Asa yang tersisa

Hagoe's Village: Jan, 15th 2026
Hari keempat istriku dirawat di sebuah rumah sakit di Kota Lhokseumawe, aku masih berada di rumah kami di Matangkuli untuk mengawal aktivitas si kecil Alvira.
Sebuah kondisi yang dilematis, dan kami harus berdamai dengan kondisi yang ada. Memang tidak ideal, tetapi kami harus mempertimbangkan kemanfaatan dan kemudaratan bagi kami secara keseluruhan.
Sejatinya sebagai suami aku harus mendampingi istriku yang dirawat di rumah sakit. Namun pendidikan anak-anak juga sangat penting demi masa depan mereka.
Akhirnya kami memutuskan aku akan tetap berada di rumah untuk mengawal aktivitas anak bungsu kami, yang harus bersekolah di siang hari dan mengaji di malam harinya.
Sementara istriku akan ditemani oleh anak sulung kami yang saat ini sebenarnya sedang cukup sibuk untuk mempersiapkan bahan-bahan seminar hasil skripsinya, karena di hari Senin besok dia akan mengikuti seminar hasilnya di Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrahasiyah.
Jadwal seminar hasil si kakakMemang sebuah kondisi yang dilematis, dan kami harus mengambil keputusan terbaik agar semuanya bisa berjalan dengan optimal.
Si kecil berangkat ke sekolahKarena aku berada di rumah untuk mengawal aktivitas si kecil Alvira maka aku harus menggantikan peran istri untuk membereskan keperluan si kecil Alvira di pagi hari.
Setelah selesai sholat subuh, aku membangunkan si kecil Alvira, mempersiapkan pakaian sekolahnya, menyiapkan sarapannya dan kemudian mengantarkannya ke sekolah.
Alhmdulillah aku diberikan masa cuti selama tiga hari sehingga aku bisa mengurus keluargaku dan tidak harus masuk kantor. Meskipun aku tidak sepenuhnya "meninggalkan" tugasku, karena aku tetap memfasilitasi pelaporan ternak masyarakat yang mati akibat banjir yang lalu, melalui WhatsApp.
Sarapan pagiSetelah mengantarkan si kecil Alvira ke sekolahnya, aku segera kembali ke rumah. Karena aku akan melakukan beberapa kegiatan untuk mengoptimalkan masa cuti yang diberikan oleh atasanku.
Ketika tiba di rumah, aku membuatkan kopi espresso panas tanpa gula, dan kemudian sarapan dengan menu sederhana yang telah aku buatkan tadi pagi, saat menyiapkan sarapan si kecil.
Kemudian aku mulai mencicil membuat postingan untuk hari ini sebelum melanjutkan kegiatan lainnya.
Sampah sisa banjirSebuah postingan sudah bisa aku rampungkan, dan kemudian aku segera memakai pakaian untuk kerja. Aku harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar masa cuti yang diberikan itu cukup bermakna.
Apalagi kondisi rumah kami masih cukup berantakan pasca mengalami bencana ekologis pada bulan November tahun lalu.
Sebagai dokter hewan yang bekerja di Pemerintah Kabupaten Aceh Utara, aku tidak memiliki "kemewahan" untuk melakukan aktivitas secara bebas, karena aku terikat tugas pokok dan fungsi sebagai aparatur sipil negara.
Jadi, aku harus bisa memanfaatkan waktu semaksimal mungkin, khususnya untuk membereskan rumah kami yang terdampak banjir yang lalu.
Pagi ini aku membawa barang-barang sisa banjir yang menumpuk di rumah kami ke kebun di seberang jalan rumah kami, agar nantinya bisa ku bakar.
Sebagian barang-barang serta pakaian kami tidak bisa digunakan lagi karena terendam banjir, sehingga kami harus membuangnya agar tidak menjadi sampah di rumah kami.
Memindahkan tanamanSelesai mengangkut barang-barang sisa banjir ke kebun kami di pinggir sungai, aku kembali ke rumah untuk melanjutkan membereskan halaman rumah kami.
Aku juga memindahkan sejumlah tanaman bunga pemberian adikku pada kemarin sore, kedalam pot yang ada untuk melakukan proliferasi, yang nantinya bisa digunakan untuk menata kembali halaman dan rumah kami yang berantakan karena banjir.
