PUTRA MEUREUDU PROF. DR. SAMINAN, M.Pd. DIKUKUHKAN SEBAGAI GURU BESAR ILMU PENDIDIKAN FISIKA BERBASIS ETNOSAINS
Banda Aceh – Universitas Syiah Kuala (USK) kembali menambah deretan profesor di lingkungan kampusnya. Pada Senin, 13 April 2026, digelar Sidang Terbuka Senat Akademik Universitas Syiah Kuala di Pusat Kegiatan Akademik (Academic Activity Center) Banda Aceh, yang mengukuhkan Prof. Dr. Saminan, M.Pd. sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Pendidikan Fisika Berbasis Etnosains pada Program Studi Pendidikan Fisika, Departemen Pendidikan Fisika, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) USK.
Pengukuhan ini menjadi momen bersejarah, tidak hanya bagi Prof. Saminan dan keluarga besar FKIP USK, tetapi juga bagi dunia pendidikan Aceh, dan nasional, khususnya dalam pengintegrasian kearifan lokal (etnosains) ke dalam pembelajaran fisika modern.
Perjalanan Hidup: Dari “Saminan Kecil” Hingga Menjadi Profesor
Dalam pidato pengukuhannya, Prof. Saminan dengan rendah hati membuka lembaran masa kecilnya. Lahir dari keluarga sederhana, di Desa Rhing Krueng merdu bercita-cita menjadi guru telah tertanam sejak dini atas arahan orang tuanya. Sejak kelas 4 SD, ia sudah terbiasa bangun sebelum subuh untuk mencari bibit ikan bandeng di laut, kemudian tetap berangkat ke sekolah pukul 7 pagi. “Orang tua memberi ultimatum: tidak boleh ada alasan tidak sekolah karena ke laut,” kenangnya.
Pada tahun 1974, saat kelas 5 SD, ia berhasil membeli sepeda Phoenix seharga Rp21.000 dari hasil menjual bibit bandeng—pengalaman yang menanamkan nilai kerja keras dan kemandirian.
Satu pesan orang tua yang paling membekas adalah saat ia diminta mengikat pagar sawah tetapi hasilnya tidak rapi. Sang ayah berkata, “Bek meutiree tetapi harus meuguree” (jangan hanya tahu, tetapi harus terampil). Sejak saat itu, ia belajar menjahit hingga tamat SMA, sekaligus berjualan ikan di Pasar Ikan Meureudu. “Hidup tidak cukup dengan pengetahuan, tetapi harus memiliki keterampilan,” pesan orang tuanya yang terus ia pegang hingga kini.
Pendidikan dan Kiprah di Dunia Akademik
Setelah lulus SMAN Meureudu tahun 1982, ia berjualan obat-obatan sebagai bekal keterampilan sebelum melanjutkan kuliah. Pada tahun 1983, ia lulus tes masuk PTN dan menjadi mahasiswa Pendidikan Fisika FKIP USK.
Selama masa kuliah, ia aktif sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Fisika (HIMAFI), bekerja sebagai tukang jahit, berwirausaha toko obat, menjadi asisten Laboratorium MIPA, serta mengajar di beberapa SMA di Banda Aceh. Ia lulus tahun 1988 dan resmi menjadi dosen Pendidikan Fisika FKIP USK pada tahun 1989.
Jabatan dan pengalaman yang pernah diemban:
· Ketua Laboratorium Fisika (1995–1997)
· Ketua Program Studi Pendidikan Fisika (1998–2001)
· Dekan Bidang Kerjasama FKIP (2002–2005)
· Ketua PJK dan Training Center (2006–2014)
· Kepala Dinas Pendidikan Kota Banda Aceh (2018–2021)
Sejak 2022, ia fokus menyiapkan bahan untuk kebutuhan profesor, dan pada tahun 2025, Alhamdulillah, keberkahan itu datang.
