Thediarygame, Kamis, 2 April 2026 | Keluarga Besar Kodaeral I nonton bareng film The Hostage's Hero
Hello rekan-rekan stemian. What are you. Aku harap sehat dan bahagia selalu. Pada kali ini, Aku akan menuliskan secuil kisah nonton perdanaku di bioskop XXI. Film yang ditonton pastilah seru dan kisah nyata prajurit TNI AL membebaskan ABK Kapal MT Pematang dari tragedi pembajakan. Judulnya "The Hostage's Hero". Sudah tak sabar membaca tulisan menarik ini. Ok, kisah dibuka:
Informasi akan ditayangkan film yang berjudul The Hostage's Hero sudah beberapa hari tersebar. Sebagai prajurit TNI AL kami dihimbau untuk menonton film tersebut. Film yang mengangkat kisah nyata perjuangan heroik para prajurit Jalasena dalam membebaskan para ABK Kapal MT Pematang yang dibajak di Selat Malaka tahun 2004. The Hostage's Hero yang mengandung arti pahlawan sandera, demikian dari translate bahasa Inggris. Jika dalam bahasa kita kira-kira artinya pahlawan pembebasan sandera.
Sebagai prajurit Kodaeral I, tepatnya berdinas di Sahli Kodaeral I, Aku pun ikut menonton. Ini adalah tontonan perdana Aku di bioskop XXI. Aku termasuk kurang hobi menonton film di bioskop. Lebih menikmati di Laptop atau sejenis alat teknologi. Santai dan enjoy sambil tidur-tiduran. Kali ini Aku kuatkan hati dan laksanakan himbauan menonton. Dengan penuh semangat menuju lokasi bioskop XXI di Centre Point kota Medan.
Aku berangkat dari kantor usai salat dhuhur. Sekitar pukul 14.30 WIB, Aku sudah meninggalkan kantor. Aku pulang terlebih dahulu. Setelah berpikir panjang, lebih asyik berangkat menuju lokasi dengan sepeda motor. Kita harus faham bahwa sore hari situasi lalulintas di kota Medan pastilah ramai. Macet tak terhindarkan. Kuatir pakai mobil agak terlambat tiba. Dengan motor kebanggaanku, Shogun edisi produksi tahun 2001, sekitar pukul 15. 15 WIB, Aku tancap gas. Moril tinggi ingin menyaksikan film hebat di Triwulan kedua tahun 2026. Motor yang selama ini Aku kendarai santai terpaksa dipacu agak kencang. Tentunya sangat hati-hati. Saat mendekati Pulo Brayan jam menunjukkan pukul 15.30 WIB. Aku putar haluan mengambil jalur penjual Soto Purwodadi, Pulo Brayan. Mendengar suara azan ashar, segera menuju masjid dan salat sejenak.
Selesai salat langsung tancap gas. Jalan mendekati lampu merah Simpang Glugur macet total. Aku melihat dan melewati beberapa kendaraan dengan penuh kehati-hatian. Sekelebat pandanganku melihat mobil Fortune berwarna abu-abu plat bintang satu ditengah kerumunan jalan. Pastilah ini Wadan Kodaeral I. Beliau pun terrjebak macet. Perlu sabar tingkat tinggi. Aku berhasil keluar dari kemacetan. Inilah salah satu keunggulan naik sepeda motor bisa potong jalan kesana-kesini.
Simpang Glugur telah dilewati. Memasuki jalan Minak Djingga situasi jalan agak longgar. Kecepatan motor di tingkatkan. Situasi jalan mulai macet saat hendak menuju jalan Stasiun Kereta Api. Jalan mulai menyempit ketika melewati Pajak (pasar) ikan. Aku harus berputar dari Uniland untuk tiba di Centre Point. Perlahan mendekati lokasi Centre Point yang termasuk jalan Jawa No.8, Gg. Buntu, Kec. Medan Tim, Kota Medan, Sumatera Utara 20231. Aku tak berniat parkirkan kendaraan di Centre Point. Aku putuskan numpang parkirkan kendaraan di Kantor Polsek. Biar nantinya lebih mudah keluar usai kegiatan nonton.
Motor kebanggaan sudah diparkir dalam posisi aman. Tak berleha-leha nyebrang menuju Centre Point. Harus bertanya-tanya arah menuju bioskop. Ternyata dilantai III. Bisa naik lift dan tangga eskalator. Suasana Centre Point sangat ramai. Ramai stand yang berjualan dengan beraneka produk dan juga ramai para pengunjung dan penikmat film. Wajar saja Aku bertanya karena ini perdana menginjakkan kaki di tempat yang mengasyikkan ini.

