Pilu Pidie Jaya: 12 Tewas Diterjang Banjir Bandang, Warga Didera Praktik 'Price Gouging' Oknum Pedagang
PIDIE JAYA – Duka dan nestapa menyelimuti Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, pasca bencana banjir bandang yang menghancurkan segala yang dilintasinya. Data terbaru menyebutkan 12 jiwa melayang dan ratusan lainnya luka-luka. Di tengah upaya bertahan hidup, masyarakat yang sudah porak-poranda harus menghadapi musibah kedua: kelangkaan dan kenaikan harga bahan pokok yang mencekik leher akibat ulah oknum pedagang yang memanfaatkan situasi.
Banjir bandang yang melanda pada Rabu(26/11/2025) dini hari itu datang secara tiba-tiba dengan kekuatan yang luar biasa. Air bah yang berasal dari hujan deras di hulu serta luapan beberapa sungai itu menyapu permukiman, toko, dan infrastruktur publik dengan kecepatan tinggi. Ribuan rumah warga di Kecamatan, Meureudu, Meurah Dua, Trienggadeng, Panteraja, Bandar Baru, Bandar Dua, dan Jangkabuya, sekitarnya mengalami kerusakan parah, dari ringan hingga rata dengan tanah. Banyak korban yang tidak sempat menyelamatkan harta benda mereka, hanya cukup untuk menyelamatkan nyawa.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie Jaya, hingga Sabtu (29/11/2025), masih melakukan pendataan menyeluruh. Selain 12 korban jiwa yang dikonfirmasi, tercatat lebih dari 850 orang menderita luka-luka dengan tingkat keparahan beragam. Sedikitnya 2.000 kepala keluarga atau setara dengan 8.000 jiwa mengungsi dan terpaksa tinggal di tenda-tenda darurat, masjid, dan sekolah yang dijadikan posko pengungsian.
Akses transportasi lumpuh total di beberapa titik akibat jembatan putus dan jalan nasional yang amblas. Hal ini menyulitkan distribusi bantuan logistik dan obat-obatan hingga ke pelosok yang paling terdampak. Tim SAR gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, BPBD, dan relawan dari berbagai organisasi terus berjibaku menjangkau korban yang masih terisolir.
Fokus: Keluhan Warga tentang Praktik Price Gouging
Di balik tumpukan masalah pascabencana, keluhan pahit mengemuka dari para Masyarakat tersebut yang sempat Cek Mad dari media ini wawancarai Yusrizal Bengkel, seorang warga Trienggadeng, menjadi saksi mata dan langsung dari praktik tidak berperikemanusiaan yang dilakukan sejumlah pedagang. dan Cek Mad atau verifikasi fakta di lokasi, Yusrizal dengan nada kesal menuturkan betapa sulitnya mendapatkan barang kebutuhan dengan harga wajar.
"Dalam keadaan seperti ini, warga yang musibah yang sudah kehilangan segalanya justru masih harus berhadapan dengan harga-harga yang tidak masuk akal. Seperti minyak goreng, gula, gas elpiji 3 kg, dan telur, harganya melonjak dua hingga tiga kali lipat dari harga normal. Ini seperti ditimpa musibah beruntun. Rasanya seperti diperas di saat kita sedang terpuruk," ujar Yusrizal bersama istrinya.
Lonjakan harga yang drastis ini diduga kuat dipicu oleh tiga faktor utama: pertama, terputusnya rantai pasokan sehingga stok di tingkat pedagang eceran menipis. Kedua, rusaknya akses jalan logistik membuat biaya transportasi untuk mendatangkan barang dari luar daerah membengkak. Ketiga, dan ini yang paling disayangkan, adalah adanya spekulasi dan perilaku oknum yang sengaja menimbun barang untuk menaikkan harga secara sepihak, sebuah praktik yang dikenal sebagai price gouging.
Dampaknya, beban psikologis dan ekonomi warga bertambah berat. Uang yang seharusnya bisa dialokasikan untuk kebutuhan darurat lainnya, harus terkuras hanya untuk membeli sejumlah kecil bahan makanan. "Ini memperlambat proses pemulihan trauma mereka. Rasa tidak aman dan ketidakadilan semakin menjadi-jadi," tutur seorang relawan psikologi di salah satu posko.
Menanggapi laporan yang berkembang, Diharapkan pihak berwajib segera menginstruksikan jajarannya untuk melakukan pengawasan ketat di pasar-pasar tradisional. Dan harus menyiapkan tim khusus untuk memantau peredaran barang dan harga. Kepada para pedagang, diingatkan untuk tidak melakukan spekulasi yang merugikan masyarakat. Bagi yang terbukti melakukan penimbunan dan manipulasi harga, pihak berwajib bertindak tegas sesuai hukum yang berlaku," tegas tegas Yusrizal .
Hal tersebut menjadi dorongan Dinas Perdagangan setempat untuk segera melaksanakan Operasi Pasar, guna menstabilkan harga dan memastikan ketersediaan barang. Bantuan sembako dari pemerintah pusat dan lembaga donor mulai didistribusikan, meski belum merata ke semua titik pengungsian.
Saat ini, fokus utama masih pada evakuasi dan penyelamatan, pendirian hunian sementara yang layak, serta pencegahan wabah penyakit. Bencana ini menyisakan pekerjaan rumah yang sangat besar bagi Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya, tidak hanya dalam hal rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur fisik, tetapi juga pemulihan ekonomi dan, yang tak kalah penting, memulihkan rasa keadilan serta kepercayaan warga, yang menjadi korban dua kali: pertama oleh amuk alam, dan kedua oleh keserakahan sesama manusia.
Editor: CM (Cek Mad)

