Demi Waktu : Intisari Khutbah Pada Jumat Pertama Tahun 2026 Masehi

in Steem SEAlast month


demiwaktu-canva.png
Dibuat dengan Canva daring.

Pembuka

Jumat, 2 Januari 2026 M / 13 Rajab 1447 H

Ya. Tahu-tahu sudah tahun 2026. Perasaan seperti baru kemarin memasuki tahun 2025.

Cuaca di tempatku saat ini memang tidak menentu dengan hujan yang bisa diharapkan turun kapan saja. Gerimis menyambutku ketika aku keluar rumah untuk ke mesjid demi menunaikan shalat Jumat. Gerimis ini mengundang kerinduan akan kampung halaman. Hujan bagiku selalu mempersembahkan kesenduan. Terlebih saat ini Aceh, tanah kampung halamanku, sedang diterpa musibah banjir dan longsor. Alhamdulillah, keluarga besarku tidak ada yang menderita korban yang berat. Dan bela sungkawa untuk semua yang menjadi korban baik yang kehilangan nyawa, kerabat, harta dan benda, di Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan beberapa daerah lain. Semoga Allah SWT menguatkan kita semua.

Ini adalah Jumat pertama di tahun 2026 Masehi. Dan seperti bisa diharapkan, Khatib akan mengambil ini sebagai tema khutbah Jumat hari ini.

Tentang Penanggalan Dan Pelajaran Dari Peredaran Waktu : Progress


julius-caesar-9935119_1280.png

Karikatur Julius Caesar, diunggah oleh olenchic sebagaimana terlihat di pixabay.

Penanggalan Masehi berawal dengan sistem kalender Julian dari Romawi Kuno. Dinamakan Penanggalan Julian sesuai nama orang yang memberlakukan sistem penanggalan tersebut, yaitu Julius Caesar, pada tahun 45 Sebelum Masehi (SM). Penanggalan Julian memperkenalkan adanya 365 hari dalam satu tahun dengan 1 tahun kabisat (tahun dengan jumlah hari sebanyak 366) setiap 4 tahun. Sistem penanggalan ini didasarkan pada pergerakan bumi mengelilingi matahari sehingga disebut juga Kalender Surya atau Solar Calendar (Bahasa Inggris) atau Syamsiah (Bahasa Arab).

Dalam sistem penanggalan, selain sistem penanggalan surya, dikenal juga sistem penanggalan Bulan yaitu yang berdasarkan pada pergerakan (revolusi) bulan mengelilingi bumi (Kalender Bulan, Inggris = Lunar Calender; Arab = Qamariyah). Penanggalan Hijriah dalam tradisi Islam adalah contoh dari praktek penanggalan Qamariyah (Lunar).

Sistem Penanggalan Julian menggantikan sistem penanggalan Romawi sebelumnya yang bersifat lunisolar (pencampuran antara sistem penanggalan surya dan bulan). Orang di belakang reformasi penanggalan yang dilakukan oleh Julius Caesar ini adalah seorang astronomer (ahli perbintangan) bernama Sosigenes dari Alexandria.

Pada tahun 1582 M, dari pusat agama Katolik di Roma, Paus saat itu, Gregorius XIII menyempurnakan penanggalan warisan Romawi Kuno tersebut dengan menetapkan tahun kelahiran Yesus (dalam tradisi Islam disebut 'Isa ibnu Maryam 'alaihis salam) sebagai tahun 1 Masehi, walaupun di dalam berbagai Bibel sendiri bisa ditemukan kontradiksi mengenai tahun kelahiran Yesus yang pasti. Sistem Penanggalan Masehi juga disebut kalender Gregorian, sebagai penghormatan kepada sang Paus.

Ritratto_di_Gregorio_XIII_-_Passarotti_-1200x400.webp
Lukisan potret Paus Gregory XIII hasil karya seniman Italia Bartolomeo Passarotti sebagaimana terlihat di sini.

