The Diary Game 26-01-2026 Tiba-tiba Dapat Panggilan dari Dosen
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Halo sahabat stemians semuanya 🤍
Senang sekali rasanya bisa kembali menyapa kalian di komunitas luar biasa ini. Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan, kelancaran rezeki, dan kemudahan dalam setiap urusan. Aamiin.
Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi sedikit cerita tentang keseharian saya sebagai seorang guru. Iya, sekarang saya sudah benar-benar menjadi guru, walaupun kadang masih suka mengeluh kecil dalam hati sambil bilang, “kok udah jadi guru aja ya” huhuhu 😄. Tapi semua itu tetap saya syukuri.
Pagi hari saya sebenarnya diawali dengan kejadian yang cukup mengejutkan. Sekitar jam enam pagi, dosen saya tiba-tiba menelepon dan meminta tolong kepada saya untuk membantu menyelesaikan laporan kepuasan mahasiswa terkait pengajaran dosen di kampus. Dalam kondisi masih setengah sadar dan masih linglung, saya tetap mengiyakan permintaan tersebut. Bersama rekan saya, Rati, kami langsung membuka laptop sejak pagi dan mulai mengerjakan laporan itu dengan serius. Jujur saja, pagi itu terasa sangat terburu-buru karena di waktu yang sama saya juga harus bersiap berangkat ke sekolah.
Karena fokus mengerjakan laporan, saya sampai tidak sempat benar-benar mempersiapkan diri seperti biasanya. Akhirnya saya berangkat ke sekolah dengan keadaan seadanya, membawa “alat tempur” spidol, dan berjalan kaki bersama anak saya. Setibanya di sekolah, saya sempat meninggalkan kelas sebentar untuk menyelesaikan beberapa bagian laporan yang masih tertunda. Setelah itu barulah saya kembali masuk ke kelas dan mulai mengajar seperti biasa.
lebih santai dan ceria. Saya mengajar matematika, khususnya materi perkalian dengan metode penjumlahan. Pembelajaran saya buat sambil bercerita agar anak-anak tidak mudah bosan, tetapi tetap fokus pada materi. Alhamdulillah, hanya sekitar tiga sampai lima siswa yang masih mengalami kesulitan, dan selebihnya sudah mulai memahami.
Menariknya, di sela-sela kegiatan belajar, saya juga masih harus melanjutkan pengerjaan laporan tersebut. Jadi sambil mendampingi anak-anak mengerjakan tugas, saya menyalakan laptop dan melanjutkan pekerjaan saya. Agar suasana kelas tetap hidup dan anak-anak tidak merasa diabaikan, saya mengajak mereka bernyanyi bersama. Sambil bernyanyi, saya tetap mengontrol pekerjaan mereka, memastikan tugas-tugas matematika dikerjakan dengan baik. Fokus saya benar-benar terbagi antara tugas kampus dan tanggung jawab sebagai guru, tetapi Alhamdulillah semuanya bisa berjalan.
Setelah pelajaran selesai, tibalah waktu MBG yang selalu ditunggu anak-anak. Menu hari itu adalah ayam geprek dengan buah sebagai pelengkap. Setiap kelas mendapatkan buah yang berbeda-beda, ada yang kelengkeng, timun, dan jeruk. Porsi pun disesuaikan dengan jenjang kelas, kelas rendah mendapat porsi lebih kecil dibandingkan kelas tinggi. Anak-anak terlihat sangat menikmati makanan tersebut.
Usai MBG, saya masuk ke kantor guru untuk berbincang santai bersama rekan-rekan guru. Tidak lama kemudian, saya kembali ke kelas untuk menguji pemahaman siswa terkait perkalian yang sudah dipelajari. Waktu terasa berjalan cepat, tidak terasa sudah mendekati jam sebelas siang, dan saya pun mempersilakan anak-anak pulang.
Setelah siswa pulang, kami para guru juga menyelesaikan aktivitas dan kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, rasa lelah mulai terasa. Saya beristirahat sejenak, makan siang, lalu tidur hingga sore hari karena kondisi tubuh memang cukup terkuras sejak pagi.
Sore harinya, kami masih memiliki kegiatan tambahan di rumah, yaitu membuat tempat penampungan air dari semen yang bentuknya seperti sumur kecil. Pekerjaan ini cukup berat karena harus mengangkat bahan dari depan ke belakang rumah. Setelah itu, menjelang Maghrib, kami mandi dan bersih-bersih.
Malam harinya, saya sempat keluar membeli buah salak. Keluarga kami memang pencinta buah, jadi tidak butuh waktu lama sampai buahnya habis. Ditambah lagi, sejak pagi kami belum sempat makan nasi karena regulator gas rusak, sehingga tidak bisa memasak. Akhirnya saya membeli nasi Bu Perang, sate Padang, dan juga martabak. Rasanya benar-benar seperti orang berbuka puasa karena sangat lapar.
![]() | ![]() |
|---|
![]() | ![]() |
|---|
Setelah makan bersama, regulator gas akhirnya diperbaiki dan bisa digunakan kembali. Malam itu saya menutup hari dengan membersihkan diri, gosok gigi, lalu beristirahat. Hari yang panjang, melelahkan, penuh peran dan tanggung jawab, tetapi tetap saya syukuri sepenuh hati.
Terima kasih kepada sahabat stemians yang sudah meluangkan waktu membaca cerita sederhana saya. Semoga kita semua selalu diberi kekuatan dalam menjalani setiap peran yang kita emban 🤍
Sampai jumpa di cerita berikutnya.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.








Upvoted! Thank you for supporting witness @jswit.