Merajut serpihan kenangan

Hagoe's Village: Jan, 11th 2026
Hari Minggu akhir pekan ini kami berdua, aku dan istriku masih belum pulih dari sakit yang kami alami beberapa hari yang lalu. Bahkan istriku kondisinya masih sangat lemah dan belum bisa beraktivitas dengan normal.
Sarapan pagiAku bangkit dari tempat tidur ku menuju dapur untuk melihat makanan apa saja yang ada disana agar aku bisa sarapan pagi dan minum obat.
Begitu pula dengan istriku yang juga harus sarapan terlebih dahulu sebelum meminum obat dari dokter.
Ternyata si kakak sudah memasak menu makanan untuk sarapan kami. Untuk bundanya si kakak telah memasak sayur sawi sedangkan untuk yang lain sudah tersedia mie soup sebagai menu sarapan.
Aku memilih mie soup saja untuk sarapan karena perutku sudah mulai lumayan. Berbeda dengan istriku yang belum bisa makan makanan yang pedas-pedas.
Si kecil sedang mensortir foto-fotoWalaupun kondisi ku belum pulih total, aku tidak mau berdiam diri dan tidak melakukan apa-apa. Aku mau beraktivitas ringan saja di rumah pada pagi ini.
Aku menjemur sebentar foto-foto dari album pernikahan kami yang sempat rusak oleh banjir pada bulan November tahun lalu. Setelah kering, aku mulai menyortir foto-foto yang masih bisa digunakan bersama si kecil Alvira yang ikut membantuku.
Tidak satupun foto tersebut yang masih utuh. Sebagian besarnya rusak total dan sebagainya rusak di beberapa bagian dan masih tampak fotonya sehingga masih bisa digunakan.
Album pernikahan kami ini merupakan album kenangan tentang perjalanan awal kami berdua dalam jenjang pernikahan, dimana saat itu foto-foto diambil dengan menggunakan kamera Analog dan di simpan dalam Color negatives C-41 Film.
Jadi tidak ada media penyimpanan seperti sekarang terhadap foto-foto dokumentasi di zaman dahulu. Bila hasilnya cetakan fotonya rusak maka hilanglah foto-foto kenangan tersebut. Dan biasanya negatif filmnya sudah rusak atau hilang sehingga tidak bisa dicetak lagi.
Si kecil berangkat ke rumah temanSi kecil Alvira membantu ku mensortir foto-foto ini beberapa saat saja, karena kemudian dia mau ke rumah temannya untuk bermain bersama di hari Minggu ini.
Lagian bundanya di rumah sedang sakit sehingga tidak sempat menemani si kecil. Ketika temannya menelpon kami dan mengajak si kecil Alvira bermain, kami mengizinkannya saja.
![]() | Frame foto |
|---|---|
![]() | Foto sisa banjir |
Frame dan fotoAku menuju gudang belakang rumah untuk melihat frame foto yang masih ada di rumah. Kemudian aku membawa beberapa frame yang masih ada ke ruang depan.
Dari sekian banyak foto-foto yang "masih bisa digunakan", aku memilih beberapa foto yang akan aku pasangkan kedalam frame foto yang ada.
Foto-foto tersebut memang tidak ada yang utuh lagi. Tetapi minimal masih terlihat sebagian besar fotonya. Dan karena foto-foto ini memiliki nilai dan kenangan, maka foto-foto tersebut layak untuk tetap disimpan.
Foto yang bisa diselamatkanFoto-foto ini berukuran sedang dan aku hanya punya beberapa stok frame foto dengan ukuran tersebut sehingga aku hanya bisa memasang beberapa foto saja yang telah aku pilih.
Untuk sisa-sisa foto yang belum bisa dipasangkan, aku harus membelinya lagi di toko ATK nantinya agar foto kenangan itu tetap terpelihara meskipun tidak utuh lagi.