Ada juga sistem penanggalan yang berdasarkan pada pergerakan bulan mengelilingi bumi yang disebut dengan istilah Kalender Bulan (Inggris = Lunar Calender; Arab = Qamariyah). Penanggalan Hijriah dalam tradisi Islam adalah contoh dari praktek penanggalan Qamariyah (Lunar).

Walaupun sejarah penanggalan Masehi berasal dari tradisi pagan Romawi Kuno yang kemudian "direhabilitasi" oleh pemimpin Katolik, ummat Islam tidak terlarang menggunakan penanggalan ini. Meskipun di instansi-instansi Islam seperti di masjid-masjid bisa ditemukan penanggalan Hijriah yang mendampingin penanggalan Masehi, sebagaimana masjid yang aku kunjungi saat melaksanakan ibadah Jumat kali ini.

Kita muslim tidak memiliki tradisi merayakan pergantian tahun (baik Masehi maupun Hijriah), tetapi kita selalu bisa mengambil peristiwa ini sebagai satu entri untuk : 1) mengevaluasi waktu yang telah berlalu, 2) mensyukuri waktu yang masih kita miliki (masih hidup saat ini, sehingga masih punya kesempatan memperbaiki diri), dan 3) merencanakan masa depan yang lebih baik. Ketiga hal ini (mengevaluasi dan bersyukur dan merencanakan) sebenarnya bisa kita lakukan setiap hari dan setiap waktu, tidak harus pada pergantian tahun atau bulan atau hari yang khusus.

Allah SWT telah membicarakan masalah waktu secara khusus dalam satu surah di dalam Al-Quran yang Suci, yaitu Surah Al 'Ashr, sebuah surah pendek yang berisi 3 ayat.

وَالْعَصْرِۙ ۝١ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ ۝٢اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِࣖ ۝٣

  1. Demi masa,
  2. sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian,
  3. kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.

Muslimin telah diingatkan oleh Rasulullah SAW, di dalam hadis yang telah diriwayatkan oleh Al Hakim agar tiap waktunya menjadi orang yang lebih baik, "Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, (dan) barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan bahkan, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka." (HR Al Hakim)

من كان يومه خيرا من امسه فهو رابح. ومن كان يومه مثل امسه فهو مغبون. ومن كان يومه شرا من امسه فهو ملعون.( رواه الحاكم)

Hadis tersebut adalah cerminan bahwa Islam mengharapkan setiap muslim memiliki progress positif di dalam hidupnya, khususnya yang berhubungan dengan akhirat (amal ibadah).

Imam Asy-Syafi'i rahimahullah pernah berkata, sebagaimana telah dinukil oleh Al-Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Al-Jawaab Al-Kaafi hal 109 dan Madaarijus Saalikiin 3/129,

الْوَقْتُ سَيْفٌ فَإِنْ لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ، وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلْتَهَا بِالْحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالْبَاطِلِ

“Waktu ibarat pedang, jika engkau tidak menebasnya maka ialah yang akan menebasmu.
Dan jiwamu jika tidak kau sibukkan di dalam kebenaran maka ia akan menyibukkanmu dalam kebatilan.”

Penutup

Waktu tidak menunggu. Waktu tidak bisa dihentikan. Waktu tidak bisa dikendalikan. Yang bisa dikendalikan oleh setiap kita adalah diri kita sendiri. Suatu saat nanti, ketika semua telah berakhir, kita akan harus bertanggung jawab terhadap banyak hal, salah satunya adalah tentang bagaimana kita telah menggunakan waktu yang telah dipinjamkan Tuhan, Allah Subhanahu Wa Ta'ala, kepada masing-masing kita.

Semua kebenaran adalah dari Allah Subhaanahu Wa Ta'ala saja. Dan semua kesalahan adalah dari saya. Semoga Allah Yang Maha Esa menolong kita semua, khususnya saudara-saudaraku yang sedang ditimpa musibah, memberikan kita semua kekuatan dan kesabaran.

Saat aku melangkah kaki ke luar masjid, kulihat langit di barat sangat hitam. Aku bisa mengharapkan hujan yang sangat lebat pada sore atau malam ini.

Saran Bacaan

Terima Kasih

image.png
Dibuat dengan Canva daring.