*Aneka stand penjual di lantai dasar

Beberapa stand penjualan di lantai I
Aku mulai naik tangga eskalator dari lantai dasar. Namun sebelum menginjakkan kaki di eskalator Aku melihat berbagai stand penjual sebagai berikut penjualan kue, alat-alat kosmetik yaitu stand Oh!Some, ada juga penjualan Paper Clip dan lain sebagainya. Setelah puas lihat sekeliling maka Aku beranjak ke eskalator menuju lantai I. Setiba dilantai satu kita dapat melihat beberapa stand penjualan diantaranya untuk terapi tubuh dan toko Selma yang memajang karpet dsn peralatan rumah tangga yang menarik dan bagus..

Beberapa stand penjualan di Lantai II

Studio XXI dan tempat permainan anak
Aku lanjutkan menuju lantai II, so pasti tiba kita menjumpai penjualan lampu-lampu penerang dan alat-alat dapur rumah tangga (Az.Ko). Jika ingin membangun kebugaran tubuh maka kita dapat bergabung dengan Vizta Gym Elite. Lanjut ke lantai III, puncak dari tujuan akhir untuk menonton film. Nah, lantai III kita dapat menyaksikan tempat permainan atau game untuk pengunjung baik bagi anak-anak maupun orang dewasa. Dan, kita dapat menuju lokasi bioskop tempat pemutaran film.
Seperti awal yang Aku uraikan bahwa ini baru perdana menonton di bioskop XXI. Hari ini sangat spesial dapat nonton bareng (nobar) dengan Keluarga Besar Kodaeral I yang difasilitasi oleh dinas. Filmnya pun keren tentang kisah nyata perjuangan para prajurit Jalasena membebaskan pembajakan kapal MT Pematang. Para keluarga besar Kodaeral I sudah ramai berkumpul dan mengambil tiket. Aku berjumpa dengan para anggota dan keluarganya plus rekan-rekan yang dinas di sahli. Pastilah untuk mengabadikan momen indah maka foto bersama di laksanakan. Jika dipakai untuk bukti kehadiran nobar, boleh juga. Hehehe.
Waktu masuk bioskop sesaat lagi. Sambil mengisi waktu maka mendokumentasikan kebahagiaan dan keceriaan para keluarga besar Kodaeral I yang berkesempatan menonton film. Suasana diatas ramai dengan suara anak-anak yang dibawa nonton oleh para orang tua. Ibu-ibu pun dengan semangat dan berkumpul memotret diri. Seru sekali deh. Saat itu Aku masih puasa sunat bulan Syawal, tepatnya hari kedua, mencoba menanyakan harga jagung bakar atau popcorn buat persiapan berbuka dan juga air mineral. Waw, kaget saat mendengarkan harganya yaitu Rp 70.000,- perpaket. Mahal sekali bro. Tak jadi dibeli. Emang harga-harga dibioskop makanan dijual mahal? Aku tak tahu. Akhirnya, satu roti yang harga Rp 18.000,-Aku beli buat berbuka nantinya.
Pandangan Aku alihkan sekeliling ruangan dan dibioskop ini terdapat 6 studio. Aku menonton di Studio 3 dan saatnya masuk kedalam studio. Satu persatu personel masuk dengan tertib dan penuh keceriaan. Aku kebagian kursi no 2 B. Ternyata letak duduknya dibagian atas dan dipojok. Eh, ternyata berdampingan dengan Mayor Laut Edy, yang berdinas di Sintel Kodaeral I. Asyiknya, ada paket yang diberikan dari dinas yaitu minuman dan popcorn sudah terletak di kursi. Alhamdulillah, bertambah bahan baku untuk berbuka. Film belum di putar karena masih ada beberapa orang yang sedang mencari kursi. Setelah semua duduk dengan tenang maka lampu pun dimatikan.

