The Diary Game (31/03/2026) | The coffee table is just for giving birth to inspiration, not a place to dig up dreams.

in STEEM FOR BETTERLIFE17 hours ago

1000167180.jpg
designed by Canva

Anak lelakiku menyukai wangi buku-buku tua yang usang dan memilih meja yang tenang dari suara renyah sejumlah pelanggan warung. Malam itu aku izinkan ia ikut menemaniku ke warung Ms.Coffee untuk menghindari tingkah adiknya yang usil. Ia baru saja menyelesaikan semua unek-unek pengarang dalam beberapa buku yang dibelinya minggu lalu. Katanya "hambar!"

1000166110.jpg
nongkrong bersama anak lelakiku

dokumentasi (28/03/2026)

Aku tidak terkejut ketika ia bertaya dengan nada pelan, "masih adakah perpustakaan dan toko yang menyediakan buku 1984 George Orwell?" langsung saja aku menjawab, "Oh, Aku tidak tahu", sepertinya buku itu tidak cocok untuk seorang pelajar, karena tentang "masa depan yang telah berlalu". imbuhku! Dia terdiam saat aku meliriknya dengan serius. Aku tahu, ia tidak menyerah begitu saja karena jari-jarinya di smartphone terus bekerja. Mungkin aku harus membiarkan ia mencari tahu tentang fakta atas prilaku dan pemikiran manusia, otoritarianisme dan tentang manipulasi informasi. Tentu sangat relevan dengan kondisi saat ini dimana politik modern masih difungsikan untuk mengawasi dan membatasi gerak dan kebebasan manusia, oposisi dianggap penentang, juga narasi di berbagai media sosial mendapat pengawasan tajam oleh suatu rezim. Sesulit inikah orang-orang yang berupaya hidup dalam lingkungan kebenaran? Gumamku dalam hati.

...Angin malam dengan perlahan menghantarkan aroma lezat racikan mie goreng Aceh ke hidungku, namun sisa uang disaku celana hanya cukup untuk membayar dua gelas kopi dihadapanku. Lantas aku berpura cuek dan kami berusaha berlagak seperti orang asing disatu meja, seakan sama-sama fokus dengan benda ciptaan Martin Cooper ditangan masing-masing.

Pikiranku mulai fokus untuk menulis setelah mengecap aroma kopi, beberapa photo dalam gallery ponsel menjadi eviden bahwa hari itu aku telah memenuhi tugasku sebagai seorang ayah, suami bahkan sebagai abdi negara yang digaji oleh rakyat dalam tema the diary game 31 Maret 2026 sejak pagi hingga malam hari.

Ya, Pagi itu benar-benar cerah hingga pendingin ruangan seakan gagal menjalankan tugasnya untuk menghentikan keringat dan rasa gerah setelah 20 menit aku berkendara mengantar anak-anak ke sekolah. Selesai presensi pagi aku berdiam sejenak dalam ruangan kerja yang kosong sebelum bergegas ke pendopo bupati untuk melanjutkan tugasku mengentri dan memvalidasi data warga terdampak bencana banjir.

1000165948.jpg
Suasana ruang kerja masih sepi

Aku hanya membutuhkan 20 menit untuk tiba disana. Kursi-kursi masih banyak yang kosong, mereka yang duluan hadir telah memulai bekerja dengan perangkat labtob dihadapannya. Maklum saja karena sejumlah besar dari mereka harus menempuh jarak lumayan jauh untuk tiba di pendopo. Aku menempati salah satu kursi untuk melanjutkan pekerjaanku, sepertinya tidak perlu aku tuliskan lagi tentang ini karena telah memenuhi beberapa postingaku minggu lalu.

1000166004.jpg
1000166032.jpg
suasana ruang pendopo
lanjutan mengentri data

Sejumlah warga terdampak mulai mempertanyakan! Kapan dana bantuan tahap selanjutnya akan dicairkan? Tapi kami tidak memiliki kewenangan untuk menjawab pertanyaan itu, kami pun hanya dapat berharap semoga warga dapat menunggu dengan sabar, karena proses verifikasi dan validasi data korban terdampak bencana masih terus dilakukan oleh pemerintah dan semua pihak terkait dengan harapan dapat rampung sebelum pertengahan April 2026.

kucing peliharaanku

Sekitar pukul 12.10 wib aku memanfaatkan jam istirahat untuk menjemput putriku di sekolah, lima menit menunggu dibawah terik matahari terasa satu jam, peluh-peluh hangat kembali membasahi bagian-bagian pakaian di tubuh, untung saja putriku segera keluar dari gerbang dan kami pun kembali ke rumah untuk beristirahat. Anggora hitam menyambut kami dengan tatapan tajam, sedangkan temannya terbaring nyenyak dengan pose yang kurang pantas tapi itu pemandangan lucu dan menggemaskan meskipun ia seekor kucing betina yang manja.

1000166048.jpg
1000166063.jpg
saat kembali ke pendopo
melanjutkan tugas yang sama

Aku terlambat tiba di pendopo beberapa menit karena harus memberi makan kucing kesayanganku serta membersihkan kandang mereka. Aku tidak tahu kapan tugas ini akan selesai. Maksimal setiap hari kami bekerja kurang lebih tujuh Jam. Saya dan rekan di satu instansi tidak termasuk dalam daftar petugas yang terbebaskan dari aturan presensi kecuali mereka yang berdomisili di luar kota Lhokseumawe.

1000166076.jpg
Saat tiba di tempat kerja

Sekitar pukul 16.30 wib saya kembali ke tempat kerja untuk melakukan presensi pulang. Selanjutnya saya melaksanakan shalat Ashar di mushalla kantor sebelum kembali ke rumah untuk melepas lelah dan berkumpul dengan keluarga.

menikmati kopi sebelum senja

Dalam perjalanan pulang "niat awal" yang kuat untuk kembali ke rumah dicegat oleh aroma kopi saat melintas warung Cekgu di kawasan Simpang Kuta Blang. Tak ayal aku pun terpaksa singgah disana sejenak dan memesan satu porsi minuman berkafein itu dalam gelas ukuran kecil seharga Rp. 5.000, atau seyara 5.1 Steem saat harga konversi.

Dan, seperti kisahku di awal, malam harinya (setelah shalat Isya) aku dan anak lelakiku kembali merapat ke sebuah warung terdekat untuk menikmati segelas kopi sambil berselancar dengan berita-berita hangat di media sosial.

Sekian... Terima kasih banyak atas kunjungan dan mungkin anda membacanya..

salam,
@ridwant

Introduce myself

Sort:  

Upvoted! Thank you for supporting witness @jswit.

 7 hours ago 

Thank you sir @mahadisalim 🙏

Coin Marketplace

STEEM 0.06
TRX 0.32
JST 0.063
BTC 69130.15
ETH 2130.74
USDT 1.00
SBD 0.48