Banjir dan Longsor Aceh 2025: Refleksi Duka Dan Harapan

Disclaimer: Tulisan ini hanyalah refleksi pribadi saya terhadap kondisi terkini seputar bencana banjir dan longsor di Sumatera, khususnya - karena saya orang Aceh - Aceh. Semua hal yang baik dan benar dari tulisan ini adalah berasal dari kejernihan pikiran yang dikaruniakan oleh Allah SWT, dan semua kekurangan dan kesalahan di dalamnya adalah murni dari diri saya sendiri. Lanjutkan membaca dengan kesadaran Anda sendiri.
Sudah lebih dari satu bulan sejak longsor dan banjir melanda Aceh. Dan keadaan masih sangat parah. Walaupun Presiden telah mengatakan bahwa negara mampu menghadapi ini, namun faktanya, pada hari ke 40 kemaren masih ditemukan korban yang tergeletak sekarat di dalam lumpur. Ini sungguh menyedihkan. Lihat video penemuan warga oleh Waki Menteri Dalam Negeri dan Praja IPDN di Aceh Tamiang di bawah ini.
Sekali lagi, ini sungguh menyayat hati. Hari-hari ini, sebagai seorang berdarah Aceh yang sedang di perantauan, hampir setiap hari saya menitiskan air mata jika membaca berita atau menonton klip di media sosial tentang Aceh atau saat menelepon ke kampung. Keluarga inti saya, kebetulan, tidak ada yang menjadi korban, bahkan tidak menderita kerugian apapun, hal yang sedikit meringankan kesedihan, namun saudara-saudara jauh kami di pedalaman Aceh Utara banyak yang meninggal, harta benda tersapu air banjir dan longsor, rumah-rumah hilang, mungkin ada yang meninggal kelaparan. Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Esa, menguatkan kita semua yang masih tertinggal tidak tersapu air, dan mengampunkan dosa-dosa serta memberikan surga kepada mereka yang telah pergi.
Aceh, dan Sumatera Utara serta Sumatera Barat, belum pulih, belum sama sekali. Demikian kesimpulan yang saya dapat dari berbagai sumber informasi langsung dari sana. Terlepas dari semua kesedihan, kepedihan, isak tangis, bencana membentuk kita, membentuk karakter, menimbulkan pertanyaan-pertanyaan, membuncahkan kecurigaan dan kemarahan, menundukkan.
Kemarin, dalam ceramah Jumat, khatib menyinggung tentang kekuasaan Allah yang hanya dengan izinNya lah segala sesuatu bisa berlaku, sebagaimana tercantum di dalam Al-Quran pada Surat At-Taghabun ayat 11.
مَآ اَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِۗ وَمَنْ يُّؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
"Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah. Siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
Ayat lain yang memiliki kesamaan premis yakni tentang keMahaTahuan Allah adalah Ayat 59 dari Surah Al-An'am, yang berbunyi:
وَعِنْدَهٗ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَآ اِلَّا هُوَۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِۗ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
"Kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz)."
Kedua ayat tersebut menegaskan bahwa Allah MENGETAHUI dan MENGIZINKAN bencana terjadi. Sebagai makhluk yang Allah karuniakan akal dan kuriositi (rasa ingin tahu), manusia memiliki kecenderungan untuk bertanya dan menginginkan jawaban terhadap semua hal, termasuk kenapa Allah Yang Maha Kuasa mengizinkan musibah yang memilukan. Pertanyaan bukanlah hal yang terlarang, tetapi ketidak-mampuan mengendalikan diri bisa membuat manusia tergelincir dari jalan yang lurus. Na'uudzubillaah.
Dan untuk pertanyaan tentang kerusakan ekosistem, Allah telah memberikan jawaban di dalam Al-Quran, yaitu pada Surah Ar-Rum ayat 41, yang bunyinya,
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."
Ayat tersebut menjelaskan bahwa tangan-tangan manusia lah (karena memperturutkan hawa nafsu) yang menyebabkan kerusakan alam sehingga bencana terjadi. Penggalan ke dua dari ayat tersebut menyebutkan bahwa bencana datang sebagai hukuman atas perbuatan-perbuatan buruk merusak alam tersebut. Masyarakat dan pihak terkait yang punya wewenang telah gagal menolak perusakan alam, atau bahkan mereka lah yang menjadi bagian atau motor penggerak "jalan yang buruk" itu, sehingga mereka harus menerima kepahitan ini.
Tidak ada yang bisa menolak bahwa telah terjadi penebangan liar besar-besaran di dalam hutan Aceh, ribuan batang kayu gelondongan yang terpotong rapi dan sebagiannya diberikan penanda dengan cat telah menjadi saksi bisu.

