The Diary Game 18-02-2026 Membuat Bakso Kriwil di Hari Mugahan
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Halo teman-teman semuanya. Senang sekali bisa kembali menyapa di komunitas ini. Semoga kita semua selalu berada dalam keadaan sehat walafiat serta dimudahkan dalam setiap aktivitas. Pada tulisan kali ini, saya ingin berbagi cerita tentang hari Meugang di Aceh, sebuah tradisi yang selalu membawa suasana berbeda menjelang Ramadhan.
Awal Hari
Pagi saya dimulai seperti biasa. Saya bangun tidur, kemudian menunaikan sholat Subuh. Setelah wirid sebentar, saya langsung membantu membersihkan rumah. Bagi keluarga kami, Meugang bukan hanya tentang memasak daging, tetapi juga tentang persiapan menyambut bulan suci dengan lingkungan yang rapi dan bersih.
Saya memulai dari bagian dalam rumah. Sarang laba-laba di sudut-sudut atas dibersihkan, debu di perabot dilap, dan lantai disapu. Setelah itu, saya melanjutkan ke halaman depan. Tumpukan kayu yang cukup lama dibiarkan akhirnya dirapikan dan dipindahkan. Aktivitas ini memang melelahkan, tetapi terasa menyenangkan ketika melihat rumah tampak lebih teratur.
Adik saya membantu mencuci piring, sementara saya memasak nasi. Mama mendapat tugas untuk membeli daging.
Beli danging
Mama pulang dengan cerita yang menarik. Harga daging yang biasanya cukup tinggi turun drastis. Banyak pedagang masih memiliki sisa dagangan karena pembeli berkurang. Sebagian masyarakat telah mendapatkan daging gratis, sehingga permintaan di pasar tidak seperti biasanya.
![]() | ![]() |
|---|
Melihat kondisi tersebut, mama membeli daging dan tulang dalam jumlah yang cukup banyak. Total belanja hari itu sekitar 570 ribu rupiah. Persiapan dapur pun segera dimulai.
Aktivitas Memasak
![]() | ![]() |
|---|
Mama memasak rendang dan kuah masak merah. Aroma rempah langsung memenuhi rumah. Saya membantu di dapur sambil menyiapkan percobaan kecil saya sendiri, yaitu membuat bakso rumahan.
Dengan mengikuti resep sederhana, saya menyiapkan tepung tapioka, daging, bawang putih, bawang goreng, lada, garam, dan es batu. Semua bahan diblender. Proses ini sempat terkendala karena saya memasukkan daging sekaligus, membuat blender bekerja terlalu berat. Dari sini saya belajar bahwa daging sebaiknya diolah sedikit demi sedikit.
Adonan bakso akhirnya terbentuk meskipun teksturnya tidak sepenuhnya halus. Saya membentuk bulatan dan merebusnya dalam air mendidih. Hasil akhirnya memang tidak sempurna, tetapi rasanya tetap cukup enak. Bakso buatan sendiri memberikan pengalaman baru yang menyenangkan.
Menjelang Dzuhur, saya berhenti sejenak untuk menunaikan sholat. Setelah itu, aktivitas kembali berlanjut hingga sore. Kami makan bersama dengan hidangan yang telah dimasak. Rendang buatan mama selalu menjadi menu favorit di rumah.
Menjelang Ashar, saya menunaikan sholat lalu beristirahat sebentar. Malam harinya, kami bersiap untuk sholat Tarawih. Saya menyiapkan mukena, sajadah, serta perlengkapan lainnya.
Tarawih Pertama
![]() | ![]() |
|---|
Setelah Maghrib, kami berangkat ke masjid. Suasana terasa tenang dan penuh rasa syukur. Sholat Tarawih malam itu dilaksanakan sebanyak 20 rakaat, kemudian ditutup dengan Witir tiga rakaat. Meski tubuh terasa lelah, hati terasa lebih ringan.
Penutup Hari
Setelah kembali ke rumah, saya makan malam. Aktivitas dilanjutkan dengan istirahat dan sedikit membaca materi ringan. Kami tidur lebih awal karena harus bangun sahur.
Hari Meugang kami diisi dengan membersihkan rumah, memasak, beribadah, serta menikmati kebersamaan keluarga. Tradisi ini selalu menghadirkan makna tersendiri sebagai pengingat bahwa Ramadhan adalah momentum memperbaiki diri.
Terima kasih sudah membaca cerita saya.
Sampai jumpa pada tulisan berikutnya.










Congratulations @nananrazila! Your post was upvoted by @supportive. Accounts that delegate enjoy 10x votes and 10–11% APR.
0.00 SBD,
0.02 STEEM,
0.02 SP
Thanks for your upvote
Upvoted! Thank you for supporting witness @jswit.