Aceh Utara Tenggelam Masyarakat Menangis, Janji Pemimpin Tetap Mengapung Tanpa Arah dan Tujuan yang Nyata, Ribuan Warga Masih Terjebak di Lokasi Banjir.
Oleh : Emirza Firdaus
Banjir adalah bencana alam yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk curah hujan yang berlebihan, topografi, dan perubahan lingkungan akibat aktivitas manusia yang serakah yang menebang kayu di hutan, dalam banyak keyakinan dan budaya, termasuk dalam Islam, bencana alam terkadang dipandang sebagai cobaan, peringatan, atau bagian dari ketetapan Tuhan.
Al-Quran dan hadis sering menyebutkan bahwa peristiwa alam, baik yang membawa manfaat maupun bencana, adalah manifestasi dari kekuasaan Allah SWT.
Banjir, dapat menjadi hukuman bagi kaum yang ingkar di masa lalu, seperti kisah Nabi Nuh AS, tetapi juga bisa menjadi cara Allah mengingatkan manusia modern akan kerapuhan mereka dan perlunya kembali kepada ajaran agama serta menjaga lingkungan dengan baik.
FAKTOR ALAM
Curah Hujan Tinggi : Bencana ini dipicu oleh hujan deras yang turun terus-menerus selama beberapa hari di wilayah hulu.
Siklon Tropis Senyar : Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi pembentukan Siklon Tropis Senyar di Selat Malaka sebagai pemicu utama cuaca ekstrem di utara Sumatera, termasuk Aceh. Sistem tekanan rendah ini menyebabkan peningkatan aktivitas awan konvektif yang signifikan dan hujan lebat.
Kondisi Geografis: Beberapa wilayah di Aceh memiliki kondisi geologi yang labil, yang memperparah situasi saat terjadi curah hujan tinggi.Perubahan Iklim : Krisis iklim disebut turut memperparah bencana ini, menyebabkan cuaca ekstrem menjadi lebih sering terjadi.
FAKTOR MANUSIA
Kerusakan Hutan (Deforestasi) : Kerusakan ekosistem hutan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) akibat deforestasi masif dan alih fungsi lahan menjadi faktor dominan. Hilangnya fungsi hidrologis hutan menyebabkan peningkatan aliran air permukaan (Run-Off) yang drastis saat hujan, sehingga sungai meluap dengan cepat dan terjadi banjir bandang di Aceh Utara.
Penyumbatan Alami : Longsoran tanah dan material lain akibat kerusakan ekosistem juga menyebabkan penyumbatan alami pada aliran sungai, yang kemudian memicu banjir besar.
Secara keseluruhan, banjir di Aceh tahun 2025 terjadi akibat interaksi kompleks antara dinamika atmosfer (Siklon Tropis Senyar) dan kondisi geospasial lokal yang rentan akibat kerusakan lingkungan jangka panjang.
Bencana banjir yang melanda Kabupaten Aceh Utara memasuki 3 Desember 2025 dan tercatat sebagai salah satu banjir terparah dalam beberapa tahun terakhir. Banjir disebabkan oleh penebangan liar kayu di hutan, curah hujan tinggi selama lima hari berturut-turut, kedangkalan sungai serta jebolnya tebing Sungai Krueng Pase di Kecamatan Samudera dan Krueng Peutou di Lhoksukon. Selain itu, meluapnya aliran Sungai Krueng Keureuto di Paya Bakong, Krueng Jambo Aye, dan Krueng Sawang turut memperparah situasi setempat.
Status Tanggap Darurat Banjir resmi ditetapkan oleh Bupati Aceh Utara, H. Ismail A Jalil, MM (Ayah Wa), pada Selasa, 25 November 2025.
Sejarah baru di akhir tahun layaknya terulang kembali tragedi Gempa & Stunami Aceh Tahun 2004. Banjir Aceh Utara tahun ini memperlihatkan betapa rapuhnya perlindungan negara ketika warga membutuhkan pertolongan. Air naik begitu cepat, tetapi respons pemerintah justru bergerak seolah menunggu komando dari pusat yang tak pernah melihat kondisi Aceh Utara saat ini.
Setiap Periode sebelumnya musibah banjir selalu hadir dan menyapa masyarakat di kota Lhoksukon Aceh utara. Saat ini di banyak desa, warga bertahan di lantai dua tanpa makanan, ibu-ibu hanya bisa merendam mie kering dengan air banjir yang keruh berwarna kecoklatan layaknya air Milo bukanya menambah asupan zigi namun banyak mengundang penyakit gatal-gatal, air tergenang bercampur limbah, memicu risiko diare, leptospirosis, infeksi kulit, dan demam. Sementara anak-anak mulai gemetar karena perut kosong sejak pagi hingga malam hari belum makan.
Banjir yang melanda Aceh Utara bukan hanya menenggelamkan rumah, tetapi juga menguji ketahanan rakyat sekaligus kredibilitas pemerintah daerah sigap dalam mengatasi bencana. Bencana ini menyisakan duka sangat mendalam bagi masyarakat Aceh Utara. Selain merusak sebagian besar infrastruktur Puluhan ribu warga terdampak, tersebar di puluhan titik pengungsian, menghadapi kenyataan pahit, bantuan datang terlambat, sementara air dan lumpur menelan setiap rantai mata pencaharian yang mereka miliki. Jaringan irigasi yang hancur, banjir juga menelan korban jiwa. Akibat banjir yang meluas, sarana dan prasarana publik, infrastruktur, pendidikan, rumah penduduk, serta layanan pemerintahan lumpuh total yang tak terbendung.
