Go to Aceh Tamiang (29 Januari 2026)

in STEEM FOR BETTERLIFE9 days ago (edited)

1001853852.jpg

Hello rekan-rekan stemian. Dah, lama Aku tak menulis. Semoga sehat semua rekan-rekan. Bahagia dapat berbagi kisah dan semoga bermanfaat. Kisah menuju Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Begini kisah dimulai :

Selama satu bulan para Taruna/Taruni kegiatan Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara (Latsitardanus) ke-XLVI/2026 dilaksanakan di wilayah Provinsi Aceh, tepatnya Aceh Tamiang. Kegiatan ini merupakan wadah integrasi dan pengabdian masyarakat bagi Taruna Akademi TNI AD, AL, AU, Kepolisian, Taruna Politeknik Siber dan Sandi Negara (Poltek SSN), serta Kadet Universitas Pertahanan RI. Pelaksanaan kegiatan dimulai tanggal 17 Januari sampai dengan 16 Februari 2026.

Latsitardanus ini bertujuan untuk mempererat soliditas dan sinergitas antar Taruna matra darat, laut, udara, dan kepolisian. Membentuk jiwa kepemimpinan, kedisiplinan, serta semangat pengabdian kepada bangsa dan negara. Meningkatkan kepedulian sosial melalui kegiatan pembangunan fisik dan nonfisik di tengah masyarakat dan menumbuhkan wawasan kebangsaan serta kemanunggalan TNI-Polri dengan rakyat.

Kegiatan di Kabupaten Aceh Tamiang menjadi tempat pelaksanaan merupakan wilayah kerja Lanal Lhouksemawe. Lanal Lhouksemawe merupakan wilayah kerja dari Kodaeral I Belawan. Pada pelaksanaan tersebut, Kodaeral I mengirimkan Perwira pendamping kegiatan tersebut, terkhusus membantu Satgas Hiu (AAL). Untuk kegiatan pendamping, Aku ditunjuk untuk mengikuti kegiatan tersebut. Surat Perintah tercantum namaku.

1001961846.jpg

Pintu Tol Mabar

Aku berpatner dengan senior, Kolonel Laut (kh) Sunarto mendapatkan tugas di gelombang kedua setelah tim gelombang I kembali. Nah, tepat tanggal 29 Januari 2026, kami persiapan berangkat. Titik kumpul di Mako Kodaeral I usai salat dhuhur. Hari itu, cuaca agak cerah. Kendaraan sudah siap berangkat dan sekitar pukul 14.00 kami meninggalkan Mako Kodaeral I. Namun sejenak mampir kerumah karena ada yang akan diambil. Pintu Tol Mabar dilalui menuju kediamaanku dan lanjut ke Komplek Barakuda serta tancap gas masuk Tol Tanjung Mulia menuju Tol Pangkalan Brandan.

1001961869.jpg
Pemandangan di jalan

1001961847.jpg
Pintu Tol Pangkalan Brandan

Mobil berjalan kencang. Berharap sebelum malam tiba di lokasi tempat kegiatan. Jalan tol menjadi jalan pelintas agar lebih cepat tiba dilokasi. Selama diperjalanan kita dapat melihat pemandangan disisi kanan kiri jalan. Ada pohon sawit, padi yang terbentang luas dan pohon jagung. Mobil terus dipacu kencang dengan penuh kehati-hatian. Tak berselang lama. Sekitar pukul 16.10 WIB, kami sudah memasuki pintu Tol Pangkalan Brandan. Cuaca masih panas. Mobil mulai masuk jalan umum. Sasaran selanjutnya adalah masjid. Kami harus mencari masjid untuk mendirikan salat ashar.

