15 Juni 2026 : Kehangatan Di Malam Tahun Baru Islam 1448 H
Sore ini, aroma kebebasan setelah jam kantor terasa sedikit berbeda. Alih-alih langsung merebahkan diri di kasur untuk melepas penat, saya dan seorang rekan kerja yang kebetulan satu kos sudah punya misi penting. Jauh-jauh hari, sebuah agenda seru telah kami rancang bersama Bapak Kos. Beliau bercerita kalau masih memiliki simpanan daging kurban yang cukup banyak di dalam kulkas dan belum sempat diolah. Sadar kalau daging tersebut akan lebih nikmat jika disantap beramai-ramai, beliau menawarkan kepada kami untuk mengolahnya bersama. Tantangan itu tentu saja kami sambut dengan antusias: malam ini, kami akan mengadakan pesta bakar sate.

Potret Belanja Bahan Bumbu Sate
Sebelum kembali ke kos, saya dan rekan kerja saya menyempatkan diri mampir ke pasar terdekat untuk berburu "amunisi". Mulai dari tusuk sate, arang, bumbu dapur, hingga bahan-bahan untuk membuat minuman segar, semuanya kami masukkan ke dalam keranjang belanjaan. Begitu semua bahan dirasa lengkap, kami bergegas pulang dengan bayangan aroma sate bakar yang sudah menari-nari di kepala.

Potret Membersihkan Daging Untuk Sate
Sesampainya di kos, suasana mendadak riuh bagai dapur restoran bintang lima. Saya bersama dua teman kos lainnya langsung mengambil posisi masing-masing untuk mengeksekusi bahan-bahan. Ada yang sibuk mengupas dan mengiris bawang, memotong cabai dan tomat untuk sambal, hingga membersihkan daging kurban yang teksturnya masih segar. Sementara itu, saya juga mendapat tugas mengupas timun yang nantinya akan disulap menjadi minuman pendamping sate yang dingin. Di tengah kebersamaan yang seru itu, suara azan Magrib berkumandang dengan syahdu. Kami pun menghentikan semua aktivitas dapur, membersihkan tangan, dan bergegas menunaikan kewajiban salat Magrib terlebih dahulu agar ibadah tetap menjadi yang utama.

Potret Proses Penusukan Daging Ke Lidi

Potret Timun, Minuman Pendamping Sate
Begitu ibadah selesai, kami kembali ke dapur untuk menyelesaikan sisa pekerjaan yang tertunda. Setelah semua urusan bumbu dan tusuk-menutus sate rampung, tibalah bagian paling menantang: menyalakan panggangan. Saya, seorang rekan kerja, dan dibantu oleh keahlian Bapak Kos mulai bergelut dengan korek api dan kipas untuk menghidupkan arang. Begitu bara api menyala merah kehitaman, jajaran tusukan sate yang sudah dibumbui perlahan diletakkan di atas panggangan.

Potret Menghidupkan Bara Api Bersama Bapak Kos
Aroma gurih nan menggoda dari lemak daging yang menetes ke bara api mulai merebak ke seluruh sudut halaman kos. Sembari membolak-balik sate agar matang sempurna, obrolan kami mengalir begitu saja. Suasana malam itu terasa sangat hangat dan dipenuhi tawa lepas, apalagi Bapak Kos dan anak laki-lakinya bergantian melontarkan banyolan-banyolan humor yang mengocok perut. Rasa lelah sepulang kerja rasanya menguap begitu saja digantikan kebahagiaan sederhana ini.
Setelah semua sate dirasa matang dan dipindahkan ke wadah besar, kejutan manis datang dari Bapak Kos yang rupanya sudah merampungkan racikan es timun serut yang sangat segar. Kami pun duduk melingkar, menyantap hidangan malam itu dengan sangat lahap. Di sela-sela suapan, diskusi ringan kami mendadak berubah menjadi sesi kilas balik (flashback). Kami tertawa mengenang kembali masa-masa awal pertama kali masuk ke kos ini. Lucu rasanya mengingat betapa canggungnya kami dulu, dan tidak terasa sekarang sudah satu tahun lebih kami menghuni kos ini hingga rasanya sudah seperti keluarga sendiri.
Namun, kebersamaan di kos malam ini harus kami batasi karena waktu terus berjalan. Malam ini bertepatan dengan momen sakral 1 Muharram 1448 H. Kebetulan, instansi tempat kami bekerja mengadakan agenda kajian tahun baru Islam yang berlokasi di Masjid Islamic Center. Setelah merampungkan makan bersama dan membereskan sisa panggangan, saya bersama dua rekan kerja satu kos langsung bersiap-siap dan meluncur ke sana. Sesampainya di masjid, kemegahan bangunan dan kesejukan suasananya langsung menyambut kami. Di sana, kami juga langsung berjumpa dan bersilaturahmi dengan rekan-rekan kerja dari divisi lain yang sudah hadir lebih dulu.

Swafoto Di Dalam Masjid Islamic Center Lhokseumawe
Malam yang benar-benar lengkap, perut kenyang oleh kebersamaan di kos, hati hangat oleh cerita lama, dan ditutup dengan nutrisi spiritual untuk menyambut tahun yang baru. Sekian diary kali ini, see you in the next post!



I highly appreciate all your support