Sungai adalah sumber kehidupan

Hagoe's Village: Jan, 29th 2026
Sungai sebagai sumber kehidupan bukanlah slogan kosong, karena sungai memang memiliki fungsi sebagai sumber air bersih, irigasi, transportasi, bahkan menjadi habitat ekosistem (habitat bagi flora dan fauna) yang merupakan penopang ekologis.
Sungai itu sendiri terdiri dari beberapa bagian sesuai letaknya yaitu bagian hulu, tengah, hilir, anak sungai dan muara, dimana secara alamiah bagian-bagian ini berfungsi untuk mengantarkan air yang berasal dari hulu menuju laut agar tidak terjadi dampak dan kerusakan bagi kehidupan manusia.
Namun terkadang malah manusia itu sendiri yang merusak/mengganggu siklus ini, dimana bila terjadi deforestasi dan sungai menjadi rusak maka air hujan akan berlimpah dan menyebabkan banjir dimana-mana.
Sungai di depan rumahHampir sebulan lamanya tidak turun hujan di daerah kami, yang sebenarnya memang aku harapkan agar aku bisa membereskan rumah kami pasca bencana ekologis yang lalu, karena dengan demikian maka endapan lumpur yang masih tersisa akan menjadi keras dan aku bisa membereskan rumah dengan lebih mudah.
Dengan tidak turunnya hujan dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan debit air sungai di depan rumah kami menjadi jauh berkurang, sehingga sungai menjadi tempat yang sering digunakan oleh warga untuk memancing ikan.
Dalam konteks adikku, dia bisa lebih mudah memasang jaring ikan sehingga dia bisa mendapatkan ikan-ikan yang lebih banyak.
Tukang sedang menggali paritAkibat bencana ekologis yang cukup parah beberapa waktu yang lalu, halaman rumah kami dipenuhi oleh endapan lumpur dan menyebabkan parit-parit menjadi tersumbat bahkan hilang tertutup oleh endapan lumpur.
Dan sistem pembuangan air pun menjadi bermasalah sehingga kami harus memanggil tukang untuk menggali parit di halaman rumah kami, seperti yang kami lakukan di pagi ini.
Ikan SaleePagi ini adikku mendapatkan beberapa ekor ikan saja dari jaring ikan yang dipasangnya di sungai di depan rumah kami.
Adikku selalu memasang beberapa jaring ikan di sepanjang sungai depan rumah kami, dan biasanya dia mendapatkan cukup banyak ikan di pagi dan sore harinya.
Tetapi memang ikan yang didapatkan itu jumlahnya bervariasi. Terkadang cukup banyak, kadang sedikit bahkan pernah tidak mendapatkannya sama sekali.
Saat bencana ekologis beberapa waktu yang, kami bisa survive dengan ikan-ikan yang kami dapat di sungai ini, karena sumber makanan kami sudah habis dan kami tidak bisa kemana-mana, karena terkurung oleh banjir.
Kopi espressoPagi ini aku membuatkan sarapan ku sendiri berupa telur rebus dan segelas kopi espresso panas tanpa gula, dan kemudian bersiap-siap untuk mengantarkan anak-anak ke tujuannya masing-masing.
Si kecil Alvira akan masuk sekolah dan si kakak akan ke tempatnya bekerja. Dan setelah selesai mengantarkan mereka, aku akan ke Puskeswan Matangkuli untuk melakukan presensi pagi dan melaksanakan tugasku sebagai ASN di Pemerintah Kabupaten Aceh Utara.
Ke sungai lagiSetelah selesai makan siang dan melaksanakan sholat Zuhur, aku hanya istirahat di rumah sambil menyiapkan postinganku serta menonton perkembangan di aplikasi YouTube.
Menjelang waktu sholat ashar, aku dan si kecil Alvira menuju kebun di seberang jalan rumah kami yang berbatasan langsung dengan sungai, untuk melihat kondisi tanaman yang pernah aku tanam di kebun ini.
Ternyata tak satupun tanaman yang pernah kutanami di kebun ini yang selamat. Yang aku maksudkan adalah tanaman ubi, terong ungu, pohon jeruk purut dan juga pohon rimbang yang aku tanam sekitar dua bulan sebelum bencana ekologis terjadi.