**KRI Dewaruci -
Film The Hostage's Hero siap diputar. Film yang mengkisahkan sikap heroik dan patriotik yang ditampilkan oleh prajurit TNI AL dalam menumpas dan membebaskan sandera dari pembajak liar dan sadis yang telah membajak Kapal MT Pematang. Awal muncul dilayar adalah KRI Dewaruci yang sedang berlayar. KRI latih untuk para Taruna/i selama mengikuti pendidikan di Akademi Angkatan Laut. KRI Dewaruci adalah kapal latih legendaris milik TNI Angkatan Laut tipe Barquentine yang dibangun di Jerman tahun 1953. Kapal layar bertiang tiga dengan 16 layar ini berfungsi mendidik taruna Akademi Angkatan Laut (AAL) serta berperan sebagai duta misi kebudayaan dan perdamaian ke berbagai negara.
KRI Dewaruci sudah menggelilingi dunia dan nusantara. KRI Dewaruci tempat menempa para calon pemimpin masa depan Indonesia yang siap sedia menjaga kedaulatan dan keamanan laut nusantara dari setiap guncangan, ancaman, hambatan, gangguan serta tantangan yang terjadi wilayah laut Republik Indonesia. Nah, dikapal tersebut salah satu perwira yang pernah bertugas adalah Letkol Laut (P) Taufiq. Aktor pemeran dari Letkol Laut (P) Taufiq adalah Donny Alamsyah.
Seiring waktu berjalan, para pimpinan TNI AL membicarakan tentang perkembangan alutsista TNI AL. Bapak Kasal langsung memimpin yang diikuti oleh para Asisten Kasal dan Panglima Koarmada Wilayah Barat (Pangkoarmabar). Saat ini sudah berubah sebutan organisasi yaitu Koarmada I yang kedudukannya di bawah Koarmada RI. Percakapan sangat serius. Persoalan Alutsista siap masih terbatas sehingga akhirnya untuk mendukung kegiatan menjaga laut nusantara di wilayah Barat perlu tambahan kapal pendukung.

Donny Alamsyah, artis pemeran Letkol Laut (P) Taufiq
Hasil perbincangan diputuskan KRI Karel Satsuit Tubun (KST) - 356, namun terlebih dahulu di Repowering. Kapal perang ini sudah lama terduduk alias tak beroperasi karena masalah kesiapan kapal. Tindakan repowering kapal merupakan proses penggantian mesin induk (main engine) atau sistem propulsi lama dengan mesin baru yang lebih modern, efisien, dan bertenaga. Langkah ini bertujuan meningkatkan performa kapal, memperpanjang masa pakai, dan mengurangi biaya operasional serta emisi. Nah, dalam proses Repowering dipilihlah seorang Komandan Kapal. Ada 1qtiga tawaran Pamen TNI AL Letkol Laut (P) Edy, Dedy dan Taufiq, maka Bapak Kasal memilih Letkol Laut (P) Taufiq sebagai Komandan KRI KST. Maka segera beliau bergeser dari KRI Dewaruci menempati pos baru di KRI KST.

