13 Juni 2026: Mempererat Ikatan Yang Telah Disambung

in Steem SEA2 days ago (edited)

Halo Sobat Steemians, apa kabar kalian semua? Semoga selalu dalam keadaan baik dan penuh berkah ya.

Sudah setengah tahun rasanya saya "menghilang" dari platform ini. Tapi sebenarnya tidak benar-benar hilang, sih. Dalam enam bulan terakhir, sesekali saya masih suka mengintip dan membaca tulisan-tulisan keren dari Sobat sekalian, walau jemari ini rasanya masih enggan untuk ikut menari di atas keyboard seperti biasanya.

Nah, pada kesempatan kali ini, kerinduan itu akhirnya tumpah juga. Saya ingin kembali membagikan sedikit cerita lewat ketikan keyboard di platform terbaik ini.

Pagi ini, suasana terasa begitu sejuk. Entah mengapa, hati pun ikut merasa tenang, tidak bergemuruh atau sepadat hari-hari biasanya. Hari ini, saya bersiap menuju ke sebuah tempat di jantung Provinsi Aceh, yaitu Takengon. Dengan tujuan untuk mempererat kembali tali silaturahmi yang sudah lama tersambung.

Karena waktu saya sangat terbatas, hanya punya waktu satu hari saja, saya sudah menyusun jadwal perjalanan dengan sangat rapi. Mulai dari jam keberangkatan, kepulangan, hingga daftar tempat yang wajib dikunjungi. Saya benar-benar ingin memaksimalkan setiap menitnya tanpa ada yang tersisa sia-sia.

Ada dua agenda utama yang membawa saya ke Takengon:

  1. Menghadiri pesta pernikahan (walimah) dua sahabat karib saya.
  2. Berkunjung ke desa tempat KPM (Kuliah Pengabdian Masyarakat) dulu, sekadar untuk bernostalgia dan melepas rindu dengan Ama dan Ine (orang tua asuh kami selama KPM).

Sedikit cerita menarik, dua sahabat yang melangsungkan pernikahan ini adalah rekan satu tim KPM saya dulu. Lima tahun lalu, kami berjuang bersama selama 40 hari untuk menuntaskan berbagai program dari universitas. Qadarullah, ternyata tidak hanya program KPM yang tuntas, program hati mereka pun ikut selesai! KPM berhasil menyatukan dua insan ini hingga akhirnya melangkah bersama ke bahtera pernikahan. Indah sekali, bukan?

Perjalanan Dimulai: Menembus Rintik Hujan Jalur KKA
Sekitar pukul 7 pagi, saya mulai memacu sepeda motor menuju Takengon. Di awal perjalanan, langkah sempat terasa ragu. Cuaca kurang bersahabat. Baru berjalan sekitar 11 km dari rumah, hujan ringan terus mengguyur tanpa henti. Akhirnya, saya memutuskan untuk melipir sejenak ke sebuah warung. Sembari menunggu hujan reda, saya mengisi energi dengan sarapan pagi.

Setelah kenyang dan sempat bertukar kabar dengan teman yang sudah tiba duluan di lokasi mengenai kondisi cuaca di sana, tekad saya kembali bulat. Saya memilih jalur KKA sebagai rute menuju Takengon.
Keputusan itu tidak salah. Sepanjang jalur KKA, mata ini terus dimanjakan oleh hamparan pemandangan yang luar biasa indah. Kalimat "Maa Syaa Allah" tak henti-hentinya terucap dari bibir ini karena takjub melihat kemegahan alam ciptaan-Nya. Bagi saya, jalur ini sangat direkomendasikan untuk dilalui, meskipun di beberapa titik kita harus tetap ekstra waspada karena jalannya yang curam dan masih ada sisa-sisa kerusakan akibat banjir bandang November silam.

WhatsApp Image 2026-06-17 at 20.29.56.jpeg
Salah satu pemandangan yang saya lihat di perjalanan

Tiba di Kota Dingin dan Momen Walimah yang Berkesan
Singkat cerita, setelah menempuh perjalanan sejauh 119 km, roda motor saya akhirnya menyentuh Kota Takengon. Tarikan gas yang tadinya kencang mulai saya pelankan. Saya ingin menikmati setiap jengkal suasana perkotaannya. Ada banyak kenangan lama yang menyeruak kembali saat memasuki kota ini.

Entahlah, rasanya begitu melegakan hati.
Sebelum menuju ke lokasi pesta, saya memberi kabar kepada teman-teman yang sudah stand-by di sana. Saya memutuskan melipir sejenak ke salah satu masjid dengan pemandangan terindah di kota ini, Masjid Al-Munawwarah. Di sana saya membersihkan diri dan menunaikan ibadah shalat agar badan kembali segar.

WhatsApp Image 2026-06-17 at 20.32.31.jpeg
Potret Keindahan Masjid Al-Munawwarah

Begitu sampai di tempat acara walimah, pandangan saya langsung tertuju pada kedua mempelai yang berdiri tegap dan anggun di pelaminan. Wajah mereka memancarkan kebahagiaan yang luar biasa. Sengaja saya tidak langsung menyapa. Sambil bercanda dalam hati, saya memilih taktik melipir ke meja prasmanan yang kebetulan sedang sepi antrean.

