Pertahankan Budaya Leluhur

in Steem SEA2 days ago

1780831277636.jpg


Good people....
Tau kah kalian, keadilan leluhur kita sedang diam-diam diputarbalikkan isinya.

Jika anakmu menganggap keegoisan sebagai kepribadian, dan jika kamu menganggap sikap menerima apa adanya sebagai kewajiban dalam pernikahan, jika kamu selalu tertipu oleh kata-kata motivasi yang menyesatkan hingga bingung, maka tulisan ini harus kamu ingat baik-baik di kepala.

Masuknya pengaruh budaya barat dan para pedagang yang hanya mengejar keuntungan sudah sejak lama bersekongkol, mereka mengubah kearifan leluhur yang berusia ribuan tahun hingga wajah aslinya hancur tak dikenali.

Hanya karena beda satu huruf, kebenaran diputarbalikkan. Hal ini sedang diam-diam menghancurkan pola pikirmu, keluargamu, bahkan menghancurkan akar budaya bangsa kita.



1000118637.jpg

Pertama, besarkan anak laki-laki dengan kemiskinan, besarkan anak perempuan dengan kemewahan.

Berapa banyak orang tua yang benar-benar memaksa putranya hidup menderita, layaknya seorang petapa, dan memanjakan putrinya hingga menjadi wanita yang gila harta.

Padahal aslinya adalah, tempa mental anak laki-laki dalam kesulitan, perkaya budi pekerti anak perempuan. Leluhur ingin kita menempa anak laki-laki dengan agar muncul ambisi dan rasa tanggung jawabnya, agar dia belajar memikul beban dalam setiap tempaan hidup.

Dan memperkaya anak perempuan dengan moral, serta wawasan yang luas, agar dia mengerti harga diri dan tau bahwa dirinya dicintai. Bukan menyuruh kita pelit secara materi kepada anak laki-laki, lalu memanjakan anak perempuan secara berlebihan, hanya karena perbedaan satu huruf ini.

Kedua, laki-laki memakai liontin, perempuan memakai celana. Kalimat ini malah digoreng oleh para pedagang hingga seolah-olah menjadi standar wajib.

Berapa banyak orang yang ikut-ikutan beli, tanpa sadar mereka telah disesatkan. Sebenarnya aslinya adalah laki-laki membawa stempel pejabat, perempuan membawa berkah. Pria jaman dulu jika menjadi pejabat, sering membawa stempel resmi, untuk menunjukkan status dan memperjelas tanggung jawab.

Wanita biasanya memakai perhiasan berukir huruf F atau motif love. Harapannya adalah agar keluarga harmonis dan berkah selalu menyertai.

Ketiga, jika orang tidak memikirkan dirinya sendiri, maka akan dihancurkan langit dan bumi. Ini yang paling parah disalah diartikan, sekarang malah jadi alasan untuk bersikap egois.

Manusia jika tidak melatih dirinya, dan meningkatkan budi pekertinya, maka alam semesta pun tidak akan menerimanya. Jelas-jelas ini ajakan berbuat baik, malah berubah menjadi logika sesat yang mengajarkan kejahatan. Berapa banyak orang yang tertipu kalimat ini hingga menjadi sangat egois.

Ke empat, berkeluarga dulu baru membangun karir. Ini telah menjadi senjata ampuh bagi banyak orang tua untuk mendesak anaknya menikah.

Memaksa anak muda mencari pasangan yang meski prinsip hidupnya tidak cocok, tetap dipaksakan nikah. Hasilnya pernikahan menjadi kacau balau, dan pikiran pun tak fokus untuk memperjuangkan karir.

Padahal kata-kata aslinya adalah, jika bertemu pasangan yang tepat, menikahlah, baru berkarir. Jika bertemu penolong agung, bangunlah karir dulu baru menikah.

Artinya, jika bertemu orang yang tepat, bangunlah keluarga dulu, baru berjuang demi karir. Jika bertemu orang hebat, yang bisa membimbing, baru memikirkan pernikahan.

Kita harus bisa mengikuti situasi, bukan menganggapnya tugas yang wajib selesai saat tenggat waktu tiba.

Berapa banyak kehidupan orang yang menjadi berantakan gara-gara kutipan yang tidak lengkap ini.

Ke lima, "pepatah yang diyakini semua orang, keluarga harmonis, segala urusan lancar."

Ini juga sering dianggap sebagai kedamaian yang didapat dari hasil menahan diri. Banyak keluarga demi terlihat rukun diluar, membuat tradisi kehilangan kehangatan aslinya.

Membuat pernikahan menjadi tugas yang wajib selesai tepat waktu, membuat perasaan menjadi transaksi yang dipaksakan. Membuat keluarga menjadi kerukunan palsu dipermukaan, membiarkan konflik menumpuk makin dalam keheningan.

Bagian mananya ini disebut pewaris budaya ?

Jelas- jelas ini ulah orang berniat jahat yang menukar konsepnya. Mereka membongkar kearifan leluhur hingga berantakan, menggunakan ajaran palsu yang dipotong seenaknya, untuk membuat kita merasa antipati menolaj budaya tradisional. Membuat anak merasa usaha keras tak sebaik menumpang hidup pada orang tua, membuat anak muda merasa pernikahan adalah kuburan. Membuat semua orang merasa ketulusan tak sebaik kelicikan.

Terakhir, saya ingin katakan, budaya leluhur tidak pernah berupa dogma yang kaku. Ia adalah harapan pengasuhan untuk menempa mental anak, adalah tanggung jawab laki-laki memegang jabatan adalah kebijksanaan hidup nikah jika ketemu jodoh tepat, dan terlebih lagi adalah cara mengelola keluarga dimana ayah mengasihi, ibu menghormati.

Kearifan ini perlu kita baca dan telaah dengan rasa hormat, bukan malah membiarkan diri kita disetir orang lain agar tidak rusak oleh ajaran palsu, agar anak-anak paham warisan budaya yang asli, demi rumah kita, demi akar kita, gerakkan jarimu sekarang juga, sebarkan kebenaran atas kesalahpahaman ini. Jangan biarkan kearifan leluhur yang berusia ribuan tahun hancur di tangan generasi kita ini.

Salam kompak selalu.

By @midiagam