1001962076.jpg
Salat di Masjid Raya Besitang, Langkat

Alhamdulillah, kami akhirnya berhenti di salah satu masjid, yaitu Masjid Raya Besitang, Kabupaten Langkat. Masjid yang khas melayu dengan warna kuning dan hijau. Setelah turun sambil melepaskan lelah sesaat abadikan gambar didalam dan diluar masjid, pertanda pernah mampir dan salat di masjid kebanggaan masyarakat Besitang. Aku dengan Mentor Sunarto salat ashar secara berjamaah. Salat jamaah baru saja selesai. Kami agak telat sedikit tiba sehingga tak dapat berjamaah dengan jamaah masjid Raya Besitang. Masjidnya indah dengan kubah besarnya warna hijau dan bersih serta luas. Halaman masjid pun luas. Kami belum masuk wilayah Aceh. Perjalanan masih panjang. Tak berlama-lama perjalanan dilanjutkan.

1001962077.jpg
Rumah warga korban banjir bandang

Sekitar satu jam meninggalkan Besitang, Pangkalan Brandan, kami memasuki wilayah Aceh Tamiang, Aceh. Gapura perbatasan telah kami lewati. Jalan yang dilalui mulai terlihat tak rapi. Aspal sana sini berlobang. Jalan tak nyaman. Kami lewati secara perlahan. Terlihat kondisi daerah yang tak tertata rapi dan berantakan akibat banjir bandang yang menghantam permukiman dan perkebunan warga. Kebun sawit masih terbungkus tanah-tanah yang terbawa air. Kesedihan terlihat saat melintas kota Aceh Tamiang. Ada banyak rumah yang hancur dan kota jelas masih terlihat timbunan tanah akibat dahsyatnya banjir yang menyerang Aceh Tamiang pada tanggal 26 Nopember 2025. Pastinya, bukan Aceh Tamiang saja yang terkena musibah, bahwa hampir merata Provinsi Aceh terdampak banjir dahsyat yang menyerupai tsunami. Bahkan ada yang mengatakan kejadian ini lebih dahsyat dibandingkan tsunami. Banjir selain lumpur, kayu-kayu gelondongan dibawa harus menghantam apa saja yang dilewati.

1001962084.jpg
Makam malam di warung tepi jalan

Kami terus melaju. Tak berhenti untuk ingin lebih tahu kondisi yang dilihat akibat akibat banjir. Sesuai arahan mentor kami masuk usai makan malam dijalan. Tepatnya, makan dan salat maghrib terlebih dahulu. Sambil melihat-lihat warung yang ada disisi jalan Banda Aceh - Medan. Akhirnya, kami mampir diwarung sederhana dipingir jalan. Warung warga yang menjual lauk seadanya. Tak apa-apa yang penting masih bisa menikmati. Dan, yang terpenting seberang jalan ada masjid yang nantinya bisa langsung salat maghrib. Walaupun lauknya sederhana namun semangat makannya maka semuanya menjadi enak dan mantap. Sangkin asyiknya makan, debu yang beterbangan di sisi jalan tak mengurangi selera makan saat itu.

1001962085.jpg
Salat maghrib di masjid Darussalam

Makanpun selesai, beberapa menit kemudian azan magrib tiba. Kami menyeberang jalan dan melaksanakan salat maghrib di Masjid Darussalam, Kampung Simpang Empat, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang. Masjidnya luas namun masih belum sempurna jadinya. Kubah berwarna putih besar hanya satu,plus dua menara yang dalam pembangunan. Tembok masjid belum di ada keramik. Untuk tenpat wudhuknya bersih. Bangunan didalam masjid pun belum dikeramik. Masih butuh banyak biaya untuk menjadi indah masjid ini. Jamaahnya hanya satu shaf setengah. Tidak terlalu banyak.

1001962086.jpg
Rumah Hunian Danantara

Oh, iya usai salat Aku melihat banyak rumah-rumah baru saja dibuat. Rumah sederhana. Ternyata ini Rumah Hunian Danantara yang diperuntukkan bagi para warga yang terkena dampak dari banjir bandang. Rumah tersebut bercat putih dan malam hari terang dengan lampu. Ada rumput plastik hijau terbentang panjang yang terletaj disisi belakang dan tengah rumah. Juga terlihat lintasan air yang tergenang diantara rumah-rumah. Butuh kesabaran dan perjuangan hidup untuk bertahan saudara kita dari ujian Allah berikan. Ya, banjir bandang beberapa bulan silam.