Aku mendokumentasikan foto-foto yang masih bisa diselamatkan ini beberapa akun media sosial ku seperti di akun Facebook, Akun tiktok dan juga akun YouTube. Videonya bisa dilihat di links ini ☝️
![]() | Foto pakaian adat Padang |
|---|---|
![]() | Pakaian adat Melayu |
![]() | Pakaian Nasional |
Aneka pakaian pengantin pada pernikahan kamiKarena keterbatasan stok Frame foto, aku hanya memilih beberapa foto yang menampilkan beberapa jenis pakaian adat pernikahan di negara kami.
Indonesia merupakan sebuah negara kepulauan yang terdiri dari lebih 1.300 suku bangsa dengan keragaman budaya, bahasa, dan adat istiadatnya.
Keragaman adat dan budaya ini, juga tercermin dalam upacara pernikahan di berbagai wilayah Indonesia termasuk jenis pakaian adat pesta pernikahannya.
Pada acara pesta pernikahan kami yang berlokasi di rumah pengantin perempuan (dara Baro = istri), saat itu kami memakai beberapa jenis pakaian adat yaitu pakaian adat Padang, Pakaian adat Melayu dan pakaian nasional, karena istriku berketurunan Suku Melayu.
Sedangkan pada acara pesta pernikahan di rumah pengantin laki-laki (linto Baro = suami = aku), kami menggunakan pakaian adat Aceh, karena aku berasal dari Suku Aceh.
Jadi kami berasal dari dua suku yang berbeda tetapi dipertemukan dan disatukan oleh Tuhan dalam sebuah ikatan pernikahan yang suci.
Halaman depanSetelah makan siang dan melaksanakan sholat Zuhur, aku hanya istirahat saja di rumah dan mulai mencicil membuat postingan ku.
Kemudian aku mulai melakukan aktivitas ringan di siang menjelang sore dengan membersihkan halaman depan rumah kami yang cukup berantakan oleh banjir beberapa waktu yang lalu.
Beberapa tanaman sayur-sayuran yang ada di halaman rumah kami terendam oleh lumpur dan mati. Dan aku akan mencoba membereskan rumah kami secara pelan-pelan saja, sebisa mungkin.
Cuaca di sore hariCuaca di sore ini terlihat cukup cerah dengan sedikit berawan di beberapa tempat. Mudah-mudahan tidak terjadi hujan, karena rata-rata rumah warga belum siap dibereskan dari endapan lumpur.
Bila terjadi hujan maka endapan lumpur tadi akan semakin mencair dan bisa masuk kedalam rumah-rumah warga. Apalagi jika terjadi hujan yang cukup lebat maka bisa saja banjir datang kembali.
Informasi BMKGKondisi cuaca di wilayah kami pada sore ini sesuai dengan informasi yang ditampilkan dari pihak BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), yang merupakan sebuah lembaga pemerintah non-departemen yang memiliki otoritas utama untuk prakiraan cuaca, iklim, dan gempa bumi, serta menyediakan data-data penting untuk berbagai sektor, seperti penerbangan, pertanian, hingga mitigasi bencana.
Memori kolektif kami sebagai penyintas bencana ekologis beberapa waktu yang lalu, telah memicu kesadaran baru untuk memantau informasi dari otoritas cuaca, agar kami bisa bersiap-siap untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang akan terjadi.
Bubur Kanji RumbiSore ini kami mendapatkan kiriman bubur kanji rumbi dari ibu kami. Kanji Rumbi ini sangat cocok dimakan oleh orang-orang yang sedang mengalami gangguan lambung, karena konsistensinya yang cenderung cair atau lembek yang sangat ramah buat lambung.
Karena ibu kami mengetahui bahwa kami sedang sakit maka ibu kami yang tinggal di sebelah rumah kami memasak bubur kanji rumbi yang diantarkan ke rumah kami di sore ini.
Kami pun makan malam dengan bubur kanji rumbi ini dan kemudian segera minum obat serta melaksanakan sholat magrib untuk hari ini.
Sekian postinganku kali ini. Stay Healthy and Fun, Ciao...!
@ alee75
Click Here 













Curated by : @walictd