Bangkit dari Lumpur: Petani Pidie Jaya Beralih ke Semangka Pasca Banjir Bandang, Dapat Dukungan Penuh Dari KTNA

in Steem SEA13 days ago

IMG-20260204-WA0101.jpg

MEUREUDU PIDIE JAYA – Inisiatif sekelompok petani di empat gampong Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, menyemai harapan baru pasca musibah banjir bandang dua bulan silam. Di atas lahan sawah yang masih menyisakan luka akibat lumpur dan kerusakan infrastruktur, mereka kini berjuang bangkit dengan mengolah tanah untuk ditanami semangka.

Ketua KTNA (Kontak Tani Nelayan Andalan) Kabupaten Pidie Jaya, Drs. H. Ridwan Husen, secara langsung mendukung langkah petani di Gampong Rhing Mancang, Rhing Blang, dan Rhing Krueng dan Teupin Peuraho ini. Dukungan itu diwujudkan dengan pendampingan di lapangan, Rabu (4/2/2026), bersama ahli budidaya semangka setempat, Sulaiman yang akrab disapa Bang Loi.

“Inisiatif petani ini bisa menjadi titik awal kebangkitan petani dari rasa duka mendalam akibat bencana alam Banjir Bandang,” ujar Ridwan Husen, yang kerap disapa Pak Wan, kepada Cek Mad dari media ini.

Bencana banjir bandang yang melanda dua bulan lalu tidak hanya menyebabkan gagal panen akibat endapan lumpur dan luapan air, tetapi juga meninggalkan masalah berkelanjutan. Sistem irigasi dan drainasi rusak parah, sementara infrastruktur pendukung persawahan banyak yang hancur. Kondisi ini membuat ketidakpastian terhadap ketersediaan dan kualitas air untuk pertanian padi di musim-musim mendatang.

Menyadari kendala itu, para petani memilih untuk tidak tinggal diam. Mereka memutar haluan dengan memanfaatkan lahan yang sudah mulai mengering untuk komoditas hortikultura yang dianggap lebih sesuai dengan kondisi saat ini: semangka. Pemilihan semangka dinilai strategis karena relatif lebih thadap kondisi lahan pasca bencana dan memiliki siklus panen yang lebih pendek, sehingga dapat memberikan pemasukan yang lebih cepat untuk memulihkan ekonomi keluarga.

Pada Rabu lalu, suasana optimisme terlihat di sebagian lahan. Ridwan Husen, didampingi Bang Loi, turun langsung melihat proses pengolahan tanah yang dibantu traktor. Kehadiran Bang Loi sebagai ahli teknis menjadi nilai tambah, memberikan kepastian kepada petani tentang metode budidaya yang tepat agar usaha baru ini bisa berhasil.

“Kami melihat semangat yang luar biasa. Meski lahannya belum pulih seratus persen, mereka berani mencoba. Ini momentum yang sangat penting,” tambah Pak Wan.

Lebih jauh, Ketua KTNA Pidie Jaya itu menyampaikan harapan dan seruan kepada seluruh jajaran pemerintahan. “Kami berharap Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, Pemerintah Provinsi Aceh, hingga Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian dapat mendukung dan membantu semangat petani ini. Dukungan bisa berupa perbaikan infrastruktur irigasi, bantuan sarana produksi pertanian yang sesuai, atau pendampingan teknis berkelanjutan,” paparnya.

Langkah petani empat gampong tersebut menjadi contoh nyata resilensi atau ketahanan masyarakat agraris menghadapi dampak perubahan iklim dan bencana. Jika didukung penuh, inisiatif beralih ke komoditas alternatif ini bukan hanya sekadar pemulihan sementara, tetapi berpotensi membuka mata pada pola pertanian yang lebih adaptif dan beragam di wilayah tersebut. (CM)

IMG-20260204-WA0102.jpg