The March contest #1 by sduttaskitchen|Significance of Family!
Kontes yang diselenggarakan oleh ibu @sduttaskitchen tentang Significance of Family! adalah menggambarkan betapa hebatnya cinta dan kasih sayang setiap orang tua kepada anak-anak mereka, meskipun endingnya mereka tidak lebih baik dari anak-anak yang hidup tanpa orang tua, karena kesuksesan anak bukanlah warisan "pindah tangan" tapi diwariskan oleh nilai-nilai budaya dan skema pola asuh keluarga. Ini artinya setiap orang tua bertanggungjawab penuh sebagai pengasuh yang baik bagi kelangsungan hidup anak-anak mereka. image pixabay
Setiap negara dan setiap kelompok masyarakat memiliki nilai-nilai berbeda yang dibentuk oleh faktor sosial dan budaya, dan hal ini merupakan cara mendasar setiap orang tua mendidik dan membesarkan anak-anak mereka. Jika karakter adalah pondasi, disiplin sebagai alat, dan pendidikan adalah hasil, maka ketiganya aku anggap satu paket yang saling mendukung. Pertanyaannya "apakah setiap orang tua dapat menginplementasikannya? Secara teori mungkin iya, namun secara praktis belum tentu.
Ya, pengaruh keluarga selama masa kanak-kanak adalah hal penting yang tidak dapat diremehkan.
Role model adalah faktor utama ! Namun hasil akhir tidak selamanya ditentukan oleh pola asuh orang tua. Di zaman modern faktor eksternal atau lingkungan sosial lebih dominan dan berperan aktif membentuk karakter setiap anak meskipun ia berada dalam arutan keluarga yang ketat.
Salah satu pengaruh keluarga (orang tua) adalah warisan biologis dimana potensi dasar otak (intelektual) merupakan genetika yang terbentuk tanpa direncanakan sebelumnya. Aku mengakui bahwa ini adalah kelebihan istimewa yang tidak diwariskan oleh semua keluarga dan kepada setiap anak.
Jenis budaya keluarga mana yang anda sukai, dan alasannya.
Orang tua di Jepang umummya membiarkan hak otonom (kemandirian) anak-anak mereka sejak usia 7 tahun seperti pulang dan pergi ke sekolah sendiri, berbelanja sendiri bahkan mengatur jam tidur sendiri. Kemandirian sejak usia dini tersebut awalnya diciptakan dengan cara dilatih sebelum kemudian diberikan kebebasan (dilepaskan). Singkatnya kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh kombinasi nilai-nilai budaya dan sistem sosial masyarakat di negeri sakura tersebut.
Fenomena tersebut berbeda dengan Negara saya Indonesia, dimana anak-anak usia dini (pelajar Sekolah Dasar) masih harus didampingi oleh orang tuanya saat berangkat ke sekolah dan saat pulang sekolah. Bukan hanya perbedaan budaya semata, namun disebabkan rendahnya kemanan publik dan dukungan infrastruktur. Jadi, saya dengan berat hati mengatakan lebih menyukai budaya keluarga negara Jepang.
Analisis keuntungan dan kerugian terkait berbagai struktur keluarga, termasuk keluarga besar, keluarga inti dan keluarga profesional.
Tentu saja, setiap struktur keluarga memiliki konsekuensi berbeda meskipun tujuan utama adalah membangun kemandirian seorang anak.
Proses pencapaian tujuan akhir untuk setiap individu (anak) bukanlah hal mudah, struktur keluarga saya adalah "keluarga besar" namun dalam kehidupan sehari-hari saya sangat sulit menginplementasikan sebagaimana konsep keluarga besar sesungguhnya, yang "seharusnya" keluarga besar didukung oleh jaringan dan bantuan emosional yang kuat, serta dukungan keterampilan sosial karena dapat berinteraksi dengan beberapa generasi (ayah, ibu, kakek dan nenek).