KRI Karel Sasuit Tubun melaksanakan patroli
Singkat cerita Repowering selesai dilaksanakan. KRI KST mulai beroperasi, berlayar dan bertempur dibawah komando Ovester Taufiq. Wilayah sektor operasi yang dituju adalah seputar Selat Malaka. Selat Malaka salah satu jalur pelayaran internasional tersibuk dan terpenting di dunia untuk perdagangan. Selat Malaka terletak di antara pesisir timur Pulau Sumatera (Indonesia) dan pesisir barat Semenanjung Malaysia. Selat ini membentang sepanjang kurang lebih 930 km, menghubungkan Laut Andaman (Samudera Hindia) di utara dengan Laut Cina Selatan (Samudera Pasifik) di selatan, dan berbatasan langsung dengan tiga negara: Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Kondisi ramainya pelayaran maka membuka peluang terjadinya pembajakan alias potensi munculnya bajak laut. Dilain lokasi kelompok pembajak mengamati dan mengintai kapal yang akan dibajak. Mereka mengintai dari sebuah pulau. Banyak juga personel pembajak yang dibawah komando Tuan Jalaludin. Tampang sadis dan bengis jelas terlihat. Omongan kasar tak beraturan sesuka hati diucapkan. Intinya, penampilan para pembajak sangat menakutkan. Dibawah kendali Tuan Jalaludin mereka telah mengatur strategi untuk membajak kapal, kebetulan lokasinya di sekitar Selat Malaka, dan kapal yang dimangsa akhirnya kapal MT Pematang.
Terlihat para anggota pembajak.ini telah biasa membajak kapal. Gerakannya gesit dan lincah. Berbekal tiga speed boat mereka merapat dan naik ke kapal yang dibajak. Gerakan mereka terlihat jelas dari anjungan kapal MT Pematang. Rona ketakutan menyelimuti para ABK Kapal. Dan, akhirnya ketakutan itu terjadi, tanpa perlawanan yang signifikan kapal dapat dibajak tanpa halangan. Apalagi para pembajak berbekal senjata laras panjang dan pistol. Ketakutan menghujam para ABK. Keringat dingin mengalir deras. Semua disandera dan jika terlihat berperilaku aneh maka ABK kapal kena dor tanpa basa basi dari pembajak. Namun, terlihat salah satu ABK dengan cekatan tanpa diketahui para pembajak menekan tombol. Apakah mungkin tombol SOS untuk memberitahukan bahwa kapal dibajak dan kemudian minta bantuan. Bisa jadi ya!. Bisa jadi tidak!
Terbukti tak lama berselang dari pihak TNI AL mendapatkan berita bahwa telah terjadi pembajakan terhadap Kapal MT Pematang.di Selat Malaka. Kejadian ini sekitar tahun 2004. Persoalan ini menjadi sangat serius. Menjadi berita nasional bahkan internasional. Berita melalui telegram diterima oleh personel KRI KST yang beroperasi seputar Selat Malaka. Kegiatan penyelamatan dan pembebasan sandera pun disiapkan. Hal ini menjadi tugas penting untuk memberikan kenyamanan dan keamanan navigasi dilaut. Dan, untuk membebaskan pembajakan menjadi salah satu tugas Operasi Militer Selain Perang (OMSP) yang harus dilaksanakan oleh TNI Angkatan Laut.


*Aksi prajurit KRI KST membebaskan ABK Kapal
Aksi penyelamatan pun dimulai. Komandan kapal memimpin pembebasan sandera dengan kemampuan taktik dan strategi prima. Tim dari KRI KST yang dipimpin oleh Perwira Pertama (Pama) dengan kelengkapan senjata dan alat tempur lainnya melaksanakan perintah. Komandan KRI mengendalikan dari Kapal. Setiap perintah gerak harus menanti perintah Komandan. Satu Komando setiap bergerak. Tim pembebasan sudah turun dan tak lama kemudian tiba dilambung kapal. Tentunya terlebih dahulu melumpuhkan sekitar dua orang pembajak yang menjaga speed boatnya. Pembajak tersebut diberantas dengan tembakan. Kemudian tim KRI naik keatas kapal. Prajurit mulai beraksi dan bertambah jelas informasi saat berjumpa dengan ABK yang luput sandera pembajak.


