Singgah Sejenak di Makam Syiah Kuala

Pintu Gerbang Makam Syiah Kuala
KAMIS lalu saya beranjangsana sejenak di Kompleks Makam Syiah Kuala. Kawasan ini terletak di pesisir timur Banda Aceh. Tidak jauh dari muara sungai yang menghadap ke Selat Malaka. Deburan ombak selat sangat terasa di sini. Secara administratif, kompleks Makam Syiah Kuala masuk ke Gampong Deah Raya, Kecamatan Syiah Kuala.
Makam ini bukan kuburan biasa. Dia adalah bukti sejarah kebesaran masa lalu. Ada ruang besar yang menyimpan banyak sejarah setiap saya datang ke sini. Makanya tak heran, jika tak jauh dari pintu gerbang, juga terpacang sebuah pamplet bertuliskan Situs Cagar Budaya.
Memang Makam Syiah Kuala ini adalah sebuah situs cagar budaya yang tentu saja di bawah pengawasan pemerintah. Mencari kawasan ini sangat mudah. Selain dengan bantuan Google Maps, biasa juga melihat petunjuk arah dari marka jalan yang terpajang rapi di sejumlah ruas jalan.
Ketika anda sudah meresapi aroma angin laut, itu pertanda lokasi yang kita tuju sudah dekat. Gerbang utamanya memang dibangun kokoh dengan lengkungan bertuliskan “Makam Syiah Kuala” serta kutipan terkenal, “Adat bak Po Teumeureuhom, Hukum bak Syiah Kuala.”
Ungkapan bermakna dahsyat ini menegaskan pengaruh besar ulama ini dalam menata sistem hukum dan adat di Aceh masa silam. Masa itu, Aceh masih di bawah hukum kerajaan atau bahasa lokalnya keurajeuen.
Memasuki kawasan kompleks makam, pengunjung akan menjumpai suasana teduh di bawah rimbun pepohonan. Di bawah pohon-pohon ini dimanfaatkan pengunjung untuk memarkir kenderaan mereka. Baik roda empat maupun roda dua.
Fasilitas Balai
Di dalam kompleks terdapat belasan balai besar dan kecil, yang berdiri mengelilingi area utama tempat makam Syiah Kuala berada. Balai-balai ini menjadi tempat bagi para penziarah untuk beristirahat, berdoa, atau menggelar kenduri. Selain balai, terdapat juga bangunan yang dipakai sebagai penginapan.
Pada hari Senin dan Kamis, kawasan ini tampak lebih ramai. Banyak warga datang untuk melepaskan hajat atau menggelar kenduri bersama rombongan keluarga. Mereka membawa nasi, kuah beulangong, dan aneka hidangan khas Aceh yang kemudian disantap bersama di balai.
![]() | ![]() |
|---|
Balai untuk kegiatan kenduri
![]() | ![]() |
|---|
Bangunan ini bagian dari utama
Selain itu, pada hari-hari lain juga sering tampak warga yang datang “peulheueh kaoy”(melepas nazar). Aktivitas ini dilakukan dengan khidmat, yang sarat dengan rasa hormat terhadap Syiah Kuala sebagai tokoh ulama besar yang berjasa bagi Aceh dan dunia Islam di Asia Tenggara.
Suasana di kompleks makam ini memadukan nilai religius, tradisi, dan sejarah, menjadikannya bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir seorang ulama, tetapi juga ruang hidup bagi masyarakat yang masih memelihara kearifan dan budaya ziarah lintas generasi.
Bangunan Utama
Bangunan inti kompleks ini berdiri megah dengan arsitektur bernuansa hijau dan putih. Atap bertingkat menyerupai bentuk limas khas rumah tradisional Aceh. Tepat di bagian tengah tampak pintu besar berwarna hitam berornamen emas, bertuliskan:
“Makam Syeikh Abdurrauf bin Ali al-Fansury – Syiah Kuala (lahir 1024 H / 1615 M – wafat 1105 H / 1693 M)”
Di balik pintu itu, terletak makam Syekh Abdurrauf As-Singkili, ulama terkemuka Aceh yang dikenal luas di dunia Islam. Ia adalah seorang ahli tafsir, fikih, dan tasawuf yang menulis lebih dari dua puluh karya, di antaranya Tafsir Turjuman al-Mustafid, salah satu tafsir Al-Qur’an pertama dalam bahasa Melayu.
Syekh Abdurrauf juga dikenal sebagai mufti Kerajaan Aceh Darussalam pada masa Sultanah Safiatuddin Tajul Alam. Melalui fatwa dan ajarannya, beliau menegaskan prinsip keseimbangan antara adat dan syariat yang kemudian dikenal dalam ungkapan terkenal: “Adat bak Po Teumeureuhom, Hukum bak Syiah Kuala.”
Bangunan makam yang kini berdiri merupakan hasil renovasi dan penataan ulang dari bentuk aslinya, yang dahulu lebih sederhana dengan cungkup beratap rumbia. Meski tampil modern, nilai sejarah dan spiritualnya tetap terjaga, menjadikannya pusat ziarah yang terus ramai hingga kini.

