Thediarygame, Minggu, 21 Desember 2025 || Saatnya kembali ke Medan
Ada lagu yang berjudul semalam di Malaysia. Ada juga yang berjudul Desember kelabu. Semalam di Malaysia apakah senang atau sedih tak faham kali Aku. Jika kelabu di bulan Desember, kemungkinan banyak sedihnya daripada bahagia. Namun, lainnya dengan kisah yang Aku jalani bahwa Aku merubah judul lagu dengan semalam di Batam, dan, Desember ceria. Mengapa? Ayo ikuti kisahku ini ya kawan-kawan. Insyaallah menarik dan mengelitik plus bercampur bahagia.
Aku berangkat dari Tanjungpinang (20/12/2025) menuju kota Medan membawa segunung kebahagian. Bukan secuil kedukaan. Dari Tanjungpinang Aku nyebrang ke Batam dan bermalam sejenak, ya, pastinya di bulan Desember, penghujung tahun 2025. Banyak kisah menarik dan bahagia semalam Aku di Batam. Mulai silaturahmi dengan Bang Yusra, Ketua Sepakbola Urang Awak (Urawa FC) Batam, pemilik RM Ranah Minang, bersama-sama dengan latingku (SepaPK ABRI 1997), Bang Dantez dkk dan terakhir bersama Ustadz Marsyapwan, Da'i Kota Batam, bersama-sama salat di Masjid Cheng Ho Batam, hingga melepas lelah semalam di Eska Hotel. Semua dilewati sehari sebelum keberangkatanku ke Kota Medan menuju penugasan yang baru. Kembali berkumpul dengan keluarga tercinta.
Minggu pagi (21/12/2025), Aku sudah merapikan kamar hotel. Bagiku, walau di hotel ada juru bersih atau karyawan hotel yang bersihkan, namun setidaknya saat mengunakan kamar dan chek out, kamarnya tertata rapi dan bersih. Inilah prinsip yang kami lakukan dan terapkan buat anak-anak saat menginap di hotel.
Aku melihat jam di handphone. Sekitar pukul 06.30 WIB. Sudah bisa turun kelantai bawah untuk sarapan pagi. Melalui pintu lift Aku meluncur ke restoran mini Eska Hotel. Aku menuju tempat pelayan untuk menunjukkan identitas diri sebagai ahli nginap. Untuk pengecekan kuota makan di hotel. Suasana masih sepi. Ruangan tersebut tidak terlalu luas. Baru ada beberapa orang yang makan. Aku pastikan orang Malaysia yang liburan ke Batam. Aku duduk bersebelahan meja dan dari dialognya berbahasa Melayu. Dari tegur sapa Aku pastikan lagi mereka benar warga Malaya. Lauk dan minumannya di restoran boleh dipilih sesuai selera. Aku sesaat saja menikmati hidangan gratis. Nyaman dan penuh rasa syukur. Setelah itu menuju kamar 321, kamar Aku menginap.
Setelah menyelesaikan salat dhuha beberapa rakaat, Aku turun dengan membawa semua barang-barangku. Perlahan namun pasti semua barang sudah turun dan letakkan di lobi. Rupanya diluar mobil jemputan baru tiba. Parkirkan mobil masukkan ke bagasi beberapa barang. Ada juga kotak oleh-oleh dari teman baikku. Semuanya sudah masuk ke mobil dan kami lanjut menuju Bandara Hang Nadim Batam. Informasi yang Aku terima bahwa jarak Bandara dari Eska Hotel sekitar lima belas atau dua puluh menit. Tidak terlalu jauh. Apalagi suasana pagi Minggu jalan raya agak sepi.
Beberapa menit kemudian Aku tiba di Bandara. Anggota yang mengantarku segera kembali. Kami berpisah. Barang bawaanku lengkap dan pastilah muatan lebih. Aku ke Medan naik pesawat Citylink. Barang bawaan jika masuk bagasi maksimal 15 kg. Aku sengaja datang lebih awal. Penerbangan ke Bandara Kuala Namu Deli Serdang sekitar pukul 10.40 WIB. Aku sengaja datang lebih awal agar mudah koordinasi demi kelancaran penerbanganku. Perlahan Aku mulai masuk keruangan keberangkatan. Tak berselang lama datanglah temanku yang bertugas sebagai protokoler bandara yang biasa membantu personel TNI AL, bang Mukti namanya. Aku sudah lama kenal beliau. Kenal baik. Beliau membantuku untuk chek in dan mengurus barang-barang masuk bagasi. Rupanya barang ada kelebihan. Beliau membantu dengan maksimal. Sepertinya ada barang yang harus dipecah atau dipisahkan lagi agar muatannya bisa terbawa terbang.
