape" atau "Diceramahi Tentang Mahar Menikah"
Seru kali pagi2 dapat cerita begini
Iya kak ya, lebih menarik kek gitu judulnya. Nggak kepikiran pula judul itu 😄
Nah, itu cocok tuh saran Aini @dyslexicmom untuk judulnya. TInggal pick salah satunya, Yel. Haha.
Aih, Ayahnya Ijah @arielogis ternyata tau persis bagaimana harus meredakan ketakutan yang membelenggu Yelli, ya! You should takes him to makan rujak U groh, tuh, Yel. Traktirin deh, tuh, Ayahnya Ijah yang hidup kembali. Haha.
Yel, semoga lulus dan bisa menjadi salah satu penyiar TVRI nantinya ya. Aamiin ya Allah.
Eeehhiyaaah... Kok lupa doanya. Semoga lulus ya Yeellii🌹
Amin ya Allah, makasih kak @dyslexicmom
Hahahaha, ntar kalau udah lulus boleh kak traktir Ayah Ijah makan rujak U groh, kalau belum nanti kirain nyogok pula. :D
Terima kasih dukungan dan doannya kak.
Aaaaamiiiiiiiiiiiin... semoga lulus ya Yel. Biar nanti pas nonton Dunia Dalam Berita udah ada Yelli.
Hehehehe, Amin. Maksih doanya ya bg.
Semoga sukses Yelli
Wah. Semoga sukses ya. Keren punya kesempatan seleksi jadi penyiar di TVRI.
Sukses berkepanjangan ya dek!
Haha Igoe Ceurape itu sesuatu kali ya
Sukses Yell