Aku bekerja membereskan halaman rumah dan juga memindahkan tanaman bunga ke dalam pot sampai sekitar pukul 11 siang.
Menu MBG si kecil AlviraKemudian aku harus segera menuju sekolah di kecil untuk menjemputnya pulang sekolah, karena di jalanan depan rumah kami sudah tampak anak sekolah yang berjalan kaki menuju rumah mereka, yang artinya jam pulang sekolah si kecil Alvira sudah tiba.
Aku menjemput si kecil Alvira dengan menggunakan motor dan kemudian segera kembali ke rumah agar aku bisa melanjutkan kegiatan ku sebelum waktu makan siang tiba.
Seperti biasa si kecil Alvira selalu membawa pulang menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) dari sekolahnya, dan dia akan memakannya di rumah jika menunya lumayan.
Sayangnya menu MBG ini sering tidak membuat dia selera bahkan jauh dari kata bergizi sebagaimana nama program dari rezim saat ini yang ingin memberikan makanan bergizi bagi anak-anak sekolah.
Cemilan soreKami makan siang di rumah ibuku di hari ini karena kami tidak sempat menyiapkan menu makan siang kami.
Dan setelah selesai makan siang serta melaksanakan sholat Zuhur, aku hanya istirahat saja di rumah sampai menjelang waktu sholat ashar.
Tidak lupa aku melakukan video call untuk mengetahui kondisi istriku yang sedang dirawat di RS MMC Cunda-Lhokseumawe. Dan Insya Allah besok siang istriku sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.
Setelah selesai sholat ashar, aku melakukan aktivitas ringan di rumah, melanjutkan membereskan halaman rumah kami serta menanam bibit sayur kangkung di media tanam yang telah aku siapkan di pagi hari tadi.
Dan kemudian aku menyiapkan cemilan sore kami sesuai dengan permintaan si kecil Alvira yang sedang asik menonton video kesukaannya di YouTube.
Cuaca di sore hariCuaca di sore ini terlihat cukup cerah dan sedikit berawan, tetapi tidak terjadi hujan. Cuaca yang cukup ideal dan persis seperti yang kami inginkan.
Untuk beberapa saat ini, kami berharap hujan tidak turun dulu agar kami bisa membereskan rumah kami yang terdampak banjir. Meskipun hal itu tidak sepenuhnya bisa terjadi karena ini masih berada dalam musim penghujan.
Kondisi hujan akan menghambat pekerjaan kami membereskan rumah, terutama endapan lumpur yang masih memenuhi halaman dan pemukiman kami.
Informasi dari BMKGHal yang sama juga dialami di berbagai wilayah lain di Aceh yang terdampak oleh bencana ekologis kemarin. Bahkan kondisi mereka jauh lebih sulit dan memprihatinkan.
Mereka sudah mengalami beberapa kali banjir susulan, padahal rumah mereka masih belum selesai dibereskan setelah banjir parah yang lalu.
Bahkan banyak diantara mereka yang kehilangan rumah dan harta benda mereka serta masih berada di tenda-tenda pengungsian yang jauh dari kata layak.
Karena kondisi yang demikian, aku harus selalu memantau update informasi dari pihak BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) sebagai langkah antisipasi, jika tiba-tiba ada kondisi darurat yang harus dihadapi.
Bencana ekologis di bulan November tahun lalu memberikan pelajaran berharga bagi kami untuk selalu waspada terhadap kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi.
Semoga kondisi cuaca di daerah kami akan cukup kondusif agar kami bisa bangkit dari dampak bencana yang kami alami ini.
Asa yang masih tersisa di hati sanubari kami, karena bagaimanapun bencana sudah terjadi dan kami harus menerimanya dengan lapang dada.
Tugas selanjutnya adalah bangkit dan mulai menata kembali apa-apa yang telah direnggut oleh bencana ekologis yang lalu.
Sekian postinganku kali ini. Stay Healthy and Fun, Ciao...!
@ alee75
Click Here 











Congratulations! This post has been voted through steemcurator08 We support quality posts, good comments anywhere and any tags.