Saat Aku menunggu sambil duduk dikursi, ada orang baik yang bersedia membantu membawa barang-barangku. Barang yang telah dipisahkan masih juga Aku bawa tentengan masuk kekabin berjumlah tiga. Pastilah tak bisa naik jika tak dibantu bawakan oleh penumpang yang baru Aku kenal. Apa mungkin selama ini ringan membantu sesama maka Allah beri jalan ada hamba yang membantu? Apakah karena do'a istri dan anak-anak sehingga sering kemudahan Allah berikan. Semoga semua kebaikan ini benar adanya.
Oh iya, ada sedikit cerita seru saat memilah barang untuk lebih ringan. Bahwa kue Luti Gendang yang Aku lakban tiga kotak menjadi satu harus dilepaskan untuk ringankan bagasi. Lakban coklat yang Aku gunakan sangat kuat merekat. Aku cari jalan untuk membongkarnya dengan merusak lakban pengikat. Aku mencari kunci tas. Buka berulang kali dompet tak jumpa. Periksa saku celana juga tak ada. Waktu sudah terdesak barang harus dimasukkan bagasi. Saat buka-buka lakban ada salah satu penumpang yang berdiri disampingku menyapa,"Bang protokoler ya?". Memang gaya dan penampilanku sederhana namun rapi serta sibuk memisahkan barang. "Bukan bang," jawabku santai. "Ada pisau atau anak kunci bang," tanyaku jelas. Inilah awal pertemanan yang tak disengaja. Beliau tak punya alat untuk meretas lakban. Namun berupaya keras membantuku. Terlihat dengan penuh semangat membuka tas dan mendapatkan pulpen yang kemudian dipinjamkan untukku. Pulpen ini menjadi alat peretas lakban pengikat. Satu cara berhasil. Dua cara pun berhasil dimana barang satunya dibawa penumpang lain yang berbaik hati membantu. Nah, disinilah Aku kenal dengan teman atasanku. Beliau yang meminjamkan pulpen bernama Bang Tedi Hutapea. Beliau sudah beberapa kali berjumpa dengan atasanku dengan hobi yang sama yaitu bermain Golf. Pertemuan singkat dan nanti akan bertemu lagi saat didalam pesawat. Kami berada di satu pesawat Citylink.
Setelah tuntas barangku dan boarding pesawat sudah didapat maka Aku berpisah dengan Bang Mukti. Perpisahan yang mengharukan seraya Aku menyampaikan,"terima kasih Bang Mukti telah banyak membantu saat Aku akan terbang ke Bandara Kuala Namu. Mohon maaf jika ada salah dan khilaf jika tutur kata serta tingkah laku yang kurang baik." Bang Mukti dengan penuh taburan senyum menjawab,"siap Komandan. Saya pun minta maaf." Kemudian kami berpisah
Aku sudah masuk ruang tunggu pesawat setelah melewati pemeriksaan. Pemeriksaan ketat dengan mengunakan alat X-Ray. Pemeriksaan ini sangat penting karena dapat mengetahui dan mendeteksi barang-barang yang tidak boleh dibawa masuk kedalam pesawat. Ya, selain barang haram (narkotika), alat-alat senjata tajam dan lain-lain yang membahayakan. Aku duduk diruang tunggu A3. Khusus penerbangan bagi penumpang Citylink. Aku berjumpa dengan teman baruku yang bawa satu kotak Luti Gendangku. Kami tak lama menunggu. Pesawat Citylink luar biasa, para penumpang masuk ke perut "burung besi" atau pesawat tepat waktu. Tak delay. Suatu kebahagiaan bagi penumpang.
