The Diary Game 18-9-2026 Menyelami Padatnya Hari Bersama Anak-Anak Didik Mungilku

in Hot News Community2 days ago

1000195112.jpg

Ngajar sesi siang

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Halo teman-teman semua, bagaimana kabar kalian hari ini? Saya selalu berdoa agar kita semua senantiasa berada dalam keadaan sehat walafiat serta dalam lindungan Allah SWT.

Di tengah situasi dunia yang tidak menentu dan banyaknya cobaan maupun bencana yang melanda negeri kita tercinta Indonesia, tidak ada hal terbaik yang bisa kita lakukan selain terus memohon perlindungan-Nya dan tetap bersyukur atas kesempatan hidup yang masih diberikan.

Kembali lagi bersama saya, Ninda Fazlia. Lewat tulisan ini, saya ingin menyapa Anda semua sekaligus mengajak kita untuk terus bersemangat dalam melahirkan karya-karya terbaik.

Pada kesempatan kali ini, saya ingin membagikan potongan cerita tentang dinamika kehidupan sehari-hari yang saya jalani, khususnya pengalaman mengajar dan mengurus rumah pada hari Jumat yang penuh tantangan namun penuh keberkahan.

Hari Jumat ini sebenarnya saya sudah merencanakan untuk bangun jauh lebih cepat dari biasanya. Namun manusia hanya bisa berencana, realitanya saya sedikit kesiangan.

Kendati demikian, saya tetap menyempatkan diri untuk menunaikan ibadah salat subuh dan berzikir sejenak guna menenangkan pikiran sebelum memulai hari.

Belum sempat duduk tenang, riuhnya kesibukan pagi langsung menerjang. Ibu saya sudah harus pergi lebih awal untuk melakukan absensi pekerjaan, sementara adik-adik memerlukan perhatian ekstra.

Suasana pagi mendadak menjadi sangat sibuk dan riuh. Sebagai anak pertama, tanggung jawab domestik tentu menjadi bagian dari rutinitas yang tidak bisa terelakkan. Setelah menyelesaikan ibadah dan beristirahat sejenak, tugas rutin berikutnya telah menunggu

menjemur pakaian. Ibu saya memiliki kebiasaan mencuci pakaian di pagi hari, dan giliran sayalah yang harus menatanya di jemuran. Setelah urusan jemuran selesai, saya harus bergegas merapikan dan membersihkan seluruh area rumah.

Hari ini rumah kami akan kembali kedatangan anak-anak yang belajar les, sehingga kebersihan rumah menjadi prioritas agar proses belajar mengajar terasa nyaman. Rasa lelah tentu mulai menggerogoti tubuh sejak pagi.

Namun untuk menyiasatinya, saya memutar musik kesayangan sebagai penawar rasa penat. Diiringi alunan nada, saya membersihkan ruangan demi ruangan dengan tenang, menyiapkan meja dan peralatan belajar sebelum anak-anak datang.

1000195107.jpg

ngajar Putra

Anak didik pertama yang datang adalah Putra. Dia adalah anak yang tekun dan fokus mempelajari materi Sains (IPA) serta Bahasa Inggris. Setelah menyelesaikan sesi satu jam bersama Putra, murid berikutnya langsung menyusul, yaitu Rasya.

Rasya berfokus pada materi Calistung (membaca, menulis, dan berhitung). Hati saya rasanya sangat lega dan bersyukur melihat perkembangan Rasya yang sangat pesat. Saat ini dia sudah mampu membaca dua suku kata dengan sangat lancar.

1000195108.jpg

ngajar Rasya

Untuk menjaga motivasinya, kami juga menyelingi sesi belajar dengan permainan kuis edukatif di laptop, metode yang sama yang juga saya terapkan kepada Putra. Namun, jeda napas saya hari itu sangatlah singkat.

1000195109.jpg

Ngajar cidah

Belum sempat melepas lelah, Cidah sudah tiba untuk belajar Bahasa Inggris. Tak lama berselang, Rafki pun datang. Kadang saya tersenyum sendiri memikirkan betapa sibuknya rutinitas ini.

Walaupun saya belum memiliki tanggungan keluarga yang besar, rasanya jadwal bekerja saya begitu padat tanpa ada istilah hari libur.

Tantangan mengajar mencapai puncaknya ketika beberapa anak datang secara bersamaan. Di ruangan ada Rafki, Naki yang belajar mengaji, Chidda dengan materi Bahasa Inggrisnya, serta Nafisa yang baru saja bangun tidur dan langsung minta diajari les.

Mengingat banyaknya anak dalam satu forum, saya harus membagi fokus dengan sangat cermat dan adil. Saya menerapkan sistem rotasi yang membutuhkan tingkat konsentrasi tinggi.

Ketika Rafki sedang mengerjakan tugas menulis, saya fokus membimbing Naki membaca Al-Qur'an. Ketika Naki sedang menyalin bacaan, perhatian saya beralih untuk menjelaskan materi kepada Rafki.

Saat Rafki dan Naki sama-sama sibuk menulis, saya mengalihkan bimbingan penuh kepada Chidda. Dan ketika ketiganya sedang fokus pada tugas masing-masing, giliran Nafisa yang saya dampingi. Nafisa pun ga mau kalah. Abis bangun tidur minta les.

1000195111.jpg

Nafisa bangun tidur dah minta les

Sistem pergantian yang simultan ini cukup menguras energi, namun harus tetap dijalankan dengan penuh kesabaran agar semua anak mendapatkan perhatian yang cukup.

