Proyek percontohan blockchain untuk administrasi tunjangan di Indonesia dimulai dengan uji coba lokal untuk menilai hambatan dan efektivitas anti-korupsi, lalu diperluas bertahap agar inklusif secara digital dan terintegrasi dengan Satu Data
Fase Program Percontohan dan Implementasi menguji manfaat teoritis blockchain terhadap realitas praktis lingkungan sosial, teknis, dan regulasi di Indonesia. Tahap ini melampaui sekadar meluncurkan kode; tahap ini berfokus pada membangun kepercayaan institusional dan memastikan bahwa sistem tersebut inklusif secara budaya dan geografis.
Percontohan skala kecil berfungsi sebagai "wadah uji regulasi dan teknis." Di Indonesia, titik awal yang ideal adalah distrik tertentu (Kabupaten) atau program bantuan yang ditargetkan, seperti Program Keluarga Harapan (PKH).
Percontohan dimulai dengan kelompok pengguna tertutup, yang terdiri dari sejumlah kecil penerima manfaat yang telah diverifikasi dan pedagang lokal. Pengaturan ini memungkinkan pemantauan secara real-time baik "jalur masuk," di mana penerima manfaat mengajukan bantuan, dan "jalur keluar," di mana dana dibelanjakan atau diterima.
Hal ini juga membantu mengidentifikasi titik-titik gesekan yang tidak dapat diungkapkan dalam pengaturan laboratorium. Ini mungkin termasuk penetrasi smartphone yang rendah di beberapa daerah atau kecepatan internet yang lambat. Proyek percontohan ini menguji apakah sistem Identitas Terdesentralisasi (DID) benar-benar ramah pengguna bagi orang-orang dari segala usia.
Selama fase ini, siklus umpan balik transparansi dibangun. Instansi seperti KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dapat mengoperasikan "node audit" untuk menentukan apakah sistem tersebut secara efektif menandai transaksi mencurigakan, seperti beberapa pembayaran ke satu perangkat.
Peningkatan skala proyek percontohan ke penerapan nasional membutuhkan pendekatan modular untuk menghindari kelebihan beban infrastruktur digital Indonesia. Peluncuran harus mengikuti tahapan geografis, dimulai dengan pusat-pusat kota besar yang memiliki konektivitas kuat dan secara bertahap meluas ke wilayah "3T"—wilayah perbatasan, terluar, dan terpencil—menggunakan solusi blockchain yang mampu beroperasi secara offline atau jembatan verifikasi berbasis SMS.
Seiring perluasan sistem, interoperabilitas dengan kerangka kerja nasional seperti Satu Data Indonesia menjadi penting. Hal ini memastikan blockchain tidak berfungsi sebagai silo tetapi berfungsi sebagai tulang punggung untuk semua program bantuan pemerintah, termasuk subsidi bahan bakar (BBM) dan hibah pendidikan.
Penerapan juga melibatkan pelatihan ekstensif bagi pegawai negeri sipil daerah. Tujuannya adalah untuk mengubah peran mereka dari "entri dan persetujuan data," yang rentan terhadap korupsi, menjadi "pengawasan sistem dan dukungan warga."
Keberhasilan dalam fase ini diukur dengan "Pengurangan Kebocoran," yang mewakili penurunan dana yang hilang akibat kesalahan administrasi atau penerima manfaat fiktif. Pada saat blockchain mencapai implementasi nasional, seharusnya sudah menyediakan dasbor real-time yang anti-perubahan untuk melacak setiap Rupiah yang dibelanjakan, sehingga secara efektif menghilangkan "tindakan penggelapan anggaran."
Mpu Gandring ingin memberantas korupsi di Indonesia dengan teknologi blockchain! Anda ingin mendukung?
- Follow akun Mpu.
- Upvote dan resteem postingan Mpu.
- Share di Instagram, Facebook, X/Twitter dll.
- Biar pemerintah mendengar dan menerapkannya.






Upvoted! Thank you for supporting witness @jswit.