Makam para kerabat Syiah Kuala
![]() | ![]() |
|---|
Nisan kuno milik keluarga Syiah Kuala
Di komplek ini, selain balai yang bisa dipakai penziarah untuk kepentingan kenduri, ada bangunan lain juga. Bangunan ini semacam rumah singgah. Rumah ini diperuntukkan khusus untuk penziarah yang menginap di kawasan tersebut. Penziarah hanya dikenakan biaya kebersihan. Jumlahnya tidak dipatok dalam angka pasti. Sangat tergantung kemurahan hati penziarah.
Di tengah area kompleks juga terdapat sebuah mushalla yang biasa dipakai penziarah untuk beribadah. Sedangkan bangunan di samping bangunan utama dipakai untuk penziarah yang ingin melepas hajatan. Shalat sunnahnya dilakukan di bawah bangunan berbentuk limas ini.

Rumah singgah yang baru dibangun
![]() | ![]() |
|---|
Saya di sini dengan view pepohonan rindang
Dapur
Untuk memudahkan penziarah yang kenduri, pengelola Kompleks Makam Syiah Kuala (penjaga makam) juga menyediakan dapur umum. Biasanya, di sinilah, kuah beulangong di masak. Lokasinya cukup baik. Ada dua dapur umum di lokasi tersebut. Tidak ada pungutan yang membebani pihak penziarah.
Pun begitu, penziarah tidak bisa sesuka hati juga. Soalnya, pengelola meminta pengunjung untuk menjaga lingkungan tetap bersih.
Kamar Mandi
Fasilitas lain yang juga tersedia di sini adalah kamar mandi dan toilet. Untuk kebutuhan ini terdapat di bagian dalam kompleks. Kamar mandi umum masih tergolong baik. Kamar mandi merangkap dengan tempat wadhu.
Sejauh ini tidak ada keluhan dari para pengunjung yang bertandang ke Syiah Kuala.
Mushalla di sini juga terlihat cukup baik. Ada penjaga kebersihan yang siap bekerja untuk membersihkan dan merawat apa yang perlu mereka tangani. Sementara untuk parkir yang termasuk sangat luas juga bisa dipakai kapan saja. Hanya saat ada kegiatan ziarah pada Senin atau Kamis, pemuda desa setempat mengutip jasa.
Untuk kenderaan roda dua biasanya Rp2.000 atau sekitar 1,44 Steem. Sedangkan roda empat dikutip Rp5.000 per unitnya atau setara 3,6 Steem. Untuk rombongan penziarah yang memakai tempat tersebut terdapat jasa kebersihan. Biasanya dikenakan sekitara Rrp100.000 saja atau sekitar 72 Steem.
Saya berkunjung kali ini karena ada rencana kopi darat dengan seorang warga setempat. Tidak ada rencana ziarah atau pun ritual religius lainnya. Kebetulan jaadwal temunya hari kamis. Terima kasih sudah membaca postingan saya.
| Info Tambahan | |
|---|---|
| Alamat | Gp. Deah Raya, Syiah Kuala, Deah Raya, Kec. Syiah Kuala, Kota Banda Aceh |
| Google Maps | Makam Syiah Kuala |
| Steem Atlas | [//]:# (!steematlas 5.59238415 lat 95.32779622 long Makam Syiah Kuala d3scr)) |
| Waktu Kunjungan | Kamis, 6 November 2025 |
| Kontak | 082160101377 |
| Jam Operasional | Setiap hari 8.00 –18.00 WIB, Khusus Jumat Tutup |
| Photographer | @munaa |
| Device | Samsung Galaxy A14 5G |




















Upvoted! Thank you for supporting witness @jswit.
Dear munaa, excellent pin! Pin curated for Steem Atlas. We appreciate you pinning with us!
Pin stats:
🟢 Beneficiary: 25%
🟢 Delegator: ✓
🟢 Witness Vote: ✓
View your post on Steem Atlas here:
https://steematlas.com/@munaa/singgah-sejenak-di-makam-syiah-kuala
Terima kasih atas verifikasinya...
Thank you for posting this on Steem Atlas.
To help improve your posts on Steem Atlas, and increase your chances of winning in the Atlas Challenge, check out these 21 Tips.
Thank you for setting a beneficiary to @steem-atlas, it will help the project grow.