Lalu kenapa hanya orang kecil yang tertimpa hukuman ini? Kenapa mereka yang berwenang memberika ijin dan mereka yang punya andil saham besar dalam perusakan alam malah hidup tenang di dalam rumah-rumah megah mereka nun jauh di sana? Oh! Mereka juga mendapatkan hukuman, hanya saja kita tidak bisa melihatnya. Mereka tidak ikut hanyut di dalam banjir dan lumpur, istana-istana mereka tidak porak poranda, anak-anak mereka tidak mati secara mengenaskan, tetapi mungkin karena itu penderitaan mereka jauh lebih hebat. Penderitaan dan kebahagiaan bukan hanya masalah fisik.
Orang-orang yang telah terhanyut banjir dan longsor, baik yang murni karena mereka merupakan bagian langsung dari pelaku "jalan yang buruk itu" ataupun orang-orang yang kebetulan ada di sana dan tidak mencegah atau tidak mampu mencegah atau telah mencegah namun tidak didengarkan kata-katanya, mungkin Allah telah menghapus sebagian dari dosa-dosa mereka, sebagaimana pernyataan dua (di antara yang lain) hadist berikut,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاه
"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: Tidaklah seorang muslim itu ditimpa musibah baik berupa rasa lelah, rasa sakit, rasa khawatir, rasa sedih, gangguan atau rasa gelisah sampaipun duri yang melukainya melainkan dengannya Allah akan mengampuni dosa-dosanya." (HR Bukhari dan Muslim)
عن عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا
"'Aisyah Radhiyallahu 'Anha, isteri Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, berkata, “Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pernah bersabda, ‘Tidaklah suatu musibah yang menimpa seorang muslim bahkan duri yang melukainya sekalipun melainkan Allah akan menghapus (kesalahannya)'" (Shahih al-Bukhari No. 5640)
Musibah (termasuk sakit dan bencana) bisa menghapus dosa, karena itu salah satu doa untuk disampaikan kepada mereka yang sedang ditimpa musibah adalah, "Semoga Allah berikan Anda kekuatan dan kesabaran," sehingga penggalan ke dua dari ayat 11 Surah At-Taghabun sebagaimana tertulis di atas, "... Siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. ..." dapat tercapai.
Semoga kita dapat mengambil pelajaran (petunjuk) dari setiap kejadian, khususan musibah yang saat ini sedang terjadi. Semoga kita, khususnya warga dan orang Aceh, rakyat dan ulama dan umara, bisa benar-benar menjadikan ini pelajaran, pelajaran yang sangat mahal, yang telah dibayarkan oleh sebagian orang dengan air mata, harta benda, dan bahkan nyawa.
Dan tentu saja kita ucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah membantu Aceh, baik itu berupa tenaga, pikiran, harta benda, maupun doa. Hanya Allah saja yang sanggup membalas semua kebaikan itu.
Maha Benar Allah.
Saleum.

Assalamualaikum pak, bagaimana kabarnya, terimakasih banyak ya pak atas dukungannya selama ini, semoga keluarga bapak sehat semua dan jauh dari musibah terutama yang berada di Aceh.
Memang musibah banjir nyoe Paleng parah dari pada stunami, Nye stunami hanya ureng pinggir laut sagai yg kena tapi Nye banjir nyoe mulai dari gunong sampe laut Abeh tersapu sama rata.
Awak lon yang di pinggir laut Pih kena imbasnya tp Alhamdulillah rumoh Mateng na beda Ngon saudara yang lain yang ada di Tamiang dan juga langkahan abeh kenoeng kayu gelondongan sehingga rumoh pun tersapu rata dengan tanah.
Jino Lon Jak u Pidie dan hideh Pih cukop parah sebab Kon lumpur tapi tertimbun dengan Tanoh yg padat sehingga rumoh hanjet huni le Nye Hana tapinah tanoeh padat nyan, puasa ka Rab merumoh Pih KA Hana le dan awak nyan bak tenda BNPB ji eh jino
Wa'alaikumussalam, Bu @suryati1.
Saya dan keluarga inti dalam keadaan baik-baik saja.
Iya, tsunami 2004 hanya menyapu tempat yang dekat pantai dan setelah itu pergi, tetapi banjir dan longsor 2025 menyapu sebagian besar daratan, dan setelah itu tetap di sana (air, lumpur, dan sampah tergenang di mana-mana). Seperti kata Pak Gubernur bahwa ini lebih parah dari Gempa dan Tsunami 21 tahun sebelumnya.
Keluarga besar Ibu saya ada di Langkahan, jadi, ya seperti yang saya tuliskan di atas. Kampung-kampung hilang.
Semoga semuanya akan segera membaik, Aceh pulih lagi sesegera mungkin.
Terima kasih, Bu Suryati. Maaf saya baru melihat setelah sepuluh hari.
Saleum.
Tidak mengapa pak, saya tahu bapak itu sibuk bukannya sombong, Alhamdulillah kalau keluarga bapak baik-baik saja.
Harta benda masih bisa dicari selagi Allah SWT memberikan kita umur panjang, Allah tahu seberapa kuat hambanya yang di uji, semoga kita selalu tabah dan mensyukuri nikmat karena dibalik musibah pasti ada hikmahnya.
Saya harap keluarga bapak juga sehat dan bahagia selalu,
Oia bapak sudah jarang menulis sekarang ya?
Lon Pih sama yang phon mata lon sedang bermasalah dan yang kedua jaringan serta Brat that murah steem sehingga lesu teh bacut,
Saya harap mata Anda segera membaik. Jaringan yang lambat sangat memakan waktu. Semoga Anda baik-baik saja. Saya senang penyebab muntah anak Anda sudah ditemukan.
🍀❤️

@wakeupkitty
Thank God, my eyes are feeling better now because I'm looking at my phone less often. I'm limiting my activity so the pain subsides.
My child is also feeling better, unlike yesterday, after receiving proper treatment. At least his condition has subsided. I don't think he's fully recovered yet, as stomach problems require a healing process.
How are you, my friend? I hope you're all well. Greetings🙏