Yang Tersisa Sesudah Berziarah
Apakabar rekan semuanya
Ini edisi dibuang sayang. Perjalan pulang kampung saat lebaran. Masih menyisakan banyak agenda. Rata-rata belum sempat kita tayang di platform ini. Makanya sayang jika diabaikan begitu saja. Apalagi itu masih terkait hari raya idul fitri 1447 hijriyah.
Pada hari kedua lebaran, kami sekeluarga ziarah kubur. Posisinya di sisi kiri Terminal Terpadu Peureulak. Kuburan umum ini sebesar lapangan bola. Berada di Pasir Putih, Kec. Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, Aceh 24453.
Kami datang ke sini sudah sedikit terlambat. Ini kuburan keluarga isteri. Saat kami tiba sudah banyak keluarga yang berziarah. Bahkan ada yang sudah gulung tikar. Bongkar tenda. Setelah menunggu sejenak di balai-balai, baru berjalan ke pusara.
![]() | ![]() |
|---|
Makam yang kami tuju cukup biasa. Sederhana saja. Tidak ada nisan berhias atau pondasi yang lazim kita temua di kuburan-kuburan lain. Bahkan, boleh dibilang tak ada pembatas. Yang ada cuma nisan beton yang terpaku di tanah dengan grafiti nama di atasnya.
Itulah yang menjadi penanda. Kuburan mertua ada di salah satunya. Namanya tercatat di sini. Di sini semuanya keluarga bin Ya'cob. Melihat kondisinya, kawasan ini sudah dibersihkan. Di sana masih terlihat rumput hangus. Bukan karena dibakar. Tapi, rumput mati karena diracun. Roundup.
Tidak ada pohon rindang. Apalagi pohon besar yang berumur seratus atau puluhan tahun. Posisi kami berteduh persis di samping pohon sawit.
Pohon sawit yang terlihat matang ini seperti belum berbuah maksimal. Tapi dari kondisi fisiknya, ia terlihat mendapat perawatan. Ada sulur bekas di potong.
Namun, sawit menjadi isu sensitif dalam beberapa bulan terakhir. Apalagi setelah kejadian yang menimpa 18 kabupaten kota di Aceh pada 26 November 2025 lalu. Musibah banjir dan longor.
Kawasan paling parah adalah Aceh Tamiang. Kawasan lain seperti Aceh Utara, Bireuen dan Pidie Jaya juga mengalami hal yang sama. Bahkan ada beberapa daerah di kawasan terdampak, warga tidak tahu hendak ziarah kemana. Sebab, tanah kuburan sudah digerus banjar bandang.
Tak ada lagi nisan. Bahkan ada beberapa tempat yang lebih parah. Tanah kuburan sudah menjadi sungai. Lalu, kemana mereka ziarah? Selain cuma bisa berdoa saja di rumah masing-masing.
Selain itu, apa yang bisa dilakukan?
Bagi mereka yang masih punya tanah kuburan, tentu tidak perlu was-was. Meski terkadang, mereka datang hanya setahun sekali. Seperti yang kami lakukan. Sehingga kesempatan membersihkan pun tidak bisa dilakukan enam bulan sekali atau kapan saja.
Warga setempat pun, terkadang membersihkan kuburan itu saat kunjungan berziarah. Seperti yang terlihat dalam foto di bawah ini.
Cuaca panas, juga menjadi sebuah kendala bagi penziarah. Sehingga mereka pun harus bersusah payah memasang tenda darurat. Setelah sesuai berdoa lalu dibongkar. Tak ada yang bertahan. Semua sementara.
Namun yang pasti, semua kita pasti akan menyusul mereka. Hanya saja kapan, dan dimana, itu masih rahasia Allah SWT. Namun, sebelum menuju ke sana, kita harus mempersiapkan diri lebih dulu.
Terima kasih sudah membaca postingan saya. Mohon dukungannya






Terima kasih atas dukungan anda...
Welcome back, @munaa.
Terima kasih senior...
Saban-sama.