Satu persatu penumpang masuk setelah pihak maskapai Citylink mempersilahkan masuk. Penumpang masuk mengikuti antrian dengan penuh sabar. Tak ada keriuhan dan keributan karena pesawat berangkat tepat waktu. Biang ketok keributan yang sering bergulir asbab delay terlalu panjang. Penumpang disiplin namun karena alasan teknis maka penerbangan ditunda waktu keberangkatan. Aku sudah berada di pintu pesawat. Saat masuk kedalam, rencananya mau titip pakaian yang dibawa dalam tas pakaian, ternyata pesawat Citylink tak punya tempat khusus untuk digunakan mengantung pakaian. Aku inisiatif letakkan di depan kursi depan penumpang. Eh, ternyata yang duduk dikursi nomor 1 adalah bang Tedi Hutapea. Jadi sekalian Aku mohonkan diperhatikan barangku. Ok, kesekapatan dengan senyuman sembari acungkan ibu jari dari bang Tedi pertanda aman terkendali. Aku dapat duduk tenang dikursi empuk bernomor 12 C.
Pesawat persiapan take off. Semua alat keselamatan dipergunakan oleh penumpang. Mulut penumpang ada yang berkomat-kamit membaca do'a, termasuk diriku. Ada juga yang santai saja sambil mendengarkan lagu memghibur diri. Beraneka ragam sikap penumpang saat pesawat take off. Menurutku pastilah banyak yang berdo'a mohon keselamatan dalam penerbangan. Pesawat sudah take off dengan sempurna. Beberapa menit mengudara pramugara pesawat menyampaikan beberapa informasi cara pengunaan safetybell, penggunaan masker oxigen jika terjadi turbulensi dan lain sebagainya SOP penyelamatan penumpang dalam penerbangan. Aku memperhatikan dengan seksama pramugara beraksi.
Pesawat terbang nyaman. Normal tanpa getaran. Pramugara telah kembali ke posisi semula. Ada pesan lainnya dari crew pesawat bahwa dalam penerbangan ada dijual beberapa barang dan minuman serta makanan ringan. Aku tak membeli barang. Pastilah harganya lebih tinggi dibandingkan seperti harga normal saat dibumi. Terbukti harga satu popmie diangkasa sekitar Rp 30.000,- Aku lapar maka satu popmie berbungkus warna hijau pesananku. Memang popmienya berukuran jumbo. Lapar membuat semangat makan. Tanpa rasa sungkan Aku mohonkan dengan pramugara untuk mengambil gambarku.
Pesawat terbang tinggi menembus awan. Terlihat awan-awan tebal yang saling berkejaran. Ada juga yang seakan tak bernyawa, diam terhampar indah. Sekali waktu pesawat ikut bergetar saat mencium awan tebal. Selain itu saat terjadi cuaca buruk yang disampaikan oleh pramugari pesawat terbang bagaikan menabrak batu. Bergetar. Bergoyang. Layaknya mobil yang berjalan diatas aspal yang berlobang. Goyangan pesawat tak lama. Anggap saja para penumpang menikmati goyangan biduawanita yang bernyanyi diatas panggung menghibur warga desa. Penerbangan yang mengasyikkan. Aku sempat dibuatnya tertidur pulas. Sekali waktu terbangun dan kemudian terlelap dalam mimpi indah. Mimpi tiba dirumah berkumpul kembali dengan keluarga.
Sekitar pukul 12.20 WIB, pesawat landing. Kami tiba di Bandar Udara Kuala Namu, Kabupaten Deli Serdang. Rasa bahagia dan rindu berjumpa keluarga tak tertahankan. Sabar berjumpa dalam meraup bingkai keberkahan dan ridha dari Allah Rabbul 'alamin. Pesawat sudah sempurna berhenti. Semua penumpang bergegas turun. Aku pun tak mau ketinggalan. Saat tiba di kursi depan, Aku tak melihat pakaianku. Pastilah dibawa keluar oleh Bang Tedi. Benar firasatku. Beliau bersama keluarga menungguku dan dengan penuh rasa hormat Aku ambil pakaianku seraya menyampaikan terima kasih. Terima kasih juga atas nikmat lainnya yang Aku terima selain silaturahmi. Kami berjalan menuju tempat pengambilan barang dan setelah itu kami pun berpisah. Berpisah untuk selalu membangun silaturahim. Entah kapan berjumpa kembali. Hanya Tuhan yang tahu.
