“Seumur Jagung” yang Terancam Retak: Mari Rawat Kemenangan Ini untuk Pidie Jaya yang Bermartabat

in Steem SEAyesterday

IMG-20260402-WA0023.jpg

IMG-20260402-WA0024.jpg

Oleh: Muhammad M. Piah (CM Cek Mad)
Jurnalis Mata Elang Indonesia Biro Pidie Jaya

Kemenangan itu masih segar. Baru seumur jagung. Namun, alih-alih fokus merayakan amanah rakyat, kabar tentang ketidak harmonisan di pucuk pimpinan justru menjadi santapan sehari-hari. Sungguh, ini sangat saya sayangkan.

Sebagai bagian dari tim pemenangan Sabar di bidang media, saya merasa prihatin. Bukan karena kalah atau menang, tetapi karena kemenangan yang diperoleh dengan perjuangan super berat ini seolah-olah digerogoti isu-isu yang tidak seharusnya muncul di awal pemerintahan.

Padahal, jika kita melihat ke belakang, perjalanan menuju kemenangan ini bukanlah perkara mudah. Pasangan H. Sibral Malasyi dan Hasan Basri (Sabar) berhasil melakukan sesuatu yang spektakuler: meruntuhkan tembok besar kekuasaan Partai Aceh beserta koalisinya. Itu adalah sebuah pencapaian politik yang luar biasa dalam pesta demokrasi di Aceh. Namun, apa jadinya jika sebuah tembok besar berhasil diruntuhkan, justru dua pilar utama yang ada di dalamnya yang goyah?

Saya melihat langsung bagaimana susah payahnya perjuangan kita. Bukan hanya saat kampanye, tetapi juga melihat rekam jejak kesuksesan yang telah dijalankan sebelumnya. Kabupaten Pidie Jaya telah membuktikan diri sebagai tuan rumah yang sukses dalam penyelenggaraan MTQ Provinsi Aceh. Begitu juga dengan kecepatan dalam penyaluran dana Stimulan, Jadup, serta penyelesaian Huntara yang menjadi bukti bahwa kapasitas kepemimpinan itu sesungguhnya ada.

Pertanyaannya sekarang, mengapa setelah amanah ini didapatkan, justru kita disibukkan dengan spekulasi tentang ketidakcocokan?

Mari kita jujur. Kemenangan ini adalah kemenangan bersama. Ini bukan hanya milik dua orang, tetapi milik seluruh Tim Pemenangan, milik masyarakat Pidie Jaya yang menginginkan perubahan. Karena itu, saya mengajak seluruh elemen—terutama tim pemenangan Pasangan Sabar—untuk duduk bersama. Kekokohan dua pilar utama (Bupati dan Wakil Bupati) adalah harga mati. Jika dua pilar ini kokoh, Pidie Jaya akan aman, terkendali, dan mampu menjalankan tugas kepemimpinan untuk membawa daerah ini maju.

Sekarang, di mana peran para dewan penasehat, dewan pertimbangan, dan para tokoh? Saya ingat betul, berhari-hari selama masa kampanye dulu, wajah-wajah ini begitu semangat. Mereka hadir di TikTok, Facebook, dan berbagai platform media lainnya. Mereka kritis, mereka vokal, mereka mengerahkan seluruh pengaruh untuk “menaikkan” Nyak Syi (Sibral Malasyi) dan Nyak Hasan (Hasan Basri).

Nah, momentum kebersamaan itu jangan hanya berhenti saat surat suara sudah dihitung. Mari kita gerakkan lagi mesin itu. Sekarang adalah saatnya untuk “mendinginkan” suasana, bukan justru memanaskan isu. Sekarang adalah saatnya untuk merawat kemenangan, bukan meruntuhkannya dari dalam.

Pidie Jaya memang kecil. Luasnya terbatas, jumlah penduduknya tidak sebesar kabupaten tetangga. Tapi jangan biarkan isu-isu kecil ini membuat kita kehilangan martabat. Saya yakin, jika kita semua—para tokoh, tim pemenangan, dan masyarakat—bersatu padu mengawal pemerintahan ini, Pidie Jaya yang kecil ini akan menjadi besar di mata nasional. Mari buktikan bahwa kita bisa menjadi contoh bagaimana sebuah daerah yang baru memenangkan pertarungan besar bisa bersatu dalam pembangunan.

Jangan biarkan “seumur jagung” menjadi alasan untuk rapuh. Mari jadikan kebersamaan ini sebagai fondasi untuk membuat Pidie Jaya jaya. (CM)

Penulis adalah Jurnalis Mata Elang Indonesia Biro Pidie Jaya dan bagian dari Tim Pemenangan Sabar.

Coin Marketplace

STEEM 0.06
TRX 0.31
JST 0.061
BTC 66847.23
ETH 2053.25
USDT 1.00
SBD 0.51