Pengukuhan Dihadiri Pimpinan dan Para Profesor
Sidang terbuka dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Abubakar, M.S. selaku Ketua Senat Akademik Universitas, dan dihadiri oleh Prof. Dr. Mirza Tabrani, S.E., M.B.A., D.B.A. selaku Rektor USK, para wakil rektor, dekan, wakil dekan, serta para anggota senat akademik.
Adapun para profesor yang dikukuhkan pada senin 13 April 2026 di lingkungan FKIP USK, antara lain:
· Prof. Dr. Saminan, M.Pd ( Pendidikan Fisika Berbasis Etnosains)
· Prof. Dr. Samingan, M.Si. (Mikrobiologi)
· Prof. Dr. Iskandar AS., S.Pd., M.App.Ling. (Linguistik Terapan)
· Prof. Dr. Drs. Denni Iskandar, M.Pd. (Linguistik)
· Prof. Dr. M. Ikhsan, M.Pd. (Pembelajaran Geometri)
Puncak acara ditandai dengan pembacaan pidato ilmiah Prof. Dr. Saminan, M.Pd., yang mengangkat pentingnya pembelajaran fisika berbasis etnosains sebagai upaya melestarikan budaya lokal sekaligus meningkatkan pemahaman konseptual mahasiswa dan peserta didik
Penutup dan Harapan
Dalam sambutan penutupnya, Prof. Saminan menyampaikan rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT, shalawat kepada Rasulullah SAW, serta ucapan terima kasih tak terhingga kepada seluruh keluarga besar, kolega, guree-guree yang ada maupun yang telah tiada dan semua pihak yang telah mendidik, membimbing dan mendoakan sehingga menjadi guru besar serta mendukung penyelesaian naskah pidato pengukuhan ini.
Dengan dikukuhkannya Prof. Dr. Saminan, M.Pd., Universitas Syiah Kuala kini memiliki tambahan guru besar yang diharapkan mampu menginspirasi lahirnya pendekatan-pendekatan inovatif dalam pembelajaran fisika yang berakar pada kearifan lokal Nusantara.
Kepada Cek Mad dari Media ini sebagai putra Meureudu Pidie Jaya Prof Saminan yang mengecap pendidikan dasar hingga Menengah Atas di Meureudu akan peduli dan membantu Pendidikan Pidie Jaya
Komitmen untuk Daerah Asal: Membangun Pendidikan Pidie Jaya
Di balik gemerlap pengukuhan sebagai guru besar, Prof. Saminan tetap menyimpan kerendahan hati sebagai putra asli Meureudu, Pidie Jaya. Sejak mengecap pendidikan dasar hingga menengah di kampung halamannya, ia tidak pernah melupakan akar budaya dan sosial yang membentuk karakter dirinya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Saminan menyatakan komitmennya untuk terus peduli dan aktif membantu peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Pidie Jaya. Menurutnya, pengalaman masa kecil yang penuh perjuangan—mulai dari mencari bibit bandeng di laut, mengikat pagar di sawah, hingga belajar menjahit dan berjualan—menjadi modal berharga untuk memahami tantangan pendidikan di daerah asal.
“Saya ingin memastikan bahwa anak-anak di Meureudu dan seluruh Pidie Jaya adalah anak-anak yang memiliki kecerdasan (IQ) yang luar biasa. Oleh karena perlu mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik, termasuk penguatan pembelajaran sains berbasis kearifan lokal seperti yang saya tekuni selama ini,” ujarnya.
Rencana ke depan, ia akan memfasilitasi program bapak bupati dalam meningkatkan mutu pendidikan pidie jaya terutama meningkatkan mutu guru melalui pelatihan yang sistemik di Pidie Jaya, serta mendorong pendirian pusat belajar berbasis lingkungan (etnosains) yang mengintegrasikan nilai-nilai budaya setempat dengan kurikulum nasional. Hal ini menjadi wujud nyata “neu-ingat buet”—tidak hanya berkata, tetapi juga berkarya untuk kampung halaman.
Editor : CM Cek Mad



Congratulations @cmdd! Your post was upvoted by @supportive. Accounts that delegate enjoy close to 10x voting power and 10–11% APR.