SANG PEMIMPI (4)
Sepuluh tahun setelah pondasi pertama sekolah itu tertanam di tanah Gunung Lagan, desa itu kini memantulkan cahaya gemerlap. Jalanan beraspal mulus membelah permukiman padat. Deretan ruko berjejer rapi, memamerkan aneka barang dagangan. Di antara hiruk pikuk klakson kendaraan yang melintas, gedung sekolah berdiri kokoh, kini dikelilingi oleh bangunan-bangunan megah,beberapa swalayan, rumah sakit, kantor-kantor pemerintahan, bahkan sebuah akademi keperawatan kecil yang menarik mahasiswa dari kota-kota tetangga.
Abak duduk di kursi roda di beranda rumahnya yang sederhana, sebuah anomali di tengah kemewahan baru. Ia menyesap teh herbal, aroma melati menguar lembut bersama uap hangat. Rambutnya memutih di pelipis, namun sorot matanya tetap tajam, memancarkan kebijaksanaan yang mendalam. Di depannya, hamparan desa yang dulu sepi kini hidup, berdenyut dengan energi tak terhingga.
Seorang pemuda, berbalut seragam rapi dengan lencana universitas di dadanya, mendekat. Wajahnya berseri-seri, senyumnya lebar.
“ pak,” sapa pemuda itu, suaranya renyah, “Saya sudah siap untuk berangkat ke medan. Beasiswa melanjutkan s2, akhirnya saya dapat.”
Abak menoleh, senyum tipis mengembang di bibirnya. “Bagus, Nak. Ingat, ilmu bukan hanya untuk disimpan. Bawa pulang, bangun kampung kita.”
Pemuda itu mengangguk mantap. “Pasti, Pak. Seperti yang Bapak ajarkan. Dulu, kami tak pernah membayangkan bisa sekolah tinggi, apalagi keluar dari Lagan.” Ia menunjuk ke arah gedung-gedung dan mesjid di kejauhan. “Semua karena Bapak.”
Abak mengalihkan pandangannya kembali ke cakrawala. “Bukan karena Bapak. Karena kalian. Kalian yang mau belajar, yang mau berubah.”
“Tapi Bapak yang membuka jalan,” Pemuda itu bersikeras. “Bapak ingat, dulu orang-orang menertawakan Bapak? Mengatakan Bapak aneh, membangun sekolah di tengah hutan?” Nada suaranya bergetar, mengenang masa lalu.
Abak tertawa pelan, renyah. “Tentu saja ingat. Mereka punya hak untuk meragukan. Aku juga meragukan diriku sendiri, kadang-kadang.”
“Tidak mungkin,” Pemuda itu menggeleng tak percaya. “Bapak selalu terlihat yakin.”
“Yakin bukan berarti tanpa keraguan,” Abak menjelaskan, matanya menerawang. “Yakin itu tentang memilih untuk terus melangkah, meski keraguan itu terus membayangi.” Ia menatap pemuda itu lekat. “Sekarang giliranmu melangkah. Jangan biarkan keraguan menghentikanmu.”
Pemuda itu mengangguk, dadanya membusung. “Saya tidak akan mengecewakan Bapak.” Ia membungkuk hormat, lalu beranjak pergi, langkahnya ringan penuh harapan.
Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya dengan kerudung sederhana mendekat, membawa nampan berisi kue-kue tradisional. Ia adalah Bu misnah, salah satu penduduk pertama yang mendukung Abak, yang dulu ragu namun akhirnya percaya.
“ini kue beras kesukaan Bapak,” Bu misnah meletakkan nampan di meja. Kerutan di wajahnya kini terlihat lebih damai.
“Terima kasih, Bu misnah,” Abak mengambil sepotong kue. “Masih nikmat seperti dulu.”
“Desa kita sudah berubah banyak, ya, Pak,” Bu misnah menghela napas, matanya menyapu pemandangan. “Dulu, jangankan sekolah, listrik saja susah. Sekarang, anak-anak kita bisa jadi dokter, insinyur.”
“Anak-anak itu bibit unggul,” Abak mengunyah kue dengan perlahan. “Hanya butuh tanah yang subur dan air yang cukup.”
“Dan Bapak yang menyediakan tanah dan air itu,” Bu misnah tersenyum tulus. “Ingat, dulu kami ini orang-orang bodoh. Bapak datang, membawa mimpi yang kami tak pernah tahu ada.”
Abak tersenyum, menggelengkan kepala. “Kalian bukan bodoh, Bu misnah. Kalian hanya tidak punya kesempatan. Sekarang, kesempatan itu ada di mana-mana.”
“Apakah Bapak pernah menyesal, dulu orang-orang menganggap Bapak aneh?” Bu misnah bertanya, nada suaranya hati-hati.
“Menyesal?” Abak mengulang, memiringkan kepala. Ia menatap langit biru yang membentang luas di atas Gunung Lagan. “Tidak. Setiap cibiran, setiap keraguan, itu seperti pupuk. Membuat akarku makin kuat mencengkeram bumi.” Ia menghela napas, sebuah kelegaan yang mendalam. “Lihatlah sekarang. Gunung Lagan bukan lagi desa sepi. Ini adalah permata.”
Bu misnah mengangguk, air mata berkaca-kaca di pelupuk matanya. “Bapak telah menyemangati kami.’’
Abak hanya tersenyum, tidak menanggapi. Ia tahu, perjuangan bukan tentang gelar atau pengakuan. Perjuangan adalah tentang melihat tunas-tunas harapan tumbuh, berkembang, dan suatu hari nanti, berbuah. Ia melihat pemuda tadi berjalan menjauh, bayangannya memanjang di jalanan yang baru. Di kejauhan, menara mesjid Taqwa muhammadiyah menjulang tinggi, membelah langit, sebuah monumen bisu bagi keanehan seorang Abak yang telah mengubah sepi menjadi denyut kehidupan, hutan menjadi peradaban. Ia adalah arsitek dari mimpi yang dulu ditertawakan, kini menjadi kenyataan yang tak terbantahkan. Gunung Lagan, kini bukan hanya nama sebuah tempat, tapi sebuah kisah tentang ketekunan, visi, dan kekuatan sebuah ide yang berani.