Aku sudah tiba di tempat pengambilan barang. Barang bawaanku belum muncul. Masih barang penumpang lainnya yang berputar-putar. Aku berjumpa dengan orang baik yang membawa barangku. Kami berpisah dan berterima kasih atas bantuannya. Tak lama berselang barang-barangku lengkap plus dengan pedang dinasku. Aku telah keluar dari tempat pengambilan barang. Aku tahu bahwa istri dan anak-anakku menjemput dan menyambut bahagia kedatanganku.
Secara diam-diam Aku menghilang dari keramaian. Jejakku tak terbaca oleh istri. Aku tertawa sembari mengerjai mereka. Akhirnya, Aku telpon mereka dan barulah kami berjumpa. Peluk mesra dan bahagia meledak tak terbendung. Kuciumi istri dan anak-anakku. "Terima kasih ya Allah telah kembalikan Aku berkumpul dengan keluarga,"Aku ngebatin saat memeluk istri. Suasana haru bercampur bahagia. Masa penantian panjang selama tiga puluh dua bulan terbayar sudah. Semoga tak berpisah lagi dalam kedinasan. Boleh berpisah jika rezekiku dalam kedinasan menjadi LAKSAMANA. Itulah harapan. Orang hidup harus mempunyai harapan agar hidup penuh makna dan warna yang indah.
Sebelum meninggalkan Bandara Kuala Namu, kami laksanakan salat dhuhur terlebih dahulu. Pas masuk waktu dhuhur. Setelah itu baru kami meluncur. Anak bujangku, Sastrajendra yang menjadi supir pribadi. Cukup jauh juga jarak Bandara ke rumah kami. Ya, sekitar empat puluh lima menit waktu berjalan. Kami tidak langsung kerumah. Kami harus mengambil dua kotak barangku yang sudah berdiam setengah harian di loket Bus Makmur. Bus Makmur berlokasi di Jln. Sisingamaharaja kota Medan. Ada beberapa barangku yang dikirimkan ke Medan melalui laut dan daratan. Dari Tanjungpinang naik Kapal Ferry Dumai Express Line. Pagi berangkat sore tiba di Dumai. Barang dibawa oleh temanku menuju loket Bus Makmur Dumai, kemudian dibawa oleh bus malam hari dan pagi harinya tiba di kantor Makmur Medan. Biayanya murah. Kalau pakai kiriman kantor Pos, JNT, JNE dan lain sebagai pastilah berat diongkos (mahal). Boleh dikata pusing kepala beerbie. pusing tujuh keliling
Kami sudah tiba di loket Makmur dan barangnya sudah diamankan. Tubuhku terasa lelah. Mobil segera mengejar waktu agar segera tiba dirumah. Jalan Sisingamaharaja agak padat. Untuk lebih awal tiba dirumah maka kami masuk Tol Amplas. Mobil setelah naik jembatan Fly Over belok kekiri masuk gerbang Tol Amplas dan berpacu cepat. Tak berselang lama kami telah tiba dirumah. Rumah dinas yang sudah 22 tahun Aku tinggal bersama keluarga kali ini terkena musibah banjir. Tak pernah banjir masuk kedalam rumah hingga sedada saat puluhan tahun tinggal didaerah ini. Takdir Allah yang berlangsung. Like or not harus ikhlas menerima takdir agar bisa merasakan lezatnya iman. Demikian yang pernah Aku dengarkan saat tausyiah Buya Ar-Razy saat dakwah di Kota Gurindam XII, Tanjungpinang. Alhamdulilah, Aku telah tiba dirumah dan selamat. Rumah idaman dan berkag. Semoga Aku selalu dapat berkumpul dengan kalian semua istri dan anak-anakku tersayang. Barakallah.***
Salam sehat diawal tahun 2026 @hoesniy










Thanks you for attention
mantap kali gure, langsung disambar... heheh
Blm kena sambar yg rayeuk
akan indah pada masanya gure, setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya... hehhe
Mantap. Sangat bijaksana Adoe Meutuwah.Aamiin
nyan ka disambar oleh yang rayeuk... heheh
Alhamdulillah, semangat