Buto Ijo
Buto Ijo adalah makhluk mitologis yang sangat dikenal di budaya Jawa, muncul dalam pewayangan, cerita rakyat, dan kepercayaan mistis.
Asal Usul
Dalam pewayangan, Buto Ijo termasuk golongan Asura (bukan dewa) atau raksasa. Menurut catatan, wayang berbentuk raksasa termasuk Buto Ijo mulai dibuat pada masa Mataram. Sultan Agung membuat wayang raksasa dengan taji dan rambut geni, kemudian Amangkurat I menciptakan wayang Buto Ijo pada tahun 1634 dengan sengkalan "Wayang Buta Ing Wana Tunggal".
Ada juga versi cerita rakyat yang menyebut Buto Ijo berasal dari seorang pangeran yang dikutuk karena kesalahan, atau sebagai roh penunggu alam yang telah ada sejak zaman dahulu.
Karakteristik dan Penampilan
Sosoknya tinggi besar, seluruh tubuh berwarna hijau, dengan rambut gimbal keriting awut-awut.
Wajahnya seram: hidung besar melengkung seperti tepi perahu, mata bulat besar (bahkan disebut menyala merah), mulut lebar, dan memiliki gigi serta taring panjang yang menjulur keluar bibir.
Tangan dan kakinya ditutupi bulu panjang lebat, dan sering digambarkan memegang senjata seperti badama (parang) atau keris.
Peran dan Makna
Sebagai Karakter Negatif
Dalam cerita rakyat, Buto Ijo sering dijadikan simbol kejahatan, kekerasan, dan keserakahan manusia. Ada juga interpretasi yang menjadikannya metafora imperialisme asing yang menindas dan menghisap sumber daya.Sebagai Penjaga Gaib
Di beberapa daerah seperti Jawa Barat, Buto Ijo dipercaya sebagai penjaga hutan yang melindungi alam dari penebang liar dan pemburu liar. Namun di Soloraya, ia juga dikaitkan dengan tempat mistis dan pesugihan, bahkan dipercaya menculik anak-anak atau membutuhkan tumbal nyawa.
Tempat yang Dihubungkan dengan Buto Ijo
Di Soloraya, terdapat beberapa tempat yang dipercaya sebagai sarang Buto Ijo seperti Waduk Gajah Mungkur (Wonogiri), Gunung Kemukus, Jembatan Kreteg Bacem (Solo-Sukoharjo), dan Waduk Cengklik.
.jpeg)