"Kembali ke Nol": Luka dan Keputusasaan di Balik Bencana Banjir Bandang Pidie Jaya
Banjir bandang tak hanya menyisakan lumpur, tetapi juga menghapus puluhan tahun jerih payah warga. Mulai dari rumah, usaha, hingga lahan pertanian dan perikanan, semuanya sirna dalam sekejap.
PIDIE JAYA – Frase "kembali ke nol" bukan lagi sekadar kiasan, melainkan realitas pahit yang terpampang nyata di wajah-wajah lesu korban banjir bandang di Pidie Jaya. Lima hari pasca-bencana, dampak kehancuran masih terlihat di mana-mana, membekaskan luka mendalam yang tak hanya fisik, tetapi juga mental dan ekonomi.
Rumah yang Berubah Kubangan Lumpur Membatu
Di permukiman warga, pemandangan yang tersaji suram. Ratusan rumah masih terendam lumpur hitam pekat dengan ketinggian yang variatif, mulai dari lutut dewasa hingga mencapai pinggang. Yang membuat situasi semakin sulit adalah lumpur tersebut telah mengeras, membentuk lapisan padat bagai beton.
"Kami bahkan belum bisa memulai membersihkan rumah. Lihat saja, lumpurnya sudah seperti batu. Jika seseorang berdiri di atasnya, tangannya sudah bisa mencapai plafon loteng. Bagaimana kami akan mengeluarkannya? Alat berat pun terbatas," keluh Ibu Imzinaryani (58), seorang warga yang rumahnya terperangkap lumpur setinggi hampir 1 meter lebih. Suasana ketiadaan inisiatif untuk bersih-bersih terasa, bukan karena malas, melainkan karena rasa putus asa di hadapan timbunan material yang begitu masif.
Runtuhnya Pusat Perekonomian Warga
Dampak ekonomi bencana ini bersifat multidimensional dan menghantam hampir semua sektor mata pencaharian.
- Usaha Ritel dan Toko: Tempat-tempat usaha, dari warung kelontong hingga toko material, mengalami kerugian ganda. Barang dagangan tidak hanya terendam air dan lumpur, membuatnya tidak layak jual, tetapi banyak juga yang hilang terbawa arus banjir yang deras. Lemari etalase, kulkas, dan meja berhamburan, meninggalkan ruangan kosong penuh sisa-sisa lumpur.
- Sawah dan Perkebunan: Lahan pertanian, yang biasanya menghijau, kini berubah wajah menjadi hamparan cokelat yang rata. "Sawah saya sekarang seperti landasan pacu pesawat terbang. Tidak ada lagi yang tersisa. Lumpur menimbunnya hingga kedalaman lebih dari dua meter. Bibit padi yang baru ditanam hilang tertimbun," ujar Musri (54), petani yang kehilangan sumber penghidupannya. Demikian halnya dengan kebun sayur dan buah, semua tanaman mati terendam air bah yang menggila.
- Peternakan dan Perikanan: Bagi peternak, bencana ini adalah mimpi buruk. Kandang-kandang unggas dan ternak hanyut atau runtuh. Ribuan ekor ayam, itik, serta kambing mati terendam, menimbulkan bau anyir dan kekhawatiran akan wabah penyakit. Sektor perikanan tambak juga tak kalah parah. Tambak-tambak yang hampir panen rusak total, bagaikan lautan luas yang menyapu bersih segala hasil budidaya berbulan-bulan. "Saya sudah hampir panen udang, tiba-tiba semuanya hilang. Ini seperti kerja setahun habis dalam semalam," keluh Marzuki Hamid(72), seorang pembudidaya bandeng / udang.
Pengungsian: Cermin Wajah Lelah dan Masa Depan Suram
Di tenda-tenda pengungsian dan dapur umum, suasana muram begitu terasa. Wajah-wajah warga tampak lesu, lelah, dan kehilangan semangat. Mereka bertahan dengan bantuan sembako dan makanan seadanya, sambil memikirkan beratnya langkah untuk membangun kembali kehidupan yang telah hancur berantakan.
Obrolan di antara mereka hanya berputar pada satu titik: segala yang telah dibangun dengan susah payah selama bertahun-tahun kini lenyap. Mulai dari tempat tinggal, sumber pendapatan, hingga alat-alat kerja. Tidak ada yang tersisa.
"Kami harus mulai dari nol lagi. Benar-benar dari nol," ucap seorang ibu paruh baya di pengungsian dengan suara lirih, mengulang kata yang terus bergema di hati semua korban. "Kembali ke nol" bukan sekadar slogan, melainkan sebuah pengakuan akan kehancuran total dan perjuangan berat yang harus dimulai dari titik paling bawah.
Editor : CM Cek Mad









