ACEHNOLOGI DALAM BIDANG STUDI POLITIK ACEH (II:21)

in #indonesia8 years ago (edited)

image

Pandangan mengenai politik maka tidak terlepas tentang pemerintahan nasional, proses politik, tujuan, dan organisasi suatu negara. Maka dari itu, Acehnologi khususnya dalam kajian Politik Aceh, merupakan kajian yang terakhir dalam Acehnologi volume II.

Nilai dan budaya merupakan landasan untuk mengkaji tentang politik. Berbicara mengenai praktik politik yang dilakukan oleh orang Aceh dapat dikaji sejak berdirinya beberapa kerajaan di Aceh, mulai dari Pereulak, hingga ke Kerajaan Aceh Darussalam.

Terdapat gambaran bagaimana yang dikatakan oleh politik Aceh dalam kajian Acehnologi yaitu, muncul gerakan aceh merdeka atau GAM, yang dipimpin oleh Dr. Tgk. Hasan Di Tiro. Gerakan Aceh Merdeka, atau GAM adalah sebuah organisasi separatis yang memiliki tujuan supaya Aceh lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Konflik antara pemerintah RI dan GAM yang diakibatkan perbedaan keinginan ini telah berlangsung sejak tahun 1976 dan menyebabkan jatuhnya hampir sekitar 15.000 jiwa. Gerakan ini memanfaatkan jaringan internasional untuk mendukung perjuangan di Aceh. Kemudian terjadi Integrasi, ketika GAM menerima tawaran damai dari pemerintah Indonesia pada tahun 2005.
image
Pada gambaran di atas, Aceh telah kembali mempraktikkan sistem politik dari barat melalui, pendirian partai lokal dan menunjukan kekuasaan politik melalui otoritas adat dengan didirinya sebuah lembaga Wali Nanggroe. Sementara itu, pemerintah Indonesia Mengizinkan munculnya partai lokal di Aceh, guna untuk menerapkan sistem demokrasi dalam pemilihan kepala daerah atau anggota legislatif.

Dalam studi Politik Aceh, muncul beberapa tokoh pemikir politik Aceh, Yaitu mulai dari Sultan Malik al-Saleh hingga Surya Paloh. Salah seorang tokoh yang mengusung ideologi ke-Acehan melalui kacamata sejarah, yaitu Hasan di Tiro, yang memaksa pemerintah indonesia menyesuaikan kebijakannya yang diusung olehnya. Namun pada realita sekarang, masyarakat Aceh diarahkan untuk menerapkan hukum Islam. Hal ini tidak sejalan sama sekali dengan perilaku politik di Aceh dengan dipadukannya hukum Islam. Di balik dari politik Aceh, darah dan juga penderitaan rakyat Aceh telah di alami pada masa-masa tersebut, tidak ada satupun provinsi yang ada di Indonesia, yang memiliki kekerasan seperti yang telah terjadi di Aceh.

Politik adalah seni halus mendapatkan suara dari orang miskin dan dana kampanye dari orang kaya, dengan menjanjikan melindungi satu dari yang lain. Itulah Akhir dari Review Acehnologi Volume II.


Politics is the sensitive art for getting votes from poor people and campaign funding from the rich, by promising to protect one from the other. That's the End of Review Acehnologi Volume II.
#Thank you Have a Visit!

Coin Marketplace

STEEM 0.05
TRX 0.29
JST 0.044
BTC 68043.89
ETH 1971.53
USDT 1.00
SBD 0.38