EMAS DI PUNCAK MONAS KEIKHALASAN TEUKU MARKAM UNTUK INDONESIA
Inilah bukti sejarah yang tercatat dan dapat dilihat oleh siapa pun yang berdiri di jantung ibu kota, Monumen Nasional di Jakarta. Di puncaknya, berkilau emas seberat kurang lebih 28 kilogram emas murni yang bukan sekadar hiasan simbolik, melainkan saksi bisu kontribusi nyata Aceh untuk Indonesia.
Tidak banyak yang tahu bahwa emas berbentuk lidah api di Monas merupakan sumbangan dari seorang saudagar kaya asal Aceh, Teuku Markam. Dengan keikhlasan, emas itu diberikan secara cuma-cuma sebagai wujud cinta dan dukungan rakyat Aceh terhadap Republik Indonesia yang baru berdiri. Emas tersebut diambil dari Bengkulu wilayah tempat Teuku Markam memiliki usaha tambang lalu dibawa ke Jakarta untuk menjadi bagian dari simbol kebanggaan nasional.
Namun sejarah tidak selalu adil pada para dermawan. Pada masa Orde Baru, Teuku Markam justru harus merasakan pahitnya penjara, dituduh sebagai pengkhianat bangsa dan dikaitkan dengan stigma PKI. Sebuah ironi sejarah: mereka yang memberi tanpa pamrih, justru tercatat sebagai tersangka di zamannya sendiri. Meski demikian, fakta sejarah tak bisa dihapus. Catatan tentang sumbangan emas Monas itu tersimpan rapi di bawah Museum Monas, terbuka untuk dibaca oleh generasi hari ini dan anak cucu kita kelak.
Kisah ini seharusnya menjadi pengingat bahwa Aceh bukan hanya daerah yang kerap diberitakan karena konflik atau bencana, tetapi juga tanah yang sejak awal menunjukkan cinta, pengorbanan, dan komitmen terhadap Indonesia. Di tengah banjir, longsor, dan musibah yang kembali melanda Aceh hari ini, sejarah emas Monas mengajarkan satu hal penting Aceh telah memberi banyak untuk republik ini.
Kini, keadilan sejarah dan empati negara adalah hal yang pantas diperjuangkan bersama. Karena cinta Aceh kepada Indonesia telah dibuktikan, bukan dengan kata-kata, melainkan dengan emas keikhlasan yang hingga kini masih bersinar di puncak Monas.
