Antusias Anak-anak di Tengah Keterbatasan
Pagi hari saya bangun seperti biasa menjelang subuh. Setelah melaksanakan salat subuh, saya bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Sebelum berangkat, saya menyempatkan diri untuk sedikit membersihkan rumah. Setelah itu, kami berangkat ke sekolah
Hari itu kami menggunakan pakaian bebas karena sekolah belum aktif sepenuhnya. Ketika sampai di sekolah, ternyata anak-anak sudah lebih dulu menunggu. Mereka juga mengenakan pakaian bebas. Hal ini terjadi karena sebagian besar perlengkapan dan seragam sekolah mereka terbawa arus banjir, sehingga mereka terpaksa menggunakan pakaian seadanya.
Dalam kondisi tersebut, kami para guru masih merasa kebingungan. Semua siswa digabungkan, sementara strategi pembelajaran belum tertata dengan baik. Akibatnya, proses pembelajaran belum berjalan secara maksimal. Selain itu, hari tersebut juga merupakan hari pertama kami bertugas piket.
Sebagai langkah awal, kami menganjurkan siswa untuk membaca ayat-ayat pendek. Anak-anak maju satu per satu ke depan untuk membacakan ayat pendek yang mereka hafal. Saya merasa sangat bersyukur dan bangga karena beberapa siswa menunjukkan keberanian dan antusiasme yang tinggi untuk maju ke depan.
Setelah itu, siswa perempuan dipanggil satu per satu untuk mempraktikkan gerakan dan bacaan salat. Mereka mempraktikkan seluruh rangkaian salat dengan cukup baik. Proses pembelajaran berlangsung sekitar dua jam, kemudian kami beristirahat selama kurang lebih 15 menit.
Saat waktu istirahat, bantuan MBG datang. Sayangnya, ponsel saya kehabisan daya sehingga saya tidak sempat mendokumentasikan kegiatan tersebut. Pada hari Sabtu itu, MBG berupa makanan ringan. Karena jumlah siswa tidak terlalu banyak, setiap anak mendapatkan dua bungkus snack yang berisi telur, roti, kacang, dan beberapa makanan lainnya.
Setelah pembagian MBG selesai, anak-anak langsung bersiap pulang. Kami para guru pun kembali ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah, saya melaksanakan salat zuhur, kemudian memasak seperti biasa. Setelah itu, saya dan adik-adik melanjutkan kegiatan mencuci kasur dan perlengkapan tidur yang terdampak banjir kemarin. Pekerjaan ini baru bisa kami lakukan karena sebelumnya kondisi tubuh benar-benar lelah.
Kami mencuci hingga menjelang magrib. Di sela-sela aktivitas tersebut, saya berhenti sejenak untuk melaksanakan salat asar, kemudian kembali melanjutkan pekerjaan. Setelah salat magrib dan isya, kami masih menyelesaikan proses pembersihan hingga akhirnya semuanya benar-benar bersih. Alhamdulillah.
Malam harinya, kami makan bersama keluarga sambil berbincang santai. Momen-momen sederhana seperti ini mungkin terlihat biasa dan berulang setiap hari, tetapi saya justru mencintai kehidupan yang sedang saya jalani saat ini.
Di tengah perenungan malam, saya tersadar bahwa pada tahun 2026 usia saya akan menginjak 23 tahun. Dulu saya berpikir bahwa usia 23 tahun adalah usia emas, usia di mana seseorang telah mencapai kesuksesan tertentu. Namun, saat ini saya merasa masih berada di tempat yang sama dan belum menghasilkan sesuatu yang besar.
Meski demikian, saya mencoba menenangkan diri. Saya percaya bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Setiap perjalanan hidup memiliki proses dan fase yang berbeda. Setelah merenung, saya menutup hari dengan salat isya dan bersiap untuk beristirahat.
Demikian cerita singkat saya. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca.




Upvoted! Thank you for supporting witness @jswit.