Peristiwa Bencana Banjir Di Kota Lubuk Pakam

in Hot News Community2 months ago

Halo semuanya, teman-temanku, sahabat-sahabat stemian 🤍
Maaf ya kalau beberapa hari ini aku jarang banget posting apa pun. Bukan tanpa alasan, tapi karena di negaraku, Indonesia khususnya di Pulau Sumatera sedang terjadi bencana banjir bandang dan tanah longsor. Dan kebetulan, aku tinggal di daerah yang terkena dampak langsung dari bencana tersebut.

Awalnya, semua terasa biasa saja. Sekitar seminggu penuh, di tempatku hujan turun tanpa henti. Nggak ada matahari sama sekali. Kadang hujannya deras, kadang cuma gerimis, tapi terus-menerus, siang dan malam. Kami sempat mikir, “Ah, paling hujan biasa.” Walaupun di berita TV sudah banyak daerah lain yang dilanda banjir bandang dan longsor sejak tanggal 26 November, di tempat kami saat itu masih aman, hanya hujan yang tak kunjung berhenti.

Sampai akhirnya, tanggal 27 November, semuanya berubah.

ketika kami pikir masih hujan biasa

Pagi hari masih terlihat normal. Air belum naik, jalanan cuma becek seperti biasa. Bahkan aku, sepupu, dan adikku masih sempat keluar rumah buat beli bakso. Kami makan santai di luar, sama sekali nggak kepikiran kalau hari itu akan jadi hari yang menegangkan.

makan bakso dengan santai

Tapi pas mau pulang… kami mulai sadar ada yang nggak beres. Jalanan sudah mulai tergenang air. Ada yang setinggi mata kaki, ada yang sampai lutut, bahkan beberapa motor sudah hampir tenggelam setengah.

Motor yang kami pakai sudah nggak bisa digas sama sekali. Kami terpaksa mendorong motor di tengah genangan air. Beberapa rumah di sekitar jalan sudah mulai kemasukan air. Jujur, di situ aku mulai panik. Dalam hati mikir, “Gimana ya kondisi rumah kami? Apa sudah kemasukan air juga?”

kejebak banjir

Kami berusaha keluar dari genangan menuju daratan yang lebih tinggi. Begitu sampai, motor langsung kami naikin lagi dan ngebut pulang ke rumah. Dan benar saja, di daerah rumahku air juga sudah naik. Waktu itu belum masuk ke dalam rumah, tapi jaraknya tinggal sedikit banget.

Sekitar jam 5 sore, Mama langsung sigap. Kami disuruh angkat barang-barang penting, bungkus baju, dan lempar ke atas lemari. Mama sudah yakin, malam itu kami nggak mungkin tidur di rumah kejadian ini mirip seperti 20 tahun yang lalu kata mama. Kami diminta bersiap untuk mengungsi ke rumah wawak yang posisinya lebih tinggi.

Dan benar… sekitar jam 6 sore, air mulai masuk ke rumah. Awalnya setinggi mata kaki, lalu naik sampai betis. Kami nggak punya pilihan selain pergi. Kami mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Tapi ternyata belum selesai sampai di situ.

kondisi rumah kami terkena banjir

Sekitar jam 10 malam, air kembali naik dan rumah Bawa juga mulai kemasukan air, walaupun belum terlalu parah. Tapi sekitar jam 2 pagi, situasinya makin nggak aman. Kami dapat telepon dari tetangga yang punya rumah tingkat dua. Tanpa banyak pikir, kami langsung angkat barang lagi, berjalan di tengah air dengan mata ngantuk dan badan capek, menuju rumah tersebut.

IMG_20251210_162923.jpg

mengungsi ke tempat lebih tinggi

Akhirnya kami mengungsi di sana. Dan keesokan paginya, baru benar-benar terasa… kalau kami terlambat sedikit saja, entah apa yang akan terjadi.

IMG-20251128-WA0016.jpeg

IMG-20251128-WA0019.jpeg

suasana di pagi hari

Pagi itu kami bingung soal makanan. Untungnya, Mama punya peliharaan bebek cukup banyak. Akhirnya kami potong empat ekor bebek dan masak bersama untuk sekitar delapan keluarga. Sederhana, tapi terasa hangat dan penuh syukur.

Alhamdulillah, tidak ada rumah yang hanyut, tidak ada korban jiwa. Hanya sisa lumpur, air, dan pekerjaan berat membersihkan rumah setelah banjir surut. Walaupun hanya dua hari, rasanya tegang, capek, dan bikin trauma juga.

Semoga kita semua selalu diberi perlindungan, dan semoga alam kembali bersahabat 🤍