Malam sudah menemani perjalanan kami. Masjid Darussalam sudah jauh ditinggal. Kubah yang besar hilang dari pandangan. Mobil terus membelah pekatnya malam. Sekian menit berjalan tibalah kami di Simpang Opak. Dari jalan raya Banda Aceh - Medan kami belok kekanan. Perkiraan waktu tempuh tiba dilokasi atau tempat kami bertugas sekitar pukul 19.30 WIB. Jalan kelokasi awalnya beraspal mulus. Hanya satu dua lobang kecil terlindas. Namun semakin mendekat ke lokasi jalannya parah. Berlubang dan dalam. Aspalnya terangkat. Kita lalui butuh kehati-hatian dan kesabaran. Kami didalam mobil merasakan seakan berada didalam kapal yang digoyang gelombang. Bergeser kedepan, kanan dan kiri tubuh kita. Sekali waktu goncangannya cukup keras. Untungnya mobil Ford yang kami kendarai dapat berjalan dengan baik walau tak mampu menghindari jalan berlubang besar karena jalan yang dilalui gelap. Tak ada lampu penerang. Rumah warga satu persatu tampak dengan jarak agak jauh. Pohon-pohon sawit terlihat dikanan kiri jalan. Pohon-pohon tersebut seakan hilang roh. Pertumbuhannya terganggu. Apa mungkin saat banjir tergenang air terlalu lama.?Atau bermandikan lumpur banjir?Aku pun kurang faham.

1001962098.jpg
Penyerahan barang titipan

Alhamdulillah, akhirnya sekitar pukul 19.40 WIB kami tiba di Desa Tangsi Lama, Kecamatan Seruway, Kabupaten Aceh Tamiang. Kami berada di posko Penanggulangan Bencana dari Kodaeral I. Beberapa prajurit Kodaeral I dan Yon 8 Pangkalan Brandan sudah beberapa bulan dilokasi. Tempat kami tinggal di kantor Koramil Seruway. Namun, sebelum menuju peraduan peristirahatan terlebih dahulu Mentor Sunarto memberikan amanah titipan dari Komandan Kodaeral I kepada tim Gulben berupa 2 set Genset dan 1 set starling. Proses penyerahan barang berlangsung dengan aman dan lancar. Selesai hal tersebut kami menuju kamar yang sudah disiapkan. Meletakkan perlengkapan untuk kegiatan selama seminggu.

1001962102.jpg
Melaksanakan salat isya di masjid Al-Muttaqin

1001854810.jpg
Bersama Dansatgas Gulben

Sesaat berada dikamar, terdengar suara azan berkumandang. Lelah belum usai panggilan ilahi telah tiba. Kuatkan tubuh untuk menuju masjid menegakkan salat isya. Bahagia dan alhamdulilah, tempat kami tinggal dekat dengan masjid. Jaraknya sekitar 50 meter dengan berjalan kaki. Kami bisa laksanakan salat secara berjamaah. Masjid ini bernama Masjid Al-Muttaqin. Masjid dan halamannya luas. Masjid tak berpintu. Masjid tak mempunyai Air Conditioner (AC), namun nyaman berada didalamnya saat salat didirikan. Selesai salat kami kembali ke tempat istirahat, namun sebelumnya berjumpa dan duduk santai dengan Dansatgas penanggulangan bencana (Gulben), Kolonel Marinir Fariq dan perwira lainnya. Suasana penuh keakraban terjalin dilapangan tugas. Tugas mulia para prajurit TNI AL dalam membantu warga pasca terjadinya bencana alam banjir bandang.

Aceh Tamiang, kami datang

Salam semangat dari @hoesniy

Sort:  
 9 days ago 

Mantap, sukses selalu untuk gure

Baru nulis lagi Tgk..tks

Coin Marketplace

STEEM 0.06
TRX 0.29
JST 0.053
BTC 71137.81
ETH 2105.20
USDT 1.00
SBD 0.49