18 Juni 2026: Pulang dan Hikmah di Balik Lubang Jalanan

in Steem SEA14 hours ago

Hari ini waktunya "pulang". Bagi orang lain, Lhokseumawe mungkin tempat bernaung, tapi bagi saya di sana hanya tempat bekerja. Rumah yang sesungguhnya tempat di mana hati saya selalu berlabuh ada di Banda Aceh. Setiap kali roda motor saya berputar menuju Banda, itu artinya saya sedang menuju pelukan Ibu, canda tawa adik-adik dan abang-abang saya, serta sebuah ziarah rindu ke makam almarhum Ayah. Rutinitas akhir pekan yang selalu sukses melepaskan penat sebelum nanti saya harus kembali ke rutinitas kerja.

WhatsApp Image 2026-06-22 at 17.58.14.jpeg
Potret Jembatan Kutablang Yang Masih Tahap Perbaikan Sejak Banjir November Tahun Lalu

Perjalanan dimulai sekitar pukul 8 pagi. Awalnya semua terasa begitu mulus dan lancar. Namun, takdir hari ini punya sedikit kejutan di kilometer 20, tepat setelah saya melewati Jembatan Kuta Blang. Karena posisi saya berada pas di belakang sebuah mobil, pandangan saya terhalang. Begitu mobil itu melaju kencang, sebuah lubang yang lumayan besar tiba-tiba menganga di depan mata. Tak ada ruang untuk menghindar. Brakk! Motor dihantam lubang. Seketika itu juga velg motor saya oleng parah dan ban belakangnya langsung bocor.

Untungnya, tak jauh dari lokasi kejadian, saya menemukan sebuah bengkel. Di sinilah saya melihat sisi baik dari manusia. Hampir 3 jam saya menghabiskan waktu di sana, ditemani oleh bapak montir bengkel yang luar biasa baik hati. Velg motor saya yang oleng tidak bisa diperbaiki di bengkelnya, tapi dia dengan sukarela mau membawa velg itu ke tempat lain yang lumayan jauh untuk di las. Setelah menunggu cukup lama, velg saya kembali normal dan saya memutuskan untuk sekaligus mengganti ban belakang yang memang sudah tak layak pakai akibat hantaman tadi. Sebelum melanjutkan perjalanan, saya tak lupa mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas kebaikan dan pelayanan tulusnya.

WhatsApp Image 2026-06-22 at 18.04.58.jpeg
Potret Bengkel Yang Saya Singgahi dan Bapak Montir Baik Yang Saya Maksud

Alhamdulillah, setelah drama lubang jalanan itu, sisa perjalanan saya berubah menjadi sangat indah dan penuh berkah.

Saya sempat singgah di beberapa tempat untuk menikmati perjalanan. Persinggahan pertama adalah Masjid At-Taqarrub, Pidie Jaya. Tak jauh dari sana, saya menyempatkan diri membeli bulukat teutet, salah satu ketan bakar ternikmat yang wajib dicoba kalau lewat Pidie Jaya.

WhatsApp Image 2026-06-22 at 18.06.18.jpeg
Potret Tempat Oleh-Oleh Yang Saya Singgahi

Perjalanan berlanjut hingga saya mampir ke Masjid Baitul Huda, Pidie. Bagi saya, ini adalah salah satu masjid terbaik dan paling nyaman di sepanjang jalur lintas Pidie. Di halaman masjid yang sejuk, saya menikmati makan siang yang dibeli dari warung terdekat.

WhatsApp Image 2026-06-22 at 18.07.16.jpeg
Potret Masjid Baitul Huda Yang Saya Singgahi

Selesai makan, saya bersiap untuk salat. Namun, saat sedang berwudu, sebuah kejutan manis terjadi. Saya tak sengaja berpapasan dengan salah satu ustadz kondang Aceh, Tgk. Abdul Aziz. Tanpa membuang kesempatan, saya menyapa dan mengajak beliau untuk berswafoto bersama. Setelah momen berharga itu, saya menunaikan salat dzuhur dan merebahkan badan sejenak di dalam masjid, larut dalam kesyahduan dan ketenangan suasananya. Rasanya semua lelah langsung menguap.

WhatsApp Image 2026-06-22 at 18.08.14.jpeg
Bersua Foto Bersama Tgk. Abdul Aziz Selepas Wudhu'

Sore ini, alhamdulillah saya telah tiba di rumah Banda Aceh dengan selamat. Bertemu kembali dengan Ibu dan keluarga dalam keadaan sehat, gembira, dan penuh suka cita.

Hari ini mengingatkan saya lagi, meski pagi tadi ditimpa musibah kecil, selalu ada hikmah baik yang terselip di baliknya. Bertemu orang baik di bengkel, mencicipi kuliner nikmat, hingga berjumpa ustadz idola adalah cara Allah menghibur saya hari ini.

Sekian cerita diary kali ini, sampai jumpa di catatan perjalanan selanjutnya!