Proses tembak menembak prajurit TNI AL dengan Pembajak
Strategi penyelamatan telah dibahas dan akhirnya setelah mendapatkan perintah Komandan KRI maka gerakan cepat prajurit tak terbendung. Terjadi saling tembak antara personel pembajak dan prajurit TNI AL. Satu dua dan bebrapa pembajak tewas kena tembakan. Semangat heroik dan kesatria serta keberanian para prajurit KRI luar biasa. Saling mendukung dan melindungi, walaupun ada juga prajurit yang tertembak salah satu anggota tubuh. Namun tak ada yang meninggal. Hingga akhirnya, pimpinan Pembajak Tuan Jamaluddin dan anggotanya tewas diujung peluru. Operasi pembebasan ABK Kapal MT Pematang berlangsung dengan vaik dan lancar serta aman. Kerugian personel tidak ada. Para ABK Kapal MT Pematang dievakuasi ke KRI KST. Setelah semua aman dan evakuasi selesai, maka rasa syukur tak terbendung serta kerisauan jiwa pun mereda.
Setelah semua ABK MT Pematang tiba di kapal dan kapal kembali ke pendirat. Merapat kembali ke dermaga. Suasana ceria tak terbendung dan terharu jelas dirasakan oleh para prajurit KRI KST saat dari atas kapal melihat istri dan anak-anak menunggu dan menjemput kedatangan para pahlawan bagi negara dan juga keluarga. Beberapa ABK turun dan Komandan menjadi orang terakhir yang akan turun menjemput bahagia dan rasa syukur berjumpa keluarga.
Itulah akhir kisah singkat dari film The Hostage's Hero. Para keluarga Besar Kodaeral I yang menonton film ini sangat menikmati. Aku mendengar suara jeritan halus ketika terjadinya tembak-menembak antara parjurit KRI dengan para pembajak. Sang istri dan anak kuatir jika salah seorang prajurit kena tembak dan mati. Histeris tak terbendung.
Aku menikmati film yang diangkat dari kisah nyata aksi dari Prajurit KRI KST tahun 2004. Film ini membuka mata para generasi muda dan memberikan pengetahuan sejarah bahwa pernah terjadi kisah heroik yang dilaksanakan oleh prajurit TNI AL dalam menyelamatkan anak bangsa dari tangan pembajak. Film ini bagus dan termasuk film bernuansa sejarah yang sifatnya tindakan kesatria. Namun untuk lebih bagus lagi jika saat kembali dari tugas tiba didermaga, kemudian disambut oleh para pimpinan. Adegan ini harus dimasukkan sehingga nilai filmnya akan menjadi lebih baik dan prajurit morilnya akan meningkat atas sambutan dari para pemimpin TNI AL. Namun secara keseluruhan film tersebut baik dan dianjurkan untuk ditonton bagi seluruh rakyat Indonesia, terkhusus para generasi muda sehingga nantinya dapat menggugah hati untuk bergabung dengan TNI AL dalam rangka pengabdian kepada bangsa dan negara. Oh iya, untuk lain waktu Bapak Kasal nya jangan terlalu muda. Tidak sepadan dengan para Pejabat TNI AL. Alangkah baik tokohnya adalah dari TNI AL dan tidak terlalu jauh usia dari staf Kasal. Kiranya secara perlahan akan dapat tampil dengan baik. Namun jika harus tokoh atau artis yang tampil maka carilah artis yang sebaya usianya dengan para Asisten Kasal.
Sekitar satu jam setengah film berputar. Tepat pukul 18.30 WIB, mendekati waktu maghrib film berakhir. Para penikmat film, keluarga besar Kodaeral I dengan penuh keceriaan dan kebahagian meninggalkan studio. Ibu-ibu dan anak-anak meramaikan studio dengan suara halusnya. Aku yang duduk di seat B 2 tidak berlama-lama dikursi empuk. Aku harus segera ke mushalla mengejar waktu maghrib dan berbuka puasa. Saat azan maghrib tiba minuman dan popcorn yang diberikan dari dinas menjadi pembuka puasaku. Terima kasih ya Allah. Terima kasih Komandan, atas dukungan dan himbauan untuk nonton bareng bagi Keluarga Besar Kodaeral I. Usai berbuka dan salat maghrib maka Aku lanjutkan perjalanan pulang. Hari itu menjadi pengalaman indah pertamaku menonton film di bioskop XXI selama berada di kota Medan.
Catatan:
Tulisan ini diuraikan dari kisah film The Hostage's Hero yang diputar pada Bioskop XXI.
Salam semangat dan bahagia dari @hoesniy







Mantap...