The Diary Game – Meugang Kecil yang Penuh Cerita (17-02-2026)
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Halo sahabat stemians, senang sekali rasanya bisa kembali menyapa teman-teman semua di komunitas luar biasa ini. Semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat walafiat dan dilancarkan segala urusan.
Hari ini terasa berbeda karena suasana sudah mulai mendekati bulan suci Ramadhan. Di Aceh, momen seperti ini identik dengan tradisi Meugang. Walaupun yang kami jalani kali ini bisa dibilang Meugang kecil, rasanya tetap hangat dan penuh makna.
Seperti biasa, pagiku dimulai dengan aktivitas rumah. Kalau sudah dekat bulan puasa, pekerjaan utama tentu saja beres-beres. Aku mulai dari membersihkan lantai, menyapu, dan merapikan ruangan. Setelah itu, aku mencuci pakaian lalu menjemurnya di luar. Udara pagi terasa segar, membuat pekerjaan terasa lebih ringan walaupun sebenarnya cukup melelahkan.
![]() | ![]() |
|---|
Setelah urusan bersih-bersih selesai, aku masuk ke dapur untuk membantu ibu memasak. Di dapur suasananya sudah ramai. Kami memasak sayur bening, ikan, dan tentu saja daging sapi goreng. Aku juga ikut membuat terasi. Aroma masakan benar-benar menggoda selera. Rasanya selalu ada kebahagiaan tersendiri ketika bisa membantu orang tua, apalagi dalam suasana menjelang Ramadhan seperti ini.
Selesai membantu, aku istirahat sejenak. Badan terasa agak capek, tapi hati senang. Tidak lama kemudian, waktu Dzuhur tiba. Setelah sholat, aku duduk santai sebentar sambil menikmati waktu istirahat.
![]() | ![]() |
|---|
Menjelang sore, aku kembali beraktivitas ringan di rumah sebelum sholat Asar. Setelah itu, aku pergi ke Meunasah untuk mengambil daging sapi yang dibagikan oleh pemerintah. Alhamdulillah, setiap KK mendapatkan satu kilo daging sapi dan satu kilo beras. Rasa syukur yang sederhana, tetapi sangat berarti bagi kami.
Sepulang dari Meunasah, aku mampir untuk membeli buah. Menjelang puasa, buah rasanya wajib ada di rumah. Kami membeli salak satu kilo dengan harga Rp20.000. Tidak banyak, tapi cukup untuk dinikmati bersama.
Hari belum selesai. Aku pergi ke kebun bersama adikku, Amel. Kami menanam jagung di tanah yang masih lembap bekas banjir. Tanahnya agak liat, jadi sedikit sulit, tapi justru di situlah serunya. Tangan penuh tanah, kaki kotor, tapi suasana terasa menyenangkan. Aku juga sempat melihat sawah yang mulai terisi air hujan. Embun dan udara sore terasa sejuk sekali.
![]() | ![]() |
|---|
Setelah pulang dari kebun, aku mencoba membuat masker wajah dari bahan rumput laut dan jinten. Semua bahan dicuci bersih, direbus sebentar, lalu diblender. Rasanya lucu juga bereksperimen dengan perawatan wajah versi rumahan. Katanya bagus untuk melembapkan dan mencerahkan kulit.
Tak terasa Maghrib pun tiba. Kami mandi lalu sholat Maghrib. Mama pulang membawa nasi uduk, dan kami makan bersama di rumah. Suasana terasa hangat dan tenang.
Malam harinya, ada sedikit drama kecil tentang Wi-Fi dan pulsa darurat. Kami sempat bingung karena saldo terpotong Rp20.000. Mama yang membayar jadi sedikit cerewet, tetapi akhirnya malah jadi bahan cerita yang membuat kami tertawa.
Tidak lama kemudian, uun datang membawa camilan seperti air jeruk, bakso, dan jajanan dari Alfamart. Malam yang awalnya terasa membosankan berubah jadi lebih seru. Kami ngobrol santai sambil menikmati makanan.
Sebelum tidur, aku mencuci muka, gosok gigi, lalu merapikan pakaian yang disuruh Mama karena air sedang hidup. Hari yang terasa panjang, cukup melelahkan, tetapi penuh cerita dan kebersamaan.
Alhamdulillah untuk hari ini.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.









Upvoted! Thank you for supporting witness @jswit.