Kunjungan ke Aceh Tamiang: Menyaksikan "Kota Zombie" Pasca-Banjir Bandang
Halo sahabat Steemian. Pada 21 Desember 2025, saya berkesempatan mengunjungi Kabupaten Aceh Tamiang, salah satu daerah yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor paling parah.
Berdasarkan informasi yang beredar, air sempat merendam kota ini dengan ketinggian 1.5 meter hingga 7 meter, melumpuhkan seluruh aktivitas warga secara total.
Kondisi pasca-banjir ini benar-benar memprihatinkan, hingga banyak yang menyebutnya menyerupai "kota zombie". Warga terlihat dengan pakaian dan wajah yang masih berlumur lumpur, kesulitan air bersih untuk mandi, bahkan kesulitan mendapatkan makanan.
Meski kunjungan saya dilakukan hampir sebulan setelah bencana, kota ini masih tampak mati. Tidak ada aktivitas jual-beli; yang terlihat hanyalah puing-puing rumah warga dan sisa-sisa lumpur yang mengering. Selain sampah dan lumpur banyak juga sisa kendaraan rusak akibat banjir yang terparkir dipinggiran jalan.
Sebagai jalur lintas nasional, kita bisa membayangkan betapa parahnya dampak ini. Jika di area perkotaan saja air mencapai 3 meter, di pelosok desa ketinggian air bahkan mencapai 6 hingga 7 meter.
Bahkan, luapan air sungai dilaporkan sempat melewati jembatan besar, sebuah fenomena yang menunjukkan betapa dahsyatnya banjir tersebut.
Hingga saat ini, banyak warga yang masih bertahan di tenda pengungsian karena kehilangan tempat tinggal.
Sepanjang perjalanan, saya hanya melihat jalanan yang rusak, debu yang tebal, dan bangunan yang rata dengan tanah. Masyarakat kekurangan makanan, karena kesulitan air bersih wabah penyakit mulai merambah banyak orang, selain itu, banyak juga anak-anak yang mengemis meminta makanan.
Barang-barang di pusat kota pun habis terendam. Di bawah jembatan yang dulunya merupakan pemukiman padat, kini hanya tersisa puing dan tanah yang tersapu air.
Masyarakat sangat berharap bisa kembali hidup layak dan melanjutkan pekerjaan mereka sebagai petani, pekebun, atau pedagang. Namun, tanpa harta benda dan rumah yang tersisa, mereka kini hanya bisa bergantung pada uluran tangan para dermawan.
Di tengah kesedihan ini, kabar baik datang dari pemerintah yang mulai menyiapkan Hunian Sementara (Huntara) bagi warga yang kehilangan rumah. Menurut saya, langkah ini perlu dipercepat dan diprioritaskan tidak hanya di Aceh Tamiang, tetapi juga di kota-kota terdampak lainnya agar roda ekonomi masyarakat bisa segera berputar kembali.
Tujuan utama kunjungan saya adalah meninjau rumah saudara kami @fajrularifst, Alhamdulillah, bangunan fisik rumah masih utuh karena berbahan beton, meski sempat tenggelam sedalam 4 meter.
![]() | ![]() |
|---|
Kami bergotong-royong membersihkan sisa-sisa lumpur yang tebal. Salah satu tantangan terberat adalah ketiadaan air bersih; saya sendiri harus mengangkut hingga 60 ember air hanya untuk mengisi bak penampungan. Kesulitan ini juga dirasakan oleh hampir seluruh warga di sekitar.
Saat perjalanan pulang di malam hari, suasana "kota mati" semakin terasa. Sunyi, tanpa aktivitas ekonomi, dengan deretan tenda pengungsian di sepanjang jalan.
Kondisi ini sungguh menyayat hati. Saya berharap masyarakat terdampak diberikan kesabaran, dan pemerintah terus melakukan upaya maksimal dalam penanggulangan bencana ini agar warga segera mendapatkan hunian, makanan, dan kehidupan yang layak seperti sediakala.








Upvoted! Thank you for supporting witness @jswit.
Thank you for sharing on steem! I'm witness fuli, and I've given you a free upvote. If you'd like to support me, please consider voting at https://steemitwallet.com/~witnesses 🌟