Kondisi lapangan hingga hari ini sebagai berikut :
Akses transportasi lumpuh dari jalur nasional menuju kabupaten, kecamatan, hingga desa.
Jaringan komunikasi di wilayah Aceh Utara padam total (Blackout).
Listrik padam dan distribusi air bersih terhenti akibat pipa PDAM rusak diterjang banjir.
Saat ini antrean panjang masyarakat untuk mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) sedang terjadi di beberapa wilayah di Sumatera, terutama di Aceh dan Sumatera Utara, sebagai dampak langsung dari bencana banjir.
Sampai hari ini status tanggap darurat, masih banyak warga yang terjebak banjir dan belum dapat dievakuasi karena keterbatasan personel dan peralatan SAR.
Gelombang air ini surut, warga belum melihat kehadiran nyata dari tim kesehatan yang mampu menjangkau seluruh titik yang terisolasi.
Sejumlah daerah masih terisolasi, meliputi Kecamatan Tanah Jambo Aye, Seunuddon, Baktiya, Langkahan, Kuta Makmur, Samudera, Meurah Mulia, Sawang, Muara Batu, Nisam, Lapang, Geureudong Pase, Pirak Timu, Matang Kuli, Paya Bakong, Nibong, Tanah Luas, Tanah Pasir, Nisam Antara, Dewantara, Lhoksukon, Cot Girek, Syamtalira Bayu, dan Simpang Kramat.
Pasca banjir dari titik-titik yang terisolasi menunjukkan kondisi yang jauh dari kata aman. Persediaan logistik semakin menipis. Ada keluarga yang sudah dua hari tanpa pasokan beras, ada balita yang mulai menunjukkan tanda dehidrasi dikarenakan baju tidak ada baju ganti dan ada lansia yang hanya dapat bertahan dengan segelas air gula. Ketika bantuan datang pun, jumlahnya tak sebanding dengan kebutuhan dilapangan. Seakan-akan setiap keputusan diambil dengan logika menunggu, bukan menyelamatkan sesama umat.
Investigasi sederhana dari keluhan warga menunjukkan polemik yang menyakitkan koordinasi terlambat, distribusi tidak dapat di prediksikan, dan ketiadaan kendali di lapangan. Maka wajar publik bertanya-tanya jika penderitaan ini terus berulang, di mana sebenarnya pemimpin itu berdiri? Ataukah hanya sebatas kepemimpinan yang harus di tunggu intervensi (komando) dari pusat baru diaplikasikan untuk umat?
Pemimpin punya tanggung jawab yang besar yang akan di hisap di kemudian hari, Aceh Utara tidak butuh slogan tetapi yang di butuhkan adalah aplikasi yang kongkrit setidaknya pemerintah Aceh Utara sudah bisa mengambil sikap untuk memikirkan SOLUSI JANGKA PANJANG (STRATEGIS) :
Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL)
Reboisasi hutan di daerah hulu Lhoksukon, Matangkuli, Geureudong.Pengawasan ketat pembalakan liar dan tambang ilegal.
Edukasi masyarakat tentang dampak pembukaan lahan tanpa kontrol.
Infrastruktur Pengendali Banjir
Pembangunan floodway, kolam retensi, dan embung di daerah hulu.Bendungan kecil (check dam) di sungai-sungai anak untuk menahan sedimen.
Pembangunan early warning system berbasis sensor digital (IoT).
Tata Ruang Berbasis Mitigasi :
Revisi RTRW agar tidak mengakomodasi industri/perumahan di zona rawan banjir.
Penataan landscape kota yang lebih water-friendly (sumur resapan, bioswale, ruang terbuka hijau).
PERAN MASYARAKAT :
Tidak membuang sampah ke sungai dan kanal.
Membangun sumur resapan di rumah masing-masing.
Menjaga pohon di pekarangan untuk menahan air.
Membentuk komunitas siaga banjir tingkat gampong.
PERAN PEMERINTAH DAERAH :
Anggaran harus berpindah dari respon bencana ke pencegahan bencana.
Audit semua proyek irigasi, pintu air, dan tanggul setiap tahun.
Kolaborasi dengan BMKG, BRIN, dan universitas untuk riset hidrologi Aceh Utara.
Program pemberdayaan petani agar tidak membuka kebun di zona hulu tanpa kontrol.
Harapan Masyarakat Semoga Pergantian roda estafet pemimpin Aceh Utara kali ini melahirkan pemimpin dapat memberikan dedikasi dan energi yang berpengaruh signifikan untuk masyarakat Aceh Utara lebih baik dari sebelumnya.
Penting untuk diingat bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara takdir ilahi dan tanggung jawab manusia untuk berusaha, mengambil tindakan pencegahan, dan memperbaiki diri yang lebih baik
Penulis, Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Malikussaleh
