Tinggal Kenangan
Rumah ini dahulu berdiri sebagai tempat pulang, tempat di mana tawa, doa, dan kenangan tumbuh bersama waktu. Di bawah atap tuanya, orang tua kami membangun kehidupan dengan penuh perjuangan dan kasih sayang. Setiap sudut rumah menyimpan cerita tentang masa kecil yang sederhana, tentang kebersamaan di ruang keluarga, serta tentang hari-hari yang berlalu dengan hangat meski serba terbatas.
Namun waktu membawa ujian yang tak pernah kami bayangkan. Banjir datang menerjang, meninggalkan lumpur, puing, dan kesunyian. Air yang meluap perlahan merendam lantai rumah, menghapus jejak-jejak kehidupan yang selama puluhan tahun tersimpan di sana. Dinding yang dulu kokoh mulai rapuh, halaman yang dahulu ramai kini dipenuhi sisa-sisa puing dan lumpur. Pohon mangga tua di samping rumah masih berdiri, seakan menjadi saksi bisu atas segala yang telah terjadi.
Rumah ini akhirnya tidak lagi mampu bertahan. Dengan hati yang berat, kami memutuskan merobohkannya. Bukan karena kami ingin melupakan, melainkan karena keadaan memaksa kami untuk merelakan. Saat dinding demi dinding runtuh, terasa seperti sebagian kenangan ikut jatuh bersama debu dan reruntuhan. Tempat yang dahulu menjadi pusat kehidupan keluarga kini tinggal hamparan tanah dan pecahan bangunan yang berserakan.
Meski rumah itu telah tiada, kenangan tentang orang tua kami akan tetap hidup. Sebab sejatinya, rumah bukan hanya tentang tembok dan atap, melainkan tentang cinta yang pernah tumbuh di dalamnya. Di atas tanah yang kini kosong itu, tersimpan jejak perjuangan, pengorbanan, dan kasih sayang yang tidak akan pernah hilang oleh waktu maupun bencana.



Semoga diberikan kesabaran dan dilipatgandakan pahala atas musibah yang kita hadapi...
Aamiin...
Dan saya yakin dibalik musibah akan ada rahmat Allah yang mengalir.