1000195115.jpg

sampe pakeett

Setelah satu jam lebih mengelola dinamika kelas mendadak ini, akhirnya sesi pagi selesai. Tiba-tiba sampe paket mamak dan saya langsung bayar. Setelah itu saya bisa bernapas lega dan beristirahat sejenak untuk menenangkan pikiran.

Setelah menunaikan salat zuhur dan istirahat secukupnya, tepat pukul tiga sore saya harus melanjutkan perjalanan menuju rumah Ulfa dan Awi untuk mengajar les privat.

Ulfa dan Awi adalah tipe anak yang sangat pemalu dan tergolong anti kamera, sehingga mereka selalu menolak jika diminta untuk diabadikan dalam foto atau video.

Selama satu setengah jam, saya membimbing mereka memperdalam kosakata serta tata bahasa Bahasa Inggris. Melihat kemajuan belajar mereka yang konsisten memberikan kepuasan tersendiri bagi saya sebagai seorang pengajar.

1000195113.jpg

ngajar Ghania

Sekembalinya ke rumah dari tempat Ulfa dan Awi, tugas baru sudah menanti. Gania sudah menunggu di rumah. Gania adalah murid jenjang TK yang sedang belajar Calistung.

Mengajar anak seusia Gania membutuhkan kesabaran ekstra tinggi karena jemari mungilnya masih sering gemetar saat memegang pensil untuk menulis.

Sebenarnya, Gania merupakan bagian dari tugas adik saya, Uun. Namun karena Uun masih merasa kurang terbiasa menghadapi karakteristik anak yang sangat kecil, akhirnya saya yang mengambil alih bimbingan secara langsung.

Meskipun lelah, mengajar Gania selalu membawa kehangatan tersendiri. Dia adalah anak yang sangat manis, cerdas, pandai berbicara, dan santun.

Sifatnya yang menggemaskan membuat rasa lelah saya perlahan memudar. Setelah satu jam belajar dengan tekun, orang tuanya datang untuk menjemputnya pulang.

Sore berganti malam, namun ritme kerja belum sepenuhnya usai. Setelah menyempatkan diri untuk makan, melaksanakan salat Asar, mandi, dan menunaikan salat Magrib, dua murid untuk sesi malam sudah hadir di rumah: Rafa dan Radit.

Saya menyempatkan diri terlebih dahulu untuk mengantarkan adik saya pergi mengaji ke tempat pengajian setempat sebelum memulai sesi les malam ini. Saat kembali ke rumah, ternyata Farel juga datang bergabung.

Seharusnya Farel memiliki jadwal les di malam Jumat, namun karena suatu hal dia baru bisa datang malam ini. Pada akhirnya, saya harus mengajar tiga anak sekaligus.

1000195114.jpg

Ngajar Rafa, Farel dan Radit

Farel, Rafa, dan Radit. Untuk menghemat pembagian tugas, Radit didampingi oleh Uun, sedangkan Rafa dan Farel yang sama-sama mempelajari Bahasa Inggris saya pegang langsung. Untuk menguji pemahaman mereka, saya membuka sesi dengan kuis interaktif.

Alhamdulillah, keduanya menunjukkan pemahaman yang sangat baik dan bersaing secara sehat. Proses mengajar sesi malam ini berlangsung cukup panjang, memakan waktu hingga lebih dari dua jam.

Farel menyelesaikan studinya pada pukul 20.05 WIB, sedangkan Rafa dan Radit baru tuntas pada pukul 21.20 WIB. Sesi penutup ini benar-benar menguras sisa-sisa energi yang saya miliki sepanjang hari.

Setelah seluruh murid pulang, ada rasa lega yang luar biasa. Beban seharian rasanya terangkat sepenuhnya. Setelah beristirahat sejenak dan meregangkan otot yang kaku, saya keluar rumah sebentar untuk mencari makanan guna mengisi tenaga.

Sepulangnya ke rumah, saya menunaikan salat Isya dan membaca Al-Qur'an sebagai penutup rangkaian aktivitas. Tanpa menunggu waktu lama, saya langsung beristirahat untuk mengistirahatkan tubuh yang sudah berada di titik puncak kelelahan.

Menjalani hari yang padat dari subuh hingga malam hari tentu sangat melelahkan secara fisik maupun mental. Namun di balik rasa lelah yang teramat sangat, ada rasa syukur mendalam yang selalu memenuhi hati.

Bisa menjadi bagian dari proses tumbuh kembang dan pendidikan anak-anak adalah sebuah kebanggaan tersendiri. Semoga setiap keringat dan lelah yang tercurah menjadi amal ibadah serta membawa keberkahan bagi kita semua.

Terima kasih banyak kepada teman-teman yang sudah membaca cerita perjalanan saya hari ini. Sampai jumpa di tulisan dan cerita saya berikutnya!

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sort:  
 2 days ago 

Wa Alaikum Assalam!
Your Friday was truly a very busy but meaningful day. From taking care of the household in the morning to teaching so many children throughout the day, you handled every responsibility with remarkable patience and dedication. I especially loved how you adjusted your teaching methods according to each child's needs, using quizzes and rotation to make sure everyone received proper attention. Seeing Rasya improve in reading and watching the children learn must be very rewarding.
Even though the day left you physically and mentally exhausted, your gratitude and love for teaching really shine through your story. May Allah bless your hard work, give you strength, and make all your efforts a source of goodness and blessings. Thank you for sharing such an inspiring day with us!

#s34engagement.

 yesterday 

Terimakasih sudah mengunjungi ceritaa sayaaaa semoga hari hari andaa selalu membahagiakan 🫶