Mandi soreSetelah mengecek kebun kami beberapa saat, kami pun turun ke bantaran sungai, karena kami mau mandi sore dan berwudhu agar bisa melaksanakan sholat ashar di sore ini.
Air sungai ini cukup segar dan jernih yang membuat kami betah berlama-lama di sungai ini. Apalagi si kecil Alvira yang selalu ingin main dan mandi di sungai ini.
Si kecil Alvira sangat menikmati hobby nya berinteraksi dengan alam dan selalu ingin ikut denganku ketika aku sedang berkebun, membersihkan rumah kami ataupun berkegiatan di sungai.
Si Anas kucing kamiTidak ketinggalan pula dengan si Anas kucing kami yang selalu mengikuti ku ke kebun ataupun ke sungai, dimana terkadang dia tidak segera pulang meskipun kami telah pulang ke rumah.
Tidak jarang pula dia diserang oleh kucing liar ketika berada di kebun sendirian. Walaupun diserang, si Anas tetap tidak kapok dan sering bermain sendirian di kebun ketika kami lepaskan dari rumah.
Karena si Anas adalah kucing rumahan, dia sering kalah ketika diserang oleh kucing liar, sering dia pulang ke rumah dengan kondisi badan yang kotor karena berkelahi dengan kucing liar itu.
Berangkat ke acaraSetelah selesai mandi dan mengambil wudhu di sungai, kami kembali ke rumah untuk melaksanakan sholat ashar, dan kemudian aku bersiap-siap untuk melakukan beberapa kegiatan lainnya di sore ini.
Aku akan ke Puskeswan Matangkuli untuk melengkapi presensi sore, dan kemudian mengantarkan barang-barang si Abang ke rumah mertuaku, dimana barang ini akan diambil oleh adik iparku yang akan berangkat ke Banda Aceh.
Aku menitipkan barang si Abang ini kepada adik ipar yang akan berangkat ke Banda Aceh pada hari Minggu besok, karena si Abang tidak bisa membawa pulang sendiri barang-barang ini saat dia kembali ke Banda Aceh pada hari Rabu kemarin, karena dia hanya menggunakan motor.
Mesjid Al-Ihsan Matang ubi LhoksukonKegiatan lainnya yang akan aku lakukan di sore ini adalah menghadiri acara Haul ketiga Majelis Arafah, yang dilaksanakan di Mesjid Al-Ihsan Matang ubi Lhoksukon.
Aku dan ayahku merupakan salah seorang anggota dari Majelis Arafah ini sejak dua tahun yang lalu, dan pada malam ini ada agenda perayaan Maulid Nabi serta Hari Ulang Tahun (Haul) Majelis Arafah yang ketiga.
Sehingga aku akan berhadir ke lokasi acara setelah mengantarkan barang si Abang, istriku dan si kecil Alvira ke rumah mertuaku di Landeng.
Ceramah Abiya Kuta KruengSebelum azan magrib, kami telah tiba di lokasi acara. Dan memang acaranya baru akan dimulai setelah selesai sholat magrib di mesjid ini dengan agenda ceramah dan pemberian ijazah tariqoh oleh seorang ulama muda (Abiya Kuta Krueng) yang merupakan putra dari almarhum Tgk. H. Usman bin Ali atau lebih dikenal dengan Abu Kuta Krueng.
Tariqoh ini sendiri beliau dapatkan dari ayah kandungnya sendiri yaitu Abu Kuta Krueng yang telah berpulang ke Rahmatullah beberapa tahun yang lalu.
Setelah prosesi pengijazahan selesai, kemudian dilanjutkan dengan melaksanakan sholat isya secara berjamaah dan makan kenduri bersama.
Kami pun pulang ke rumah setelah menjemput istriku dan si kecil Alvira dari rumah mertuaku di Landeng sekitar pukul 10 malam.
Sekian postinganku kali ini. Stay Healthy and Fun, Ciao...!
@ alee75
Click Here 











Congratulations! This post has been voted through steemcurator08 We support quality posts, good comments anywhere and any tags.