Sambil menikmati hidangan di tengah tenda yang menghadap langsung ke pelaminan, saya menyantap makanan sembari memandangi senyum sumringah kedua sahabat saya itu. Lucunya, di suapan kedua, mereka mulai menyadari kehadiran saya dan langsung memberikan kode senyuman ramah. Di dekat tempat saya duduk, ternyata ada dua teman lama lainnya yang sudah datang memboyong keluarga mereka. Kami pun saling menyapa hangat, sebuah pertemuan yang berkesan setelah sekian lama tidak bersua karena kesibukan di kota berbeda.

Pelukan Hangat dari Ama dan Ine Desa Daling
Setelah sesi foto bersama dan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai di atas panggung, kami berencana langsung pamit untuk meluncur ke Desa Daling, tempat KPM kami dulu. Namun, karena mendapat kabar bahwa Ama dan Ine (orang tua asuh kami) juga sedang dalam perjalanan menuju ke pesta pernikahan ini, kami pun memilih untuk menunggu.

WhatsApp Image 2026-06-17 at 20.25.56.jpeg
Foto bersama kedua sahabat KPM saya

Setelah menanti kurang lebih satu jam, yang dirindukan akhirnya tiba. Kami langsung bergegas menyalami Ama dan Ine. Rasa rindu yang tertahan selama 5 tahun seketika tumpah. Ada kehangatan luar biasa yang menjalar, rasanya persis seperti saat kami masih menjadi mahasiswa KPM dulu.

WhatsApp Image 2026-06-17 at 20.28.39.jpeg
Foto bersama Ama dan Ine

Kalau diingat-ingat, memori masa KPM kami memang unik. Bisa dibilang, 80% program kerja kami dulu adalah menemani Ama (yang saat itu menjabat sebagai Kepala Desa) untuk pergi kondangan ke acara-acara warga. Jadi, bertemu kembali dengan Ama di acara kondangan seperti ini rasanya seperti dejavu yang sangat manis. Beliau berdua sangat baik, selalu menganggap kami seperti anak kandung sendiri. Kehadiran kami di Desa Daling dulu bukan sekadar mahasiswa yang menumpang lewat, melainkan seorang anak yang pulang ke rumah, disayangi, dan dibimbing oleh orang tuanya. Hal itulah yang membuat Desa Daling selalu punya tempat khusus di hati kami.

Nostalgia di Desa Daling
Setelah berbincang seru dan berfoto bersama di lokasi pesta, kami pun bergerak menuju Desa Daling. Karena saya mengendarai sepeda motor, saya meluncur duluan di depan. Teman-teman lainnya menyusul menggunakan mobil, sementara Ama dan Ine akan menyusul belakangan karena masih harus menghadiri undangan di tempat lain.

Sesampainya di Desa Daling, saya benar-benar menikmati setiap jengkal suasananya. Tidak banyak yang berubah secara fisik dari desa ini. Hanya saja, suasananya terasa agak sepi; beberapa wajah lama ada yang pergi merantau, dan ada pula yang telah mendahului kita berpulang ke pangkuan Ilahi.
Saya menyempatkan diri berkeliling, mengunjungi sudut-sudut desa tempat kami dulu merealisasikan program KPM. Saya juga menyapa beberapa warga yang kebetulan berpapasan. Tak lupa, saya mampir ke kedai langganan kami dulu untuk membeli sepotong jajanan sembari berbincang-bincang ringan mengenai KPM dan kondisi desa setelah banjir besar.

WhatsApp Image 2026-06-17 at 20.36.53.jpeg
Potret Keindahan Desa Daling, Tempat Kami KPM.

Tidak lama kemudian, teman-teman dan Ama-Ine pun tiba. Kami berkumpul bersama di rumah beliau, melanjutkan obrolan hangat seputar masa-masa indah KPM dulu, hingga cerita tentang kondisi Desa Daling saat ini yang baru saja terdampak musibah banjir Aceh pada November lalu. Doa tulus saya, semoga keadaan desa beserta seluruh warganya segera membaik dan pulih seutuhnya.
Mengingat perjalanan pulang ke Kota Lhokseumawe memakan waktu yang cukup lama dan hari sudah mulai sore, sekitar pukul 6 sore saya pun berpamitan kepada Ama, Ine, dan teman-teman semua. Banyak doa, pelukan, dan harapan baik yang terucap mengiringi perpisahan sore itu.

Perjalanan satu hari ini benar-benar menyisakan rasa lega dan bahagia yang membekas di dada. Dua misi utama saya tuntas dengan sempurna: merayakan kebahagiaan sahabat, dan memeluk kembali hangatnya keluarga di Desa Daling. Semoga di lain waktu, Allah memberikan kesempatan dan umur yang panjang untuk saya bisa kembali berkunjung ke sana. Aamiin Ya Rabbal 'Alamiin.

Demikian cerita perjalanan saya kali ini. Terima kasih banyak untuk Sobat Steemians yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini hingga selesai. Semoga kebahagiaan yang saya rasakan menular juga ke hati kalian semua.

Salam hangat penulis,
Hidayaturridha

Sort:  
 15 hours ago 

I highly appreciate all your support.

Loading...