Untuk memberantas korupsi di Indonesia, pemerintah perlu memakai blockchain berizin seperti Hyperledger Fabric atau Corda yang cepat dan skalabel, patuh regulasi, menjaga privasi, serta memungkinkan audit Rupiah tanpa membocorkan identitas
Memilih infrastruktur blockchain yang tepat adalah keputusan paling mendasar dalam membangun sistem distribusi manfaat. Di Indonesia, negara dengan lebih dari 270 juta penduduk dan struktur pemerintahan yang berlapis, keputusan ini menentukan apakah sistem tersebut benar-benar dapat mengurangi korupsi atau hanya mengganti inefisiensi yang ada dengan hambatan digital baru. Pilihan infrastruktur secara langsung memengaruhi bagaimana dana dilacak, dilindungi, dan disalurkan dalam skala nasional.
Tidak ada solusi universal yang cocok untuk setiap konteks. Memilih infrastruktur yang tepat membutuhkan keseimbangan yang cermat antara transparansi, yang penting untuk mencegah penyalahgunaan dana publik, dengan privasi, yang diperlukan untuk melindungi informasi pribadi yang sensitif. Terlalu condong ke salah satu arah berisiko merusak legitimasi atau efektivitas sistem.
Salah satu opsi adalah menggunakan blockchain publik tanpa izin seperti Ethereum, yang mempelopori kontrak pintar. Kekuatan utamanya terletak pada transparansi penuh, memungkinkan siapa pun untuk mengaudit pergerakan dana. Namun, pada skala yang dibutuhkan untuk program nasional Indonesia, Ethereum menghadapi tantangan seperti biaya transaksi yang tinggi dan throughput yang terbatas. Meskipun solusi Layer 2 dapat meningkatkan kinerja dan mengurangi biaya, mengandalkan blockchain publik untuk program kesejahteraan pemerintah seringkali menimbulkan kekhawatiran tentang kontrol dan kedaulatan data nasional.
Pendekatan lain adalah menggunakan platform privat yang diizinkan, seperti Hyperledger Fabric, yang umumnya disukai oleh perusahaan dan pemerintah. Dalam model ini, hanya lembaga yang berwenang, seperti kementerian terkait, bank sentral, dan pemerintah daerah, yang diizinkan untuk mengoperasikan node jaringan. Fitur utama adalah penggunaan saluran, yang memungkinkan transaksi privat antara pihak-pihak tertentu. Hal ini memungkinkan data medis atau keuangan yang sensitif tetap dirahasiakan sambil tetap memastikan bahwa catatan distribusi tidak dapat diubah dan dapat diaudit.
Alternatif ketiga adalah Corda, teknologi ledger terdistribusi yang dirancang khusus untuk lingkungan keuangan yang sangat diatur. Corda beroperasi berdasarkan prinsip kebutuhan untuk mengetahui yang ketat, artinya data transaksi hanya dibagikan kepada pihak-pihak yang terlibat langsung dan regulator yang diperlukan. Desain ini selaras dengan kerangka perlindungan data pribadi Indonesia, karena hanya pengirim, penerima, dan auditor yang ditunjuk yang dapat melihat detail transaksi, bukan seluruh jaringan.
Kecepatan transaksi dan skalabilitas merupakan pertimbangan penting karena program seperti Bantuan Langsung Tunai dapat memerlukan pemrosesan jutaan transaksi secara bersamaan. Platform harus mampu menopang throughput transaksi yang tinggi. Blockchain publik mungkin kesulitan menangani beban ini, sedangkan jaringan berizin seperti Hyperledger Fabric dapat dioptimalkan untuk mengirimkan dana dengan cepat, memastikan bahwa inisiatif seperti Dana Desa menjangkau penerima manfaat di daerah terpencil dalam hitungan detik, bukan jam.
Privasi dan keamanan data sama pentingnya di bawah Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi Indonesia, yang mewajibkan pemerintah untuk melindungi informasi pribadi. Buku besar publik yang sepenuhnya transparan dapat mengekspos warga negara yang rentan terhadap identifikasi dan penyalahgunaan data mereka. Oleh karena itu, infrastruktur harus mendukung teknologi privasi canggih seperti bukti tanpa pengetahuan (zero-knowledge proofs), yang memungkinkan sistem untuk mengkonfirmasi kriteria kelayakan tanpa mengungkapkan detail pribadi yang tepat, seperti angka pendapatan yang tepat, di blockchain.
Kepatuhan terhadap peraturan dan interoperabilitas juga memainkan peran penting. Sistem yang dipilih harus terintegrasi dengan lancar dengan basis data nasional yang ada, termasuk catatan sipil dan sistem informasi kesejahteraan sosial, yang banyak di antaranya bergantung pada basis data lama dan API pemerintah. Selain itu, seiring Bank Indonesia terus menjajaki pengenalan rupiah digital, pemilihan infrastruktur yang nantinya dapat terhubung ke mata uang digital bank sentral menawarkan ketahanan jangka panjang. Platform seperti Hyperledger Fabric dan Corda sangat cocok untuk integrasi masa depan semacam ini.
Dengan mengadopsi pendekatan blockchain yang diizinkan atau hibrida, Indonesia dapat mencapai standar tata kelola anti-korupsi yang tinggi. Sistem seperti itu dapat memberikan transparansi yang cukup bagi auditor untuk melacak setiap rupiah sekaligus memastikan bahwa data pribadi setiap warga negara tetap terlindungi.
Mpu Gandring ingin memberantas korupsi di Indonesia dengan teknologi blockchain! Anda ingin mendukung?
- Follow akun Mpu.
- Upvote dan resteem postingan Mpu.
- Share di Instagram, Facebook, X/Twitter dll.
- Biar pemerintah mendengar dan menerapkannya.






Upvoted! Thank you for supporting witness @jswit.