Jika dibandingkan struktur keluarga inti yang lebih fokus pada skema pola asuh mandiri dan peran dua orang tua lebih efektif karena leluasa untuk membentuk karakter anak tanpa intervensi generasi lain dalam keluarga. Tapi menurutku, kedua struktur keluarga ini memiliki kekurangan yakni: anak merasa terisolasi dari lingkungan sosial yang luas dibandingkan dengan kehidupan anak dalam struktur keluarga profesional.
Saya pribadi tidak benar-benar memahami bagaimana situasi mental dan karakter anak yang hidup dalam struktur keluarga profesional, karena makna kehidupan modern bukan berarti kedua orang tua harus disibukkan dengan pekerjaan dan bisnis mereka setiap hari.
Tentu saja kelebihan dan kekurangan adalah hasil dari konsekuensi setiap kebijakan keluarga itu sendiri. Profesional family adalah struktur dimana setiap anak didukung oleh finansial dan fasilitas yang memadai, anak secara langsung mendapatkan role model tentang disiplin dan kerja keras dari orang tuanya, mandiri atau mampu mengelola waktu dan rutinitas harian mereka sendiri. Salah satu kekurangan adalah kurangnya sentuhan emosional dan kasih sayang keluarga. image pixabay
Catatan: Dalam struktur keluarga manapun setiap anak memiliki karakter berbeda karena nilai-nilai sosial dan budaya, namun hal "lumrah" jika itu akan menyulitkan setiap orang tua untuk mendidik dan mengendalikan sifat anak-anak mereka dengan baik.
Sekian partisipasi saya, semoga anda berkenan! Terima kasih banyak atas kunjungan dan mungkin anda membacanya..
salam,
@ridwant


Penjelasan yang sangat luar biasa pak, semoga anda beruntung, sepertinya orang cina juga demikian cara mendidik anaknya, saya melihat kawan saya yang di gembleng orang tuanya sejak kecil sehingga mereka sangat disiplin dengan waktu dan belajar dengan baik walaupun ketika di kelas mereka asik ngobrol bersama temannya saat guru sedang menjelaskan akan tetapi kalau disuruh kedepan untuk menyelesaikan soal mereka pasti bisa dan menyelesaikan dgn sangat cepat.
Sehingga guru saya waktu itu tidak merasa terganggu ketika mengajari mereka les kimia dan anak-anak tersebut berbicara di kelas, walaupun kita pikir mereka asik ngobrol dan tidak menyimak tapi ternyata mereka tetap fokus dengan apa yang di jelaskan oleh gurunya.
Beda lagi dengan anak-anak lain ketika sedang belajar sibuk ngobrol dan ketika di suruh kedepan malah bengong dan tak tahu apa-apa.
Walaupun tidak semua juga yang seperti itu tapi mayoritas seperti itu, benar kan pak?
0.00 SBD,
11.09 STEEM,
11.09 SP
Terimakasih temanku atas dukungannya 🙏
Benar Bu Suryani, semua karakter anak dimulai oleh didikan melalui nilai-nilai budaya pada diri setiap orang tua, pola asuh dan dipengaruhi oleh kelompok sosial masyarakat itu sendiri.
Terima kasih banyak atas komentan bermanfaat anda di postingan ini..🙏
Sama-sama pak
Terimakasih pak atas dukungannya 🙏
I agree the situation and circumstances differ in all countries, what is true for Indonesia, as you said where young children getting accompanied by their parents when going to and returning from school it's true to great extent in India too but in advanced countries to make their children independent they leave them on their own to take their decision after a certain age . Yes, that's true, the matter might differ based on public safety and infrastructure support.
You prefer the family culture of Japan but as a resident of Australia, I love their way . You have a great analysis of the situation, all the best.
0.00 SBD,
11.08 STEEM,
11.08 SP
Thank you very much sir @dove11 for your comments and additional knowledge for us 🙏
https://x.com/i/status/2029241204010086574